Showing posts with label Mengenal Quran. Show all posts
Showing posts with label Mengenal Quran. Show all posts
Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'an

Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'an


Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'anSesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan al-Quran kepada manusia bukan hanya sekedar untuk dibaca, tapi juga agar mereka memahami, mentadabburi, dan mengamalkannya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah. dalam al-Fawaid mengatakan bahwa kita akan mendapat manfaat dari al-Qur’an apabila terpenuhi hal-hal sebagai berikut: pemberi pengaruh [al-Qur’an itu sendiri], tempat yang menerimanya [hati yang hidup], dan tiada hal yang menghalang (tiada Penghalang antara Al Quran dan Pembacanya).
Ketiga aspek ini diterjemahkan kedalam lima poin syarat agar kita dapat mengambil dan memperoleh manfaat dari Al Quran sebagai berikut:
1.       Bersikap Sopan terhadap Al Quran
Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'an

Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al Araf: 204)
Jadi dari ayat ini dapat kita pahami bahwa Allah memerintahkan kita agar mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, jika dibacakan Al Quran baik dalam sholat maupun di luar sholat agar kita mendapatkan rahmat dari Allah SWT.
Bersikap sopan terhadap al Quran ini dapat diwujudkan dengan cara niat yang baik, kebersihan hati dari penyakit-penyakit hati, mengosongkan hati dari hal-hal yang menyibukkannya, kesucian jasmani dari najis, dan mengkhususkan pikiran bersama al-Qur’an.
·         Berniat Baik
Hal yang pertama harus kita lakukan agar dapat memperoleh manfaat dari Al Quran adalah dengan memperbaiki niat kita ketika akan membaca Al Quran. Niatkan pada diri kita, bahwa kita membaca Al Quran adalah untuk mendapat ridho Allah SWT, mendapatkan surga-Nya, terbebas dari neraka, dan mendapatkan pahala dari-Nya.
Jauhkan diri kita dari sikap atau niat ingin dipuji kalau kita rajin membaca Al Quran dan pandai baca al Quran. Jangan sampai kita seperti kisah 3 orang yang dianggap “super soleh” saat hari dimana kita ditentukan masuk neraka atau surga (seperti keterangan hadis di bawah ini). Hal ini pun guna menghindarkan kita dari golongan perusak agama, yaitu menjadi orang yang tidak paham, orang yang tidak ikhlas, dan orang yang tidak beramal.
*******
Abu Hurairah ra. meriwayatkan, ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid didatangkan di hadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.
Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku berperang demi membela agamamu.” Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu berperang supaya orang-orang menyebutmu Pahlawan.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Seorang penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dan rajin membaca Al Quran didatangkan dihadapan Allah. Lalu ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengamalkannnya, dan aku membaca Al Quran demi mencari ridha-Mu.”
Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu mencari ilmu supaya orang lain menyebutmu orang alim, dan kamu membaca Al Quran supaya orang lain menyebutmu orang yang rajin membaca Al Quran.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Selanjutnya, seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan terkenal karena kedermawanannya, didatang dihadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.
Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai, kecuali aku sedekah karena-Mu.” Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu melakukan itu semua agar orang-orang menyebutmu orang dermawan dan murah hati.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah menepuk pahaku seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalah manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di Hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim)
*******
·         Bersih Hati dan Jasad
Selain niat yang baik kita pun harus membersihkan hati kita dari penyakit-penyakit hati, salah satunya dari sikap menyepelekan/menghina mushaf Al Quran itu sendiri. Misalnya kita harus menjaga mushaf Al Quran tersimpan dengan baik dan tidak diperlakukan sebebas mungkin seperti barang atau benda yang lain. Ditambah kesucian jasmani diri kita dari najis harus sangat diperhatikan. Artinya usahakan diri kita berinteraksi dengan Al Quran dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun hadas besar.
·         Konsentrasi Penuh
Dan poin terakhir dari bersikap sopan terhadapnya ialah, dengan mengosongkan hati dari hal-hal yang menyibukkannya dan mengkhususkan pikiran bersama Al Quran. Sederhananya ialah kita harus konsentrasi penuh ketika berinteraksi dengan Al Quran. Anggaplah Al Quran ini merupakan SMS, pesan, ataupun surat spesial yang Allah berikan kepada diri kita sehingga kita akan membacanya dengan penuh penghayatan dan membuat kita senang dengannya
2.       Baik dalam Talaqqi (Talaqqi dengan Sebaik-baiknya)
Maksud dari hal ini adalah kita harus menyiapkan kondisi terbaik kita ketika akan berinteraksi dengan Al Quran. Hal ini dilakukan dengan hati yang khusyu’; ta’zhim [pengagungan], dan semangat untuk melaksanakan apa yang diperintahkannya.
·         Hati yang Khusyu’
Salah satu cara untuk mendapatkan hati yang khusyu adalah dengan mengingat mati, hal ini Allah terangkan dalam Al Quran sebagai berikut:
Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'an
  1. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,
  2. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al Baqarah: 45-46)
Dalam mengingat mati, kita dapat melakukannya dengan beberapa cara yaitu dengan membuat atau menghadiri majelis dzikrul maut, ziarah kubur, atau yang paling ekstrim yang pernah dicontohkan oleh Muhammad bin Al Munkadir (bisa dicari sendiri kisahnya) yaitu dengan membuat kuburan di dalam rumah. Mengapa beliau melakukan hal itu, karena menurut beliau jika 1 hari saja tidak mengingat kematian maka hati beliau akan terasa keras membatu. Lalu bagaimana dengan kita yang entah hanya berapa kali ingat dengan kematian?
·         Ta’zhim (Mengagungkan Al Quran)
Hal ini seperti yang telah dicontohkan sebelumnya yaitu anggap Al Quran ini surat yang dikhususkan Allah untuk diberikan kepada kita. Berikan perhatian yang penuh kepadanya, jangan disepelekan.
·         Semangat untuk Melaksanakan Apa yang Diperintahkannya
Saat akan membaca siapkan diri kita untuk mendengar, menerima, dan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan apa yang dilarang-Nya.
3.       Memperhatikan Tujuan Asasi Diturunkannya Al Quran
Tentunya sebelumnya kita harus menyiapkan diri kita agar siap mendapat petunjuk dari interaksi kita dengan Al Quran. Karena tujuan asasi atau tujuan pokok diturunkannya Al Quran adalah sebagai berikut:
  • Sebagai Petunjuk Menuju Ridha Allah
  • Membentuk Kepribadian yang Islami
  • Pemimpin Manusia (Memandu Umat Manusia tentang Tata Cara Hidup)
  • Membentuk Masyarakat yang Islami
Ibarat jika kita memiliki buku petunjuk membuat pesawat yang paling benar dari awal sampai akhir, dan kita memiliki kesiapan untuk membuat pesawat itu tentu saja pesawat yang bagus akan dihasilkan dengan sempurna. Sama halnya dengan Al Quran, Al Quran adalah buku petunjuk yang benar dari awal sampai akhir tak ada cacat sedikitpun. Jika kita siap melaksanakan apa yang ada dalam buku petunjuk tersebut maka hidup kita pun akan menghasilkan sesuatu yang sempurna. Contohnya saja saat kekhalifahan Abu Bakar yang mengamalkan Al Quran sebagai buku petunjuk, dan Abu Bakar siap menggunakannnya. Hasil yang diarasakan pun akan sempurna.
4.       Mengikuti Cara Interaksi Para Sahabat ra. dengan Al Quran
Merekalah generasi terbaik, mereka mencapai predikat itu karena interaksinya yang sangat baik bersama Al Quran. Dan cara mereka dalam berinteraksi dengan Al Quran itu adalah:
·         Pandangan yang Menyeluruh
Maksudnya adalah mereka (para sahabat) tidak memahami ayat-ayat secara terpisah karena ayat satu dengan yang lain saling terikat. Karena pandangan yang parsial terhadap Al Quran akan memunculkan anggapan bahwa ada kontradiksi diantara ayat-ayatnya. Hal ini yang mengakibatkan orang akan mengimani sebagian ayat dan mengingkari sebagian yang lain. Padahal, mengimani sebagian ayat dan mengingkari sebagian yang lain adalah kekafiran yang sebenarnya. Rasulullah SAW bahkan melarang kita mempertentangkan satu ayat dengan ayat lainnya. Sama halnya dengan Islam, jangan sebagian kehidupan kita saja yang berlandaskan islam, tapi segala aspek kehidupan kita sebaiknya berlandaskan islam. Walau saat ini belum, tapi kita jangan sampai pernah hilang harapan untuk itu.
·         Memasuki Al Quran tanpa Membawa Persepsi, Pemahaman, dan Keyakinan-keyakinan Masa Lalu
Sikap ini dilakukan agar apa yang akan dipahaminya dari Al Quran tidak dibatasi oleh pemahaman dan persepsi-persepsi lamanya. Jadi kita harus terima Al Quran apapun itu, tanpa ada intervensi-intervensi dari pemahaman kita terdahulu. Dan Al Quran lah yang mulai jadi sandaran hukum mulai dari saat ini juga.
·         Kepercayaan Mutlak kepada Al Quran
Apa yang dikatakan Al Quran sebagai haram, mereka mengatakannya sebagai haram. Sebaliknya, apa yang Al Quran katakan sebagai halal, mereka mengatakannya sebagai halal. Bahkan mereka pun percaya sepenuhnya pada hal-hal yang kadang belum mereka ketahui atau bertentangan dengan logika berpikir mereka. Karena logikalah yang harus menyesuaikan dengan Al Quran, bukan Al Quran yang dipaksakan untuk selaras dengan logika mereka. Kita harus percaya bahwa seluruh isi dari Al Quran itu adalah benar, dan jangalah pernah merasa bahwa Allah salah.
·    Merasakan bahwa Ayatnya (yang Dibaca/Didengar) Ditujukan kepadanya
Imam Ahmad mengatakan bahwa sipa saja yang ingin berdialog dengan Allah hendaklah ia membaca Al Quran. Sayyid Qutub mengatakan bahwa hendaklah ia merasakan seakan-akan wahyu itu sedang turun kepadanya secara langsung.
5.       Tiada Penghalang
Yaitu tidak adanya hal-hal yang menghalangi terjadinya pengaruh Al Quran secara efektif, diantaranya:
·    Kesibukkan hati dengan hal/urusan lain
Saat membaca Al Quran kita tidak disibukkan dengan kegiatan lain seperti tugas, nonton TV, SMS, Chatting, dan lain-lain. Fokus kita hanya tertuju pada interaksi dengan Al Quran.
·   Ketidakpahamannya terhadap makna dan pesan-pesan yang terkandung di dalam ayat yang dibaca atau didengar
Hal ini yang paling sering ada diantara kita, karena kita tidak paham bahasa arab, oleh karena itu cobalah kita mulai untuk belajar bahasa arab agar kita paham Al Quran itu sendiri. Atau minimalnya bacalah Al Quran disertai dengan terjemah dan tafsirnya.
·         Berpaling kepada selain Al Quran
Hal ini yang paling ditakutkan, kita harus menghindari hal ini, karena berpaling kepada selain Al Quran bukan hanya akan mengakibatkan kita tidak akan mendapat manfaat Al Quran itu sendiri, melainkan akan menghantarkan kita kepada kekafiran. Na’udzubillah…! Semoga Allah menjaga niat kita, memberikan kekuatan dan memudahkan jalan bagi kita untuk dapat berinteraksi dengan Al Quran, serta mendapatkan manfaat darinya.
Read More
Bahaya Melupakan al Qur'an Atau Kitab Allah

Bahaya Melupakan al Qur'an Atau Kitab Allah

Bahaya Melupakan al Qur'an Atau Kitab AllahMelupakan al Qur’an  (nisyanul Qur’an) sama artinya engan menjauhkan diri dari manfaatnya, dan bahkan melecehkan kedudukannya. Orang –orang yang melupakan atau mengabaikan al Qur’an (kitab-kitab Allah) di dunia maka Allah juga akan mengabaikan dirinya baik di dunia terlebih lagi di akhirat kelak. ini dapat kita lihat pada firman Allah pada surat Taha ayat 126 yang artinya “Dia (Allah) berfirman: ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan”.
Mengabaikan al Qur’an akan mengundang berbagai macam bahaya dalam kehidupan manusia sebagai mana disebutkan dalam berbagai ayat al Qur’an yang diantaranya sebagai berikut:
1.       Kesesatan yang nyata (dhalalum mubin)
Al Qur’an adalah petunjuk hidup yang mencerahkan  kehidupan manusia. Barang siapa yang tidak mengambilnya sebagai petunjuk hidup berarti ia telah memilih petunjuk lain yang menyesatkan, karena petunjuk al Qur’anlah sebenar-benarnya petunjuk dalam kehidupan ini. Kenapa ? Karena Allah yang menurunkan al Qur’an, dan Allah juga yang menciptakan manusia dan alam semesta ini. Maka sudah selayaknya petunjuk atau aturan hidup di dunia ini sesuai dengan buku petunjuk sang pembuatnya, karena Dialah yang lebih tahu tentang makhluk ciptaannya.
Dalil
Al Qur’an surat  an Nisa ayat 60 : “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada thagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Thagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya”
Al Qur’an surat an Nisa ayat 115 : “Dan barang siapa yang menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali”
2.       Kesempitan dan kesesakkan (dhayyiqun harajun)
Orang-orang yang tidak mendapatkan petunjuk dari sang pembuat atau pencipta dirinya, maka ia akan merasakan dada yang sempit bak terhimpit seakan-akan naik langit yang hampa.
Dalil
Al Qur’an surat 6 ayat 125 : “Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”
3.       Kehidupan yang sempit (ma’isyatun dhankun)
Karena tidak mengikuti petunjuk Allah yang telah menciptakannya, maka kehidupan manusia akan dipenuhi masalah yang seolah-olah tanpa solusi.
Dalil
Al Qur’an surat Taha ayat 124 : “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku (al Qur’an), maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”
4.       Kebutaan mata hati (umyul bashirah)
Orang yang menutup mata (buta ) terhadap al Qur’an bukan karena matanya yang buta, melainkan karena hatinyalah yang gelap tidak bisa melihat petunjuk al Qur’an.
Dalil
Qur’an surat 22 ayat 46 : “Maka tidak pernahkan mereka berjalan di muka bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada”
5.       Kekerasan hati (qashwatul qulub)
Hati yang lalai dari al Qur’an akan menjadikannya tidak bisa tersentuh al Qur’an. Jika demikian berarti hatinya sudah mengeras, bahkan bisa lebih keras dari pada batu sekalipun.
Dalil
Al Qur’an surat 57 ayat 16 : “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak diantara mereka menjadi orang-orang yang fasik”
6.       Kezhaliman dan kehinaan ( zhulmun wa dzullun)
Melupakan al Qur’an berarti meninggalkan hal yang bermanfaat dan menggantinya dengan kesesatan. Padahal itu merupakan tindakkan kezhaliman terhadap diri dan orang lain, yang akhirnya akan menghinakan diri di mata Allah dan manusia.
Dalil
Al Qur’an surat 3 ayat 112 : “Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat – ayat Allah dan membunuh para nabi, tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas”
Al Qur’an surat 32 ayat 22 : “Dan siapakah yang lebih zhalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa”
7.       Menjadi temannya syaithan (shuhbatusy syaithan)
Orang-orang yang meninggalkan kitab suci Tuhannya, sangat disenangi oleh syaithan. Maka orang-orang yang demikian akan menjadi teman yang loyal kepadanya.
Dalil
Al Qur’an surat 43 ayat 36 : “Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (al Qur’an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya”
Al Qur’an surat 25 ayat 29 : “Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (al Qur’an) ketika (al Qur’an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia”
8.       Menjadi lupa diri (an nisyan)
Melupakan al Qur’an sama dengan melupakan diri sendiri, ia akan menelantarkan dirinya dalam jurang kelalaian dan ketersesatan.
Dalil
Al Qur’an surat 59 ayat 19 : “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”
9.       Menjadi pendosa (al fusuq)
Jika telah melupakan al Qur’an, ia tidak akan mendapat hidayah, akhirnya terjerumus pada perbuatan dosa.
Dalil
Al Qur’an surat 2 ayat 26 sampai 27 : “Sesunguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan  seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, ‘apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?’ Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banya (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang yang fasik. (yaitu) orang-orang yang melangar perjanjian dengan Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”
Al Qur’an surat 13 ayat 19 sampai 20 : “Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran. Sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian.”
10.   Menjadi munafik ‘ular berkepala dua’ (an nifaq)
Melupakan al Qur’an kadang tidak berarti tidak tahu kebenaran, karena unsur kekufuran seseorang menepis kebenaran itu dan lebih suka mencari keuntungan nafsunya, di lain waktu ia berpura-pura membela kebenaran untuk mencari keuntungan nafsu pula.
Dalil
Al Qur’an surat 4 ayat 61 sampai 63 : “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul’, (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu. Maka bagaimana halnya  apabila (kelak) musibah menimpa mereka (orang munafik) disebabkan perbuatan tangannya sendiri,kemudian mereka datang kepadamu (Muhammad)  sambil bersumpah, ‘Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain kebaikan dan kedamaian’. Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Alah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka nasehat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya”
Al Qur’an surat 24 ayat 49 sampai 50 : “Tetapi, jika kebenaran di pihak mereka, mereka datang kepadanya (Rasul) dengan patuh. Apakah (ketidakhadiran mereka karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau – kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zalim kepad mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim”
Semua bahaya yang disebutkan di atas tidak lain akan menyengsarakan (asy syaqawah) orang-orang yang lain dari al Qur’an, baik ketika hidup di dunia maupun di akhirat kelak.
Read More
Tuntutan Iman Kepada al Qur'an

Tuntutan Iman Kepada al Qur'an

Tuntutan Iman Kepada Al Qur'an
Setiap orang Islam diwajibkan untuk mengimani rukun iman. Di antara rukun iman itu adalah iman kepada kitab Allah yang dalam hal ini adalah al Qur’an. Mengimani kitab Allah ini (al Qur’an) bukannya tanpa konsekuensi bagi seorang muslim. Adapun konsekuensi dari iman kepada al Qur’an ini adalah dengan mengakrabi al Qur’an, mendidik diri dengannya, tunduk menerima hukum-hukumnya, menyeru orang kepadanya, menegakkannya di bumi Allah ini.
1.       Mengakrabi  al Qur’an (al unsubihi)
Cara mengakrabi al Qur’an yaitu dengan melakukan interaksi yang intens dengan al Qur’an, dengan cara mempelajarinya (ta’allumuhu) dan mengajarkannya (ta’limuhu) kepada orang lain meliputi:
  • Bacaannya (tilawatan) agar sesuai dengan makhraj dan tajwidnya
Dalil
Al Qur’an surat 2 ayat 121 : “Orang-orang yang telah kami beri kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barang siapa ingkar kepadanya, mereka itulah orang-orang yang rugi”
Al Qur’an surat 35 ayat 29 : “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (al Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi”
  • Pemahamannya (fahman) yaitu dengan mempelajari dan mengajarkan maknanya dengan baik, tekstual maupun kontekstual sesuai pemahaman para salafushalih.
Dalil
Al Qur’an surat 47 ayat 24 : “Maka tidakkah mereka menghayati (memahami) al Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?”
Al Qur’an surat 4 ayat 82 : “Maka tidakkah mereka memahami (menghayati, mendalami) al Qur’an? Sekiranya (al Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya”
Al Qur’an surat 38 ayat 29 : “Kitab (al Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati (memahami) ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran”
  • Penerapannya (tathbiqan) yaitu dengan mempelopori penerapannya dalm kehidupan dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang serupa.
Dalil

Al Qur’an surat 17 ayat 106 : “Dan al Qur’an (kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap”

2.       Mendidik diri dengannya (tarbiyatun nafsi bihi)
Yaitu berusaha mendidik diri supaya sifat-sifat dan karakternya sesuai al Qur’an, sehingga men-shibghah  atau mencelupkan dirinya secara utuh dengan al Qur’an.
Dalil
Al Qur’an surat 3 ayat 79 : “Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia ‘Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah’ tetapi (dia akan berkata) ‘Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya’”
Al Qur’an surat 2 ayat 151 : “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (al Qur’an) dan hikmah (sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui”

3.       Tunduk menrima hukum-hukumnya (at taslimu li ahkamihi)
Yaitu dengan cara mematuhi dengan segala ketundukan dan lapang dada kepada hukum-hukum yang ada di dalam al Qur’an, sebagai  bukti ketundukannya kepada Allah swt
Dalil
Al Qur’an surat 33 ayat 36 : “Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata”
Al Qur’an surat 4 ayat 65 : “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muahammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan  mereka menerima dengan sepenuhnya”
Al Qur’an surat 5 ayat 44 : “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Kitab Taurat  di dalamnya  (ada) petunjuk dan cahaya. Yang dengan Kitab itu para Nabi yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada Ku. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat Ku dengan harga murah. Barang siapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir”
Al Qur’an surat 5 ayat 45 : “Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi dan luka-luka (pun) ada qisasnya (balasan yang sama). Barang siapa melepaskan (hak qisas) nya, mak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim”
Al Qur’an surat 5 ayat 47 : “Dan hendaklah pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah , maka mereka itulah orang-orang fasik”
Al Qur’an surat 5 ayat 50 : “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) Siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya) ?”

4.       Menyeru orang kepadanya (ad da’watu ilaihi)
Yaitu dengan mengajak orang lain untuk mengikuti segala petunjuk al Qur’an dengan cinta, kepedulian, dan rasa tanggung jawab sesama muslim.
Dalil
Al Qur’an surat  16 ayat 125 : “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siap yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siap yang mendapat petunjuk”

5.       Menegakkannya di bumi (iqamatuhu fil ardh)
Yaitu menegakkan al Qur’an dalam dirinya sebagai individu, dalam kehidupan sosial politik sebagai anggota komunitas muslimin.
Read More
Nama – Nama Al Qur’an dan Kedudukan al Qur'an Dalam Kehidupan Manusia

Nama – Nama Al Qur’an dan Kedudukan al Qur'an Dalam Kehidupan Manusia

Alqur’an sebagai kitab suci ummat Islam memiliki beberapa nama yang disebutkan di dalam berbagai ayat alqur’an itu sendiri. Berikut ini merupakan nama nama yang diberikan kepada al Qur’an  beserta ayat – ayat  yang menjelaskannya.
1.  Al Kitab, yang artinya adalah yang ditulis. Ditulis bermakna agar kita membacanya. Setelah Rasulullah saw wafat, al Qur’an ditulis oleh para penghafal al Qur’an dari kalangan para sahabat untuk mengabadikan keasliannya.
Dalil
Qur’an surat 2 ayat 2 : “Kitab (al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa"
2.   Al Huda, yang artinya adalah petunjuk bagi orang – orang yang beriman. Sesungguhnya petunjuk Allah swt merupakan petunjuk yang haq (benar), karena itu setiap mukmin akan menyikapinya dengan sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami taat)
Dalil
Qur’an surat 2 ayat 2 : “Kitab (al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa
Qur’an surat 2 ayat 185 : “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)...
3.   Al Furqan, yang artinya pembeda  antara yang haq dan yang batil. Al Qur’an yang dibaca, dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari akan melahirkan generasi yang mampu membedakan antara mana yang haq (benar) dan mana yang salah (bathil) sehingga tidak terjerumus dalam kesesatan dan kemaksiatan.
Dalil
Qur’an surat 25 ayat 1 : “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Furqan (al Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)
4.   Ar Rahmah, yang artinya al Qur’an merupakan rahmat dari Allah untuk mebahagiakan umat manusia di kehidupan dunia dan di akhirat.
Dalil
Qur’an surat 17 ayat 82 : “Dan Kami turunkan dari al Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zhalim (al Qur’an itu ) hanya akan menambah kerugian
Nama – Nama Al Qur’an dan Kedudukan al Qur'an Dalam Kehidupan Manusia5.    An Nur, yang artinya cahaya kebenaran yang menerangi kehidupan manusia agar tidak tersesat  dalam menempuh jalan kehidupan.
Dalil
Qur’an surat 5 ayat 15 sampai 16 : “Wahai ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), Sungguh Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya (al Qur’an) dari Allah, dan Kitab (al Qur’an) yang menjelaskan
6.  Ar Ruh, yang artinya wahyu Allah yang disampaikan melalui malaikat jibril kepada Nabi Muhammad saw
Dalil
Qur’an surat 42 ayat 52 : “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (al Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan al Qur’an  itu cahaya (Nur), dengan itu Kami memberi petunjuk bagi siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus
Qur’an surat 40 ayat 15 : “(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang memiliki Arsy, yang menurunkan ruh (wahyu) dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya agar memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)
7.       Asy Syifa’ yang artinya obat penawar bagi semua penyakit yang ada di dalam hati manusia baik yang bersifat fisik (badan) maupun non fisik (jiwa)
Dalil
Qur’an surat 10 ayat 57 : “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (al Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi segala penyakit yang ada di dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang  yang beriman.
8.    Al Haq, yang artinya kebenaran hakiki yang diturunkan dari alhaq (Alah swt) kepada nabi-Nya melalui malaikat Jibril sebagai patokan hukum bagi semua manusia
Dalil
Qur’an surat 2 ayat 147 : “Kebenaran (al Qur’an) itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu
9.   Al Bayan yang artinya penjelas atas berbagai hal terkait dengan manusia dan seluruh alam semesta baik lahir maupun yang ghaib.
Dalil
Qur’an surat 3 ayat 138 : “Inilah (al Qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa
10. Al Mau’izhah yang artinya nasehat dan wejangan kehidupan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia
Dalil
Qur’an surat 3 ayat 138 : “Inilah (al Qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa
Dan Allah telah memudahkan kita untuk mengambil pelajaran dan nasehat dari al Qur’an ini, dan dengan kalimat retorika Allah bertanya kepada kita dalam ayat ayat berikut ini
Qur’an surat 54 ayat 17 : “Dan sungguh, telah Kami mudahkan al Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Qur’an surat 54 ayat 22 : “Dan sungguh, telah Kami mudahkan al Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran
11.   Adz Zikr yang artinya peringatan kepada orang-orang kafir berupa akibat buruk atas penolakkan dan pendustaan mereka.
dalil
Qur’an surat 15 ayat 9 : “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz zkir (al Qur’an), dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya


Adapun kedudukan al Qur’an bagi umat Islam dan bahkan manusia adalah sebagai berikut:
1.    Kitab berita dan kabar (kitabun naba’i wal akhbar) tentang berbagai hal yang telah, sedang dan akan terjadi baik yang terindra maupun yang tidak (ghaib)
Dalil
Qur’an surat 78 ayat 1 – 2 : “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanaya? Tentang berita yang besar (hari berbangkit)”
2.     Kitab hukum dan syari’at (kitabul hukmi wasy syari’ah) karena di dalamnya memuat hukum dan perundangan yang harus dipatuhi dan diterapkan dalam kehidupan manusia tanpa kecuali.
Dalil
Qur’an surat 5 ayat 49 : “Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keingingan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka mempedayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”
Qur’an surat 5 ayat 50 : “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) Siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya) ?”
3.       Kitab jihad (kitabul jihad) karena di dalamnya menggelorakan  semangat jihad dan sekaligus panduan bagi para mujahidin (orang orang yang berjihad di jalan Allah)
Dalil
Qur’an surat 29 ayat 69 : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik”
4.       Kitab tarbiyah (kitabut tarbiyah) karena di dalamnya terdapat petunjuk petunjuk yang mendidik orang orang yang beriman agar menjadi seorang mukmin yang lebih baik
Dalil
Qur’an surat 3 ayat 79 : “Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia ‘Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah’ tetapi (dia akan berkata) ‘Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya’”
5.    Pedoman hidup (minhajul hayah) karena di dalamnya terdapat panduan hidup bagi orang orang yang beriman.  Jadi keimanan dan pola hidup orang-orang yang beriman sudah ada manhajnya dari Allah buka sesuatu yang menduga-duga atau mengikuti keinginan hawa nafsu belaka. Dan kebenaran jalan hidup ini harus dapat dipertanggungjawabkan.
Dalil
Qur’an surat 28 ayat 50 : “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka (hawa nafsu mereka). Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang-orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk bagi orang-orang yang zalim“
6.   Kitab ilmu pengetahuan (kitabul ‘ilm) karena al Qur’an di dalamnya mengandung berbagai macam ilmu pengetahuan dan dasar dasar yang kuat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalil
Qur’an surat 96 ayat 1 sampai 5 : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”
Read More
Definisi al Qur’an atau Ta’riful Qur’an

Definisi al Qur’an atau Ta’riful Qur’an

Alqur’an merupakan kitab suci ummat Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada ummatnya sebagai petunjuk dalam mengarungi kehidupan ini. Sebagai kitab suci tentunya al Qur’an harus mampu menjelaskan jati dirinya kepada pembacanya agar yang membaca atau mendengar bisa memahami  bahwa kitab itu adalah benar-benar kitab yang diturunkan Allah bukan perkataan manusia dan jin. Pada banyak ayat al Qur’an dijelaskan apa sesungguhnya al Qur’an itu dan dari siapa datangnya dan untuk apa ia diturunkan. Berikut ini merupakan penjelasan singkat tentang definisi al Qur’an.

1.         Firman Allah swt (kalamullah)
Al Qur’an bukan merupakan ucapan atau karya Nabi Muhammad saw, malaikat atau makhluk apapun melainkan firman Allah yang berupa  wahyu. Ini menunjukkan bahwa ia sempurna, bebas dari kekurangan dan mutlak kebenarannya.
Dalil
·         Qur’an surat 53 ayat 4 : Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
·         Qur’an surat 15 ayat 9 : “Sesungguhnya Kami lah yang menurunkan al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya
Kalau kita baca sejarah, kita akan mendapatkan bahwa para penyair terkenal di arab kala itu mengakui akan keindahan dan keagungan al Qur’an ini, dan mereka juga mengakui bahwa al Qur’an bukan lah syair, puisi atau sihir melainkan kata kata Allah (kalamullah) yang harus dijadikan petunjuk hidup oleh segenap manusia bukan saja ummat Islam. Dan sampai saat ini benar-benar al Qur’an masih terjaga keasliannya (janji Allah), tidak hanya tulisan, bahkan cara membacanyapun ada aturan mainnya (tajdwidnya)
2.         Mukjizat (al mu’jiz)
Mukjizat merupakan perkara luar biasa yang diberikan Allah swt kepada para Nabi sebagai bukti pendukung atas kenabian mereka.  Al Qur’an merupakan  mukjizat tersebesar Nabi Muhammad saw yang keistimewaannya akan selalu ada sampai akhir zaman.
Dalil
·         Qur’an surat  2 ayat 23 : “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan dengan al Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar “.
Definisi al Qur’an atau Ta’riful Qur’an·         Qur’an surat  11 ayat 14 : “Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya al Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?“
·         Qur’an surat  17 ayat 88 : “Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan  al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan  dapat membuat yang serupa dengna dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain“
Sampai saat ini belum ada orang yang menerima tantangan itu sekalipun beliau seorang ilmuan, profesor dan lain sebagainya, padahal mereka sudah banyak mengeluarkan berbagai teori dan karya tulis ilmiah tentang alam semesta ini tetapi tak satupun yang sanggup mengeluarkan kitab untuk petunjuk hidup manusia. Cobalah bandingkan dengan Nabi Muhammad yang tidak bisa baca tulis dan bukan lulusan dari universitas manapun di dunia. Mungkinkah dia yang membuatnya? Beliau dan al Qur’an sudah menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya bahwa al Qur’an itu adalah kalamullah.
3.         Ia diturunkan ke dalam hati Muhammad saw (al munazzalu ‘ala qalbi Muhammad)
Wahyu alqur’an diturunkan ke hati nabi saw, tidak sekedar diperdengarkan atau dilafalkan oleh Jibril lalu diikuti dan dihafalkan beliau. Artinya, berangkat dari hati itulah al Qur’an menjelmakan syari’at Allah dalam lisan, panca indra dan seluruh angota badan hingga mampu menggerakkan seluruh sendi kehidupan.
Dalil
·         Qur’an surat 26 ayat 192 sampai 195 : ”Dan sesunguhnya al Qur’an ini benar-benar diturunkan dari Tuhan semesta alam.  Dia dibawa turun oleh ar Ruh al Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas“
4.         Ia diriwayatkan kepada kita secara mutawatir (al manqulu ilaina bittawatur)
Dalam ilmu hadist kita mengenal istilah mutawatir. Mutawatir adalah periwayatan yang dapat dipertanggungjawabkan vliditasnya yakni  riwayat yang disampaikan oleh tiga orang atua lebih yang memiliki kualifikasi terbaik sebagai orang yang adil, sempurna hafalannya dan tidak mungkin sepakat berbohong. Seluruh ayat-ayat alQur’an disampaikan kepada kita secara mutawatir atau periwayatan yang demikian. Dan bahkan sampai saat ini kemutawatiran itu sangat terjaga, paran penghafal al Qur’an bertebaran di muka bumi ini dengan sanad yang sangat jelas sampai ke pada Rasulullah saw.
5.         Membacanya adalah ibadah (almuta’abbadu bitilawatih)
Karena alQur’an merupakan kalamullah, maka membacanyapun merupakan ibadah yang berpahala besar yang dihitung satu huruf dibalas dengan sepuluh kebaikan bahkan lebih.
Dalil
·         Alqur’an surat 35 ayat 29 sampai 30 : “Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dair karunia-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha mensyukuri“
Kesimpulannya adalah al Qur’an merupakan kalamullah (perkataan Allah) yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw sebagai mukjizat terbesar beliau dan disampaikan kepada umat Islam secara mutawatir sehingga tak terbantahkan dan membacanya dinilai ibadah di sisi Allah swt.
Read More