Showing posts with label Mengenal Manusia. Show all posts
Showing posts with label Mengenal Manusia. Show all posts
Membangun Kejayaan atau Binaul Izzah

Membangun Kejayaan atau Binaul Izzah

بناء العزة 

Umat Islam Harus menyadari bahwa mereka merupakan umat pilihan Allah yang termulia. Dilahirkan untuk menjadi umat yang mulia, besar dan jaya.[QS.3:104 dan 110].
Membangun Kejayaan atau Binaul IzzahSebagai Manusia (al insaan)
Sejak manusia lahir, ia sudah membawa potensi kebesaran itu, karena:
  1. Allah telah memuliakannya (at takrim) [QS.17:70]
  2. Allah melebihkannya atas makhluk yang lain (at tafdhil)[QS.17:70]
  3. Allah menundukkan langit dan bumi untuknya (at taskhir)[QS.31:20]
  4. Allah memberikan amanah khilafah kepadanya (al amanah)[QS.33:72].
Potensi ini bukti kehormatan manusia di antara makhluk Allah yang ada (al izzatul insaan).[QS.17:70]
Sebagai Individu Muslim (al fardul muslim)[Qs.63:8, 49:13]
Sebagai individu muslim ia memiliki potensi yanglebih besar dibanding manusia lain. Sebab ia dikaruniai Allah aqidah (al aqidah), ibadah (al ibadah) dan ketakwaan (at taqwa) yang semua berorientasi kepada Allah swt. Aqidah, ibadah, dan ketakwaan itu menyimpan potensi yang sangat besar bagi kejayaan Islam (al izzatul islamiyah)
Sebagai Ummat Islam (al ummatul islamiyah) [QS. 3:110]
Sebagai komunitas individu yang memiliki potensi yang sangat besar tersebut apabila bersatu, akan melahirkan sebuah masyarakat yang terkuat dalam seluruh aspek kehidupan. Potensi kaum muslimin itu adalah:
  1. Iman (al iman): Iman merupakan azas yang mendasari seluruh gerak kehidupan mereka dan sekaligus menjadi tali pengikat perstuan mereka yang sangat kokoh tak terkalahkan
  2. Kejujuran(ash shidq): Iman yang kuat membuat mereka mengungkapkan hal yang benar, anti dusta, dan anti kemunafikan
  3. Kepercayaan (ats tsiqah): Kejujuranlah yang membuat mereka saling percaya, tidak saling curiga kepada sesamanya
  4. Loyalitas (al wala'): Berlandaskan kepercayaan, loyalitas diberikan kepada sesama muslim dan bukankepada selain mereka
  5. Ketaatan(at tho'ah): Dengan loyal kepada Allah, rasul dan ulil amri, menjadikan ketaatan  sebagai pakaian mereka.
  6. Komitmen(al iltizam) : Iman yang benar melahirkan komitmen yang kuat
  7. Pergerakkan(al harokah): Keimanan tidak akan benar apabila tidak disertai dengan gerakkan
  8. Kekuatan(al quwwah): Kaum muslimin secara keseluruhan adalha kekuatan yang sangat besar di dunia yang menjanjikan kejayaan umat Islam (al izzatul jama'iyah) [QS.63:8, 3:139, 61:4]

Read More
Misi Hidup Manusia atau Risalah Hidup Manusia

Misi Hidup Manusia atau Risalah Hidup Manusia

رسالة الإنسان 

Misi Hidup Manusia atau Risalah Hidup ManusiaManusia diciptakan untuk ibadah (al ibadah) kepada Allah swt.[QS. 51:56, 2:21, 2:183, 63:8]. Jika ia menunaikan tujuan penciptaanya maka ia akan menjadi insan yang bertakwa (attaqwa) dan memperoleh kemuliaan sejati (al izzah), yang dengan itu tepatlah jika ia menyandang amanah kekhalifahan di bumi (al khilafah). [QS. 2:30]. Dengan kekhalifahan yang berwibawalah manusia dapat menunaikan fungsinya dengan baik yaitu:
  1. Pemamkmuran bumi (al 'imarah) [QS. 3:104 dan 110]:  Pemakmuran itu berupa pembangunan segala bidang baik materil (al madiyah) maupun spritual (ar ruhaniyah) secara proporsional. Islam memberikan arahan (taujihat) dan hukum (tasyri') yang sinergis, sehingga pembangunan itu mencapai peradaban (al hadharah) yang bermoral dan moralitas (al akhlaq) yang berperadaban.
  2. Pemeliharaan (ar ri'ayah)[QS. 2.218, 18:110, 76:7]: Menjaga dan memelihara keseimbangan ekosistem alam semesta dilakukan secara materil (al madiyah) maupun sprituil (ar ruhaniyah), melalui pendekatan targhib (harapan imbalan) berupa pahala (al jaza') bagi yang konsisten, dan tarhib (ancaman) berupa hukuman (al 'uqubah) bagi yang melanggar.
  3. Perlindungan (al hifzh): Khilafah berfungsi melindungi 5 hak asasi manusia yaitu : agama/aqidah (ad din), jiwa (an nafs), akal (al aql), harta (al mal), dan keturunan/kehormatan (an-nasab). Tugas ini sangat berat dan hanya dapat dilaksanakan apabila khilafah memiliki kewibawaan menegakkan amar ma'ruf nahi munkar [QS. 3:104 dan 110]. Amar ma'ruf nahi munkar adalah upaya untuk menunjukkan bahwa kebenaran itu benar dan menegakkannya di tengah kehidupan, menunjukkan kebathilan itu bathil dan menumbangkannya bersama-sama.[QS. 8:8]. Khilafah dapat menunaikan tugas itu jika ia memiliki kekuatan. Karena itu menyiapkan kekuatan pada diri umat Islam adalah wajib hukumnya (annasirul quwwatil islamiyah).[QS.8:60, 3:103, 2:256, 5:54-56, 17:36, 61:4, 49:15, 9:111].
Adapun anasir kekuatan Islam itu adalah:
Read More
Keseimbangan Hidup atau Tawaazun

Keseimbangan Hidup atau Tawaazun

التوازن 

Keseimbangan Hidup atau Tawaazun
Manusia diciptakan Allah dengan fitrah (al fitrah) [QS. 30: 30, 7:172, 75:14]. Apabila manusia tetap berada pada fitrah itu maka ia disebut sebagai orang yang lurus (hanif). Jika tetap dalam kondisi fitrah yang lurus, berarti keseimbangan standar manusia akan tetap terjaga (at tawazun)[QS.55:7-9]. Keseimbangan manusia meliputi segenap unsurnya yakni: unsur jiwa, akal dan jasadnya. Masing-masing unsur tersebut membutuhkan perhatian dan pemenuhan hak secara seimbang. Kekurangan maupun berlebih-lebihan dalam memberikan hak-haknya akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan.
  1. Fisik (al jasad): Fisik manusia meliputi anggota badan, organ-organ tubuh dan sel-sel  serta muatan tubuh manusia, yang diciptakan Allah dalam keadaan keseimbangan pasti. Untuk mendukung fungsi-fungsi fisik itu, ia membutuhkan pemenuhan (al ghidza ul jasadi) konsumsi (ath tho'am) berupa makanan, minuman, gerak dan istirahat secara seimbang baik kualitas maupun kuantitas. [QS. 2:168, 80:20].
  2. Akal (al aql) : Akal juga membutuhkan pemenuhan kebutuhan secara seimbang. Pemenuhan kebutuhan akal (al ghidza ul aql) dilakukan dengan cara belajar dan mencari ilmu (iptek), tadabbur ayat-ayat qauliyah, dan tafakkur ayat-ayat kauniyah.[QS.96:1, 55:1-4]
  3. Jiwa (ar ruh): Jiwa adalah faktor kunci pada diri manusia, jika ia baik maka baiklah diri manusia itu, sebaliknya jika ia buruk maka buruklah seluruh diri manusia itu. Karena itulah manusia harus pandai menjaga dan merawat jiwanya agar senantiasa baik. Untuk itu jiwa harus dipenuhi kebutuhannaya (al ghidza ur ruh) secara seimbang. Kebutuhan jiwa adalah kedekatan kepada Allah, karena itu santapan jiwa adalah dzikir (dzikrullah) dan ibadah yang kontinyu lagi berkesinambungan. [QS.73:1-2, 13:28, 3:191]
Read More
Buah Takwah (Nataijut Taqwa)

Buah Takwah (Nataijut Taqwa)

نتائج لتقوى 

Buah Takwah (Nataijut Taqwa)
Manusia yang istiqomah dalam beribadah kepada Allah, ia akan menjadi orang yang bertakwa (at taqwa). Semakin tinggi ketakwaan seseorang semakin besar kemuliaanya di sisi Allah. [QS. 49:13]. Kemuliaan yang diperolehnya dari sisi Allah tersebut bisa berupa fasilitas-fasilitas tambahan yang Allah berikan kepadanya sebagai penghargaan. Diantara fasilitas-fasilitas itu ada yang diterima di dunia dan ada pula ketika di akhirat kelak. Berikut ini adalah fasilitas-fasilitas tambahan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang bertakwa yang tidak didapatkan oleh hamba-hamba Allah lainnya.
  1. Rahmat (ar rahmah): rahmah merupakan bentuk kasih sayang yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Dalam hadis rasulullah mengatakan bahwa Allah menciptakan 100 rahmah, satu dari seratus itu diturunkannya ke bumi yang dengan itu semua makhluk berbagi kasih sayang sehingga unta pun akan mengangkat kakinya karena tak ingin anaknya terinjak. sedangkan yang 99 lagi disimpan Allah di langit dan akan diberikannya kepada hamba-hambanya yang beriman dan bertakwa nanti di surga-Nya.[QS.6:155]
  2. Pembeda/filter (al furqan): Takwa memberikan cahaya dan kemampuan lebih bagi orang yang memilikinya untuk membedakan antara yang halal dan yang haram, yang benar dan yang salah, yang jelas dan yang subhat.[QS.8:28]
  3. Keberkahan (al barokah): Keberkahan hidup hanya akan diberikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa. [QS.7:96]
  4. Solusi (al makhraj): Allah akan memberikan solusi atau jalan keluar dari masalah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya dari berbagai permasalahan yang di luar kemampuannya.[QS.63:2]
  5. Rezeki (ar rizq): Orang yang bertakwa akan mendapat rezeki lebih dari apa yang ia perkirakan atau bahkan dari arah yang tak disangka-sangka. Allah menjanjikan itu di dunia ini, dan di akhirat nanti lebih lagi berupa kebahagiaan yang tiada bandingannya.[QS.65:3]
  6. Kemudahan (al yusra): Orang yang beriman dan bertakwa memiliki hati yang bening dan fikiran yang jernih, dan dengan bimbingan Allah swt akan mendapati kemudahan-kemudahan seiring kesulitan yang melandanya.[QS.94:6, 65:4]
  7. Pemutihan atau penghapusan kesalahan (takfirus sayyi'at): orang yang bertakwa senantiasa dalam kebaikan, dan kebaikan itu menghapus keburukan dan kesalahan yang pernah dilakukannya sebagaimana air memadamkan api.[QS. 65:5, 8:29]
  8. Ampunan (al ghufran): Orang yang bertakwa selalu sensitif terhadap dosa-dosanya, maka ia pun terus bertaubat atas kesalahan dan dosanya. Allah maha pengampun bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan bertaubat.[QS. 65:5, 8:29]
  9. Pahala yang besar ('azhamatul ajr): Takwa identik dengan taat, dan setiap bentuk ketaatan pasti mendapat balasan (pahala) yang setimpal bahkan berlipat ganda dari Allah swt.[QS.65:5]
Berbagai fasilitas tambahan bagi orang yang bertakwa itu akan diperolehnya di dunia ini (fid dunya hasanah) [QS. 2:200-201] dan di akhirat nanti akan digenapi semua balasan kebaikannya itu (fil akhiroti hasanah) [QS.28:77, 65:5, 2:201]. Itulah harga diri, kebesaran dan kejayaan sejati yang akan dimiliki seorang hamba yang bertakwa.[QS.63:8, 49:13]
Read More
Hasil Ibadah Atau Nata'ijul-ibadah

Hasil Ibadah Atau Nata'ijul-ibadah

نتائج العبادة 

Hasil Ibadah Atau Nata'ijul-ibadahTujuan ibadah adalah agar manusia bertakwah kepada Allah swt. [QS. 2:21 dan 183]. Takwa adalah derajat iman yang tertinggi, dimana seseorang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Ibadah akan efektif membentuk pribadi takwa jika ibadah itu benar dan bersih ('ibadatus salimah) [QS. 4:136] yang dilakukan dengan syarat tertentu:
  1. Iman (al iman). Tanpa iman, suatu amal menjadi kosong tak berguna dan tak menghasilkan apa-apa kecuali kesia-siaan.[QS. 4.136]
  2. Islam (al islam). Iman lebih banyak menyangkut urusan hati, sedangkan Islam mengatur implementasi iman itu. Maka ibadah yang benar haruslah sesuai dengan kaidah Islam. [QS. 2:112].
  3. Ihsan (al ihsan). Ihsan adalah keyakinan hati saat ibadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah, atau setidak-tidaknya yakin bahwa Allah melihat kita.[QS. 16:97]
Read More
Syarat Diterimanya Ibadah

Syarat Diterimanya Ibadah

قبول الإبادة 

Syarat Diterimanya Ibadah
Amal ibadah [QS. 51:56] baik yang mahdhah maupun ghairu mahdhah akan diterima Allah swt, apabila memenuhi syarat-syarat syariat.

Ibadah Mahdha [[QS. 98:5, 39: 11 dan 14]
Diterimanya ibadah mahdhah tergantung pada tiga syarat berikut:
  1. Disertai niat yang bersih atau ikhlash (shuhbatun niyah): Sesungguhnya niat menentukan syarat diterima atau tidaknya suatu amal. Tanpa niat yang ikhlash, suatu amal tidak dapat diterima sebagai ibadah.
  2. Disyariatkan untuk dikerjakan (al masyru'iyah): Dalam kaidah fikih terkenal dengan istilah segala sesuatu di dunia ini boleh dimakan, kecuali yang dilarang dan segala macam ibadah di dunia ini terlarang kecuali yang disyariatkan untuk dikerjakan. Rasulullah saw menyampaikan kepada umatnya bahwa setiap amal yang tidak didasarkan pada hukum yang telah disyariatkan maka  termasuk bid'ah, setiap bid'ah adalah dholalah dan setiap dholalah finnar.
  3. Sesuai cara rasulullah saw (al kaifiyah): dalam Islam setiap ibadah itu kaifiyah nya harus disandarkan contohnya kepada rasulullah (ittiba'ur rasul). Menyimpang dari yang dicontohkan rasulullah tidak akan diterima, karena berarti telah membuat aturan baru dalam ibadah alias bid'ah terlarang. Ketiga syarat itu harus terpenuhi seutuhnya dengan mengikuti pedoman/manhaj dan kaifiyah dari Rasulullah saw. (al ittiba'u minhajan wa kaifiyatan) [QS. 59:7;  7:157]
Ibadah Ghairu Mahdhah [QS. 98:5;  39:11 dan 14;  103 :1-3;  95:8]
Ibada selain yang khusus/non ritual (ghairu mahdha) adalah ibadah dalam arti yang lebih luas. Setiap amal lahir maupun batin berupa niat, ucapan maupun tindakan yang dimaksudkan untuk mencari ridha Allah swt adalah ibadah. Syarat diterimanya ibadah ghairu mahdha ada dua yaitu niatnya harus ikhlas (ihlashun niyah) dan sesuai kaidah umum syar'i yakni amal yang shaleh (al amalush sholih). Ia juga harus mengikuti pedoman syar'i, tidak boleh menyimpang dari kaidah-kaidah umu yang telah ditetapkan syari'at (al ittiba'u minhajan) [QS 3:31]

Read More
Cakupan Ibadah

Cakupan Ibadah

شمولية لعبادة 

Cakupan Ibadah kajian islam online bangmaziedIbadah dalam Islam tidak terbatas pada kegiatan ritual semata [QS. 2:21, 51:56]. Ibadah dibagi menjadi dua kategori yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdha (murni) adalah ibadah yang dilakkukan dengan ritual, syarat, cara dan waktu - waktu tertentu. Ibada ghairu mahdha (umum) adalah segala perbuatan, bahkan niat sekalipun yang ditujukan untuk mencari ridha Allah. Sehingga cakupan ibadah dalam Islam sangat luas meliputi seluruh aspek agama, kehidupan, dan sisi-sisi manusia itu sendiri.
  1. Mencakup seluruh perkara agama (tasymalu dina kullahu) [QS. 3:19, 5:3]. Perkara-perkara dalam agama diantaranya adalah wajib, sunnah, dan mubah. Wajib adalah jika dikerjakan berpahala dan jika ditinggalkan berdosa. Sunnah artinya dianjurkan untuk dikerjakan, kalau dilakukan akan berpahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Mubah adalah perkara yang tidak haram dan tidak pula wajib, tetapi jika dikerjakan dengan niat ibadah maka ia akan berpahala, sebaliknya jika dikerjakan dengan cara berlebih-lebihan mala jadi bisa berdosa.
  2. Mencakup seluruh aspek kehidupan (tasymalu hayata kullaha) meliputi: a. upaya-upaya memenuhi kebutuhan manusiawi (al a'malul ghariziyah) seperti makan, minum, olah raga, berhubungan suami istri dan lain -lain, b. Interaksi sosial (al a'malul ujtima'iyah) seperti kerja bakti, membantu tetangga, membesuk yang sakit, silaturrahmi dan lain-lain. c.  Bekerja mencari nafkah (al a'malul ma'asyiyah). d. Pemakmuran bumi ('imaratul ardh) seperti penghijauan, pertanian, perkebunan, perikanana, perbaikan jalan dan jembatan dll. e. penegakkan agama ('iqamatud Diin) meliputi sistem akhlak, ibadah maupun syari'ah yang dilakukan secara amal jama'i (merupakan kewajiban kolektif umat Islam).
  3. Mencakup seluruh diri (tasymalul kiyanal basyariya kullahu) [QS. 3:191] meliputi: a. Hati (al qalb), jika hati berniat melakukan kebaikan, akan ditulis satu kebaikann meskipun tidak dikerjakan, bila dikerjakan, pahalanya berlipat. Niat yang buruk baru akan dicatat sebagai satu keburukkan kalau sudah dikerjakan, bila tidak jadi dikerjakan tidak ditulis sebagai kejahatan dan bahkan jika diiringi penyesalan bisa berpahala. b. Akal (al aql): merenung, menganalisa, berpikir, belajar, mencari ilmu, membaca, berdiskusi dan sebagainya. c. Aggota badan (jawarih): anggota badan yang melaksanakan niat hati dan rencana akal pikiran.
Read More
Hakikat Ibadah atau hakikatul ibadah

Hakikat Ibadah atau hakikatul ibadah

حقيقة العبادة 

Hakikat Ibadah atau hakikatul ibadah bangmaziedIbadah kepada Allah berangkat dari perasaan seseorang hamba (asy syu'ur).[QS. 16:18, 55:13 18 21 23 25 28 30 32, 31:20, 14:7, 7:54, 67:1]. 
Perasaan betapa banyaknya nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya (bikatsrati ni'amillah). Teramat banyak nikmat Allah yang ia terima sejak lahir hingga sekarang, tentu perasaan itu muncul setelah direnungi dan dihayati. Disaat yang bersamaan ia merasakan keagungan dan kebesaran Allah SWT(bi'azhamatillah).
Ketika kedua hal itu dirasakan, seseorang akan beribadah kepada Allah (al 'ibadah) [QS. 7:55, 2:165, 4:125] dengan segala keredahan hati (ghayatut tadzallul), dengan segala cinta (ghayatut mahabbah) dan dengan segala ketundukan (ghayatut khudhu').
Pada saat yang sama, ketulusan ibadah kepada Allah membuat dirinya takut (khauf) kalau-kalau ibadahnya tidak diterima. Namun rasa takut itu bukanlah rasa keputusasaan, karena Allah maha memahami hamba-Nya dan selalu memberi harapan (motivasi). Maka seorang muslim akan selalu menaruh harapan besar bahwa Allah akan menerima ibadahnya (raja') [QS. 7:55-56, 9:13, 33:39, 2:41, 21:90, 94:8]

Read More
Sifat Manusia atau Sifatul Insaan

Sifat Manusia atau Sifatul Insaan

صفت الإنسان 

Sifat Manusia atau Sifatul InsaanDua potensi yang diilhamkan Allah  ke dalam jiwa manusia yakni takwa dan fujur adalah penentu sifat manusia. Dari sifat itu akan tergambar apakah manusia itu sebagai makhluk yang mulia atau sebaliknya menjadi makhluk yang hina. [QS. 90:10, 91:8, 76:3].

Potensi takwa akan membawa kemuliaan sifat manusia [QS. 91:9, 87:14-15, 62:4]. Sifat yang bersih dan dicintai oleh Allah SWT. Karena itu, manusia yang beruntunglah yang memiliki jiwa dan sifat yang bersih itu. Sifat itu akan selalu terus melekat pada jiwa manusia apabila ia senantiasa melakukan tazkiyah terhadap jiwanya (at tazkiyatun nafs).
Tazkiyah adalah pembelajaran, pelatihan dan pembinaan(tarbiyah) agar manusia memiliki sifat-sifat 'ibadurrahman (yang dicintai Allah) yaitu:
  1. Banyak bersyukur (syakur)
  2. Banyak bersabar (shabur)
  3. Penyantun (Ra'uf)
  4. Penyayang (rahim)
  5. Arif (halim)
  6. Banyak bertaubat (awwab)
  7. Lemah lembut (awwah)
  8. Jujur (shaduq)
  9. Amanah (amin)
Dengan sifat-sifat di atas seorang muslim akan meraih sukses di dunia dan akhirat (muflihun) [QS. 3:102-104]

Potensi fujur pada jiwa akan menjadikan manusia bersifat buruk dan jahat [QS. 103:1-3]. Itu karena jiwa dibiarkan terlantar sehingga menjadi berkarat dan kotor, apalagi jika sengaja dikotori (tadsiyatun nafs) [QS. 91:10, 17:11, 21:37, 70:19, 70:21, 17:100, 14:34, 90:4, 18:54, 100:6, 33:72]. Akibatnya, melekatlah sifat-sifat buruk padanya dan jadilah ia orang yang rugi dunia dan akhirat. Sifat-sifat buruk itu antara lain:
  1. Suka tergesa-gesa ('ajulan)
  2. Banyak berkeluh kesah (halu'an)
  3. lalai (ghafilan)
  4. Melampaui batas (thagiyan)
  5. Pelit (Qaturan)
  6. Kufur/ingkar (kafuran)
  7. Banyak mendebat/membantah (kanudan)
  8. Sangat zalim (zhaluman)
  9. Sangat bodoh (jahulan)
Pada akhir bahasan ini marilah kita renungkan hadis dari rasulullah SAW berikut ini:

Orang yang dungu/lemah adalah orang yang memperturutkan dirinya pada hawa nafsunya dan kemudian berangan-angan mendapatkan surga dari Allah (H.R. Muslim)
Read More
Jiwa Manusia (Nafsul Insan)

Jiwa Manusia (Nafsul Insan)

نفس الإنسان 

Jiwa Manusia (Nafsul Insan)Jiwa manusia adalah pangkal kendali baik buruk  manusia secara keseluruhan. Allah telah mengilhamkan (memberikan kebebasan memilih) kepada jiwa manusia itu fujur atau taqwa [QS. 91: 7 - 10]. Pilihan itu sangat potensial bersaing untuk mendominasi jiwa manusia, bahkan bisa terjadi konflik berkepanjangan diantara keduanya.  Yang berkepentingan pada kedua pilihan tersebut adalah nafsu (al hawa) dan ruh ( ar ruh). Nafsu cendrung untuk fujur, dan ruh cendrung untuk takwa. Dilihat dari dominasi ruh dan nafsu itu terhadap diri manusia, maka jiwa manusia itu dapat kita bedakan menjadi tiga keadaan sebagai berikut:
  1. Dominasi ruh lebih kuat dari pada hawa nafsu. Pada kondisi ini manusia akan berorientasi atau punya kecendrungan untuk selalu berzikir di setiap keadaan dalam rangka mengontrol diri, sehingga jiwa pun selalu merasakan ketenangan untuk selalu berbuat yang terbaik. Jiwa - jiwa yang seperti ini di dalam alquran disebut dengan istilah nafsul muthma'innah. [QS. 29:45, 3:191, 13:28, 89:27 - 30]
  2. Dominasi ruh dan hawa nafsu seimbang. Pada kondisi ini akallah yang paling berperan dan akan terjadi konflik batin yang keras antara keinginan beramal saleh dengan kecendrungan untuk berbuat maksiat, penuh kebimbangan. (pelaksanaannya fifty-fifty). Jiwa - jiwa seperti ini di dalam al Qur'an disebut dengan  nafsul lawwamah atau nafsu yang selalu menyesali diri.[QS. 4:137, 4:143, 2:9, 75:2]
  3. Hawa nafsu lebih dominan dibandingkan ruh. Pada kondisi ini manusia akan dikuasai oleh syahwatnya (keinginan untuk bersenang-senang), dan berikutnya jiwa akan selalu menyuruh untuk melakukan hal-hal buruk (maksiat). Kondisi jiwa seperti ini dinamakan alQur'an sebagai nafsul amaratu bis su' yaitu nafsu yang selalu menyuruh pada keburukan. [QS. 25:43, 45:23, 3:14, 12:53]
Read More
Potensi Manusia atau thooqotul insaan

Potensi Manusia atau thooqotul insaan

طاقة الإنسان 

Potensi Manusia atau thooqotul insaanSetelah kita memahami tentang Hakekat manusia (haqiqatul insaan), maka sekarang kita akan membahas materi tentang potensi yang dimiliki oleh manusia (thooqatul insaan). Manusia sebagai makhluk yang dimuliakan,  memiliki potensi diri yang sangat besar dan luar biasa. [ QS. 67:23, 32:9, 16:78, 7:179, 22:46]. Potensi itu terletak pada pendengaran (as-sam'u), penglihatan (al-basharu) dan hatinya (al-fu-adu). Dengan ketiga potensi itu manusia dapat melakukan hal-hal besar yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk lain baik yang tampak maupun yang tidak (ghaib). Potensi-potensi besar itu adalah amanah yang harus ia jaga dengan penuh tanggung jawab (al-mas'uliyah).[QS. 2:21, 51:56].
Jika manusia bertanggung jawab penuh terhadap potensinya, berarti ia amanah (al amanah) [QS. 33:72, 24:55, 48:29]. Dengan amanah itulah ia mampu memerankan tugas khilafah di bumi. Maka sebagai khilafah ia harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
  1. Tidak memiliki kekuasaan hakiki ('adamu haqiqatil mulkiyah): Karena pemilik dan penguasa yang hakiki adalah Allah Sang Pencipta alam semesta. Manusia hanya mendapat amanah dari Allah SWT. [Qs. 35:13, 40:53]
  2. Bertindak sesuai kehendak yang mewakilkan atau pemberi amanah (at tasharrufu hasba iradatil mustakhlif) : Sebagai khalifah (wakil) Allah di bumi, maka ia harus bertindak sesuai kehendak pihak yang mewakilkan kepadanya yaitu Allah. [QS. 76:30, 28:68]
  3. Tidak melampaui batas ('adamul ta'addil hudud) : Dalam menjalankan tugasnya, manusia tidak boleh melanggar batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam syari'at Nya. [QS. 100: 6 - 11]
Adapun jika manusia tidak bertanggung jawab terhadap potensi yang diberikan pada dirinya, berarti ia telah berkhianat (al khiayana), berkhianat kepada sang pemberi potensi. Pengkhiatan tersebut pada dasarnya sama artinya dengan mencampakkan diri ke dalam kehinaan yang digambarkan Al Qur'an sampai pada titik nadir yang sangat rendah sejajar dengan hewan atau benda mati, bahkan lebih hina dari itu:
  1. Seperti hewan ternak (kal an'am) [QS. 7:179, 25:43 - 44]
  2. Seperti anjing (kal kalb ) [ QS. 7:176]
  3. Seperti kera (kal qird ) [QS. 5:60]
  4. Seperti kayu (kal khasyab) [QS. 63:4]
  5. Seperti babi (kal khinzhir ) [QS. 5:60]
  6. Seperti batu (kal hijarah [QS. 2:74]
  7. Seperti laba - laba (kal ankabut) [QS. 29:41]
  8. Seperti keledai (kal himar ) [QS.62:5]
Read More
Hakikat Manusia (Haqiqatul insaan)

Hakikat Manusia (Haqiqatul insaan)

حقيقت الإنسان

Hakikat Manusia (Haqiqatul insaan)Manusia harus memahami hakikat diri dan kehidupannya (haqiiqatul insaan) agar ia dapat bersikap dan berlaku adil terhadap Penciptanya, dirinya dan terhadap sesama manusia serta terhadap makhluk - makhluk lain yang ada di muka bumi ini. Hakikat yang harus dipahami itu diantanya bahwa dirinya adalah:
  1. Makhluk (makhluqun): Sebagai makhluk, manusia diciptakan di atas fitrah islam ( 'alal fitrah) [QS. 30:30]. Meskipun dikenal sebagai makhluk termulia dan teristimewa, tapi manusia adalah makhluk yang lemah (dho'ifun) secara fisik dan memiliki banyak sekali keterbatasan dan kekurangan. [QS. 4:28].  Dalam hal ilmu ia pun bodoh (jahilun). [QS. 33:72]. Dalam hal kelangsungan hidupnya, manusia sangat bergantung kepada pihak lain (faqirun). [QS. 35.15]
  2. Dimuliakan (Mukarramun): Allah menghendaki manusia menjadi makhluk yang mulia, meski asalnya dari sesuatu yang hina yaitu (tanah). Dengan kekuasaan-Nya, makhluk yang tercipta dari tanah itu mendapat tiupan ruh dari Allah SWT (nafkhur-ruh) [QS.32:9). Allah juga memberinya keistimewaan dengan banyak kelebihan (imtiyazat). [QS. 17:70] sempurna yang diantaranya adalah akal. Alam semesta yang luas dan penuh karunia Allah ini pun ditundukkan Allah untuk manusia (yusakhara lahul kauni) [QS. 45:12-13; 2:29; 67:15]
  3. Mengemban Tugas (Mukallafun) :  Mukallaf artinya yang dibebani tugas. Konsekuensi sebagai makhluk yang telah diistimewakan dengan berbagai kelebihan, manusia tidak dibiarkan tanpa tugas dan tanggung jawab. Adaupun tugas dan tanggung jawabnya sebagai makhluk yang punya keistimewaan tadi adalah Ibadah [QS. 51:56] dan kholifah [QS. 2:30]. Potensi besar yang diberikan kepadanya dimaksudkan agar ia mampu mengelola bumi ini sesuai dengan kehendak-Nya.
  4. Berhak Memilih (Mukhayyaruun) : [QS. 90:10; 76:3; 64:2; 18:29]. Keistimewaan manusia diberi akal dan hati, menjadikannya makhluk yang berhak memilih dan menentukan nasibnya sendiri. Dengan akal dan kebebasannya ia bisa menentukan apakah ia akan beriman kepada Allah (al iman) atau justru sebaliknya kafir kepada Allah (al kufru).
  5. Mendapatkan imbalan (Majziyun) : Kebebasan yang dimilikinya tersebut tentu bukan berupa tanpa konsekuensi. Allah akan memberikan balasan secara adil dan proporsional atas pilihannya di dunia ini. Balasan ini akan diterima di akhirat dan berlakuk kepada seluruh manusia tanpa kecuali. Balasan itu dapat berupa kenikmatan surga (al jannah) untuk orang yang beriman [QS. 102:8; 32:19; 2:25; 22:14] atau siksa neraka (an nar) bagi yang kafir.[QS. 17:36; 53:38 - 41; 32:20; 2:24]
Read More
Mengenal Manusia AtauTa'riful Insaan

Mengenal Manusia AtauTa'riful Insaan

Definisi Manusia
تعاريفل إنسان 

Mengenal Manusia AtauTa'riful Insaan
Manusia diciptakan oleh Allah tersusun dari unsur bumi dan unsur langit. Unsur bumi adalah dari tanah (at turab) dan unsur langit adalah ruh (ar ruh). Setelah dipadukan menjadi satu terciptalah manusia yang secara fungsional terwujud dalam tiga unsur yaitu: hati, akal, dan jasad. [QS. 32: 7 - 8; 15:28; 32:9; 15:29].
  1. Hati (al qalb) : Di dalam jasad ada segumpal daging, yang apabila daging itu baik, maka baiklah seluruh jasad. Namun jika daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Daging yang bernama hati itu secara wujud memang seperti yang kita pahami dalam dunia kedokteran, tetapi konteks qalb (hati) yang dimaksud dalam hal ini bukanlah hati secara fisik, melainkan sesuatu yang bersifat rohani, perasaan dan nafsu. Dinamakan qalb karena hati itu berubah - ubah setiap saat (qalaba). Di dalam hati itulah bersumber segala niat dan tekat (al azam ). [QS. 3:159; 17:36; 18:29; 90:10].
  2. Akal (al 'aql) : Akal sebagaimana kita pahami ada di dalam otak kita, tentu saja akal yang dimaksud di sini abstrak. Dengan akal yang merupakan kunci keistimewaan manusia itu, manusia dapat memahami berbagai hal. Akal memberi manfaat kepada manusia di bidang ilmu pengetahuan untuk berpikir dan melahirkan inovasi-kreasi (al 'ilmu). [17:36; 67:10]
  3. Jasad (al jasad) : Jasad adalah fisik zhahir manusia secara keseluruhan. Ia adalah pelaksana segala yang ditekatkan oleh hati dan direncanakan oleh akal. [QS. 9 : 105]
Hati, akal dan jasad adalah anugerah Allah yang harus digunakan untuk menjalankan amanah Allah di bumi (al amanah) [ QS. 33:72; 2:30;]. Amanah itu tidak lain adalah pengabdian kepada Allah (al ibadah) dan pemakmuran bumi (al khalifah). Dengan segala potensinya manusia bersikap dan menjalani tugasnya di dunia. Setelah tiba saatnya nanti, ia akan mendapatkan hasil/balasan atas apa yang telah diperbuatnya di duniah (al jaza'). [QS. 84:25; 16:97; 98:7-8]. Materi berikutnya tentang Hakikat-manusia (haqiqatul insaan).


Baca juga tentang:
  1. Mengenal manusia atau ta'riful insaan
  2. Hakikat manusia atau haqiqatul insaan
  3. Potensi manusia atau thoqotul insaan
  4. Jiwa manusia atau nafsul insan
  5. Sifat manusia atau sifatul insaan
  6. Hakikat ibadah atau hakikatul ibadah
  7. Cakupan ibadah atau syumuliyatul ibadah
  8. Syarat diterimanya ibadah
  9. Hasil ibadah atau nataijul ibadah
  10. Buah takwah atau nataijut taqwa
  11. Keseimbangan hidup atau tawaazun
  12. Misi hidup manusia atau risalah hidup
  13. Membangun kejayaan atau binaul izzah
Read More