Showing posts with label Mengenal Allah. Show all posts
Showing posts with label Mengenal Allah. Show all posts
Ilmu Allah atau 'Ilmullah

Ilmu Allah atau 'Ilmullah

Allah adalah Sang Pencipta seluruh Allam semesta (al khaliq), maka sudah tentu Dialah yang Maha mengetahui segalanya (al ‘alim). Allah swt berfirman dalam al Qur’an Surat al Hasyr ayat 24 sebagai berikut: “Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaul Husna. Bertasbih kepada Nya apa yang di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Dalam ayat lain yaitu Surat al Furqan ayat 2 Allah swt juga mengatakan:“Yang kepunyaan Nya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran ukurannya dengan serapi rapinya”. Begitu juga dengan Surat al Mulk ayat 14 yang menegaskan bahwa Allah swt Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta ini: “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan). Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.
Ilmu Allah atau 'IlmullahPengetahuan Allah swt meliputi segala sesuatu dan sifatnya tak terbatas, sedangkan pengetahuan (ilmunya) makhluk sangatlah sedikit dibandingkan ilmunya Allah swt. Ilmunya Allah Maha Luas tersebar di seluruh penjuru alam semesta ini.
Dalam al Qur’an Surat Lukman ayat 27 Allah swt berfirman:
Dan seandainya pohon pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
Ada dua cara untuk mendapatkan ilmunya Allah swt yaitu:
1.       Khusus (al khashah) adalah jalur formal (ath thariqatur rash miyah) yaitu melalui wahyu (al wahyu) yang diturunkan Allah swt kepada hamba Nya melalui para utusan atau Rasul (ar rasul) di dalam Taurat, Zabur, injil, al Qur’an dan hadis Rasulullah saw. Ilmu melalui wahyu ini biasanya disebut dengan ayat ayat qauliyah (al ayatul qauliyah)
Qur’an Surat ash Shu’raa ayat 51 sampai 53
Dan tidak mungikin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al Kitab (al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah lah kembali semua urusan.
Qur’an Surat ar Rahman ayat 1 sampai 2
(Tuhan) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan al Qur’an”        
Qur’an Surat al Alaq ayat 1
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan
2.       Umum (al ‘ammah) adalah jalur non formal (ath thariqatu ghairu rashmiyah) yaitu melalui ilham (al Ilham) yang secara langsung diturunkan Allah kepada manusia (al mubasyarah). Ilmu Allah swt yang diturunkan Allah melalui ilham ini biasanya disebut dengan ayat ayat kauniyah (al ayatul kauniyah)
Qur’an Surat al Balad ayat 5
Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?
Qur’an Surat Ali Imran ayat 190 sampai 191
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda tanda bagi orang orang yang berakal. (Yaitu) orang orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
Qur’an Surat al Baqara ayat 31
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama nama (benda benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada Ku nama benda benda itu jika kamu memang benar orang orang yang benar
Qur’an Surat ar Rahman ayat 4
Mengajarnya pandai berbicara
Antara ayat ayat kauniyah dan ayat ayat qauliyah terdapat hubungan yang saling menguatkan, karena keduanya berasal dari sumber yang satu yaitu Allah swt. Ayat ayat qauliyah memberikan isyarat  (al isyarah) terhadap ayat ayat kauniyah untuk dikaji dan diteliti. Ayat ayat kauniyah merupakan bukti (al burhan) kebenaran dari ayat ayat qauliyah itu. Contoh Rasulullah saw mengajarkan atau mengatakan apabila lalat hinggap di air minum, hendaklah ditenggelamkan sekalian sebelum meminumnya. Penelitian ilmiah membuktikan bahwa salah satu sayap lalat membawa penyakit dan sayap yang lainnya membawa penawarnya yang hanay akan efektif kalau ditenggelamkan.
Wahyu adalah sebagai pedoman hidup (minhajul hayah) bagi kehidupan manusia yang kebenarannya mutlak (al haqiqatul mutlaqah).
Qur’an Surat Ali Imran ayat 19
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam
Qur’an Surat Ali Imran ayat 85
Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka sekali kali tidak akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang orang yang rugi
Qur’an Surat al Baqarah ayat 147
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali kali kamu termasuk orang orang yang ragu
Qur’an Surat Fussilat ayat 53
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda tanda (kekuasaan) Kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al Qur’an itu adalah benar. Tiadalah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu

Sedangkan ilham hanya sebagai sarana hidup (wasa ilul hayah) sehingga tidak dapat dijadikan sebagai pedoman hidup yang mutlak karena kebenarannya hanya eksperimental (al haqiqatul tajribiyah) yang kadang terbukti sesuai wahyu, namau kadang sebaliknya. Temuan ilmuwan yang satu mungkin terbantah oleh ilmuwan yang lain, atau bahkan dimentahkan oleh penemunya sendiri di saat yang lain. Semua itu adalah sarana kehidupan manusia (al insaan) dalam rangka melaksanakan tugas memakmurkan bumi.
Qur’an Surat Hud ayat 61
Dan kepad Tsamud (Kami utus) sauara mereka Shaleh. Shaleh berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali kali tidak ada bagimu Tuhan selai Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan Nya, kemudian bertobatlah kepada Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat Nya) lagi memperkenankan (doa hamba Nya)
Qur’an Surat Yunus ayat 36
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan
Qur’an Surat adh dhariyat ayat 56

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada Ku
Read More
Berbuat Baik atau al Ihsaan

Berbuat Baik atau al Ihsaan

Orang yang beraqidah bersih selalu merasakan penglihatan, pendengaran, dan penilaian serta pengawasan (muroqobatullah) Allah swt pada dirinya. Allah swt berfirman dalam al Qur’an “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelha kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaf ayat 16 sampai 18). “Kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siap yang dikehendakinya dan menyiksa siapa yang dikehendaki Nya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (al Qur’an Surat al Baqarah ayat 284).
Berbuat Baik atau al IhsaanRasulullah saw pernah mengatakan (bersabda) dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim : “Engkau beribadah kepada Allah seakan – akan engkau melihat Nya, kalaupun engkau tidak melihatnya yakinlah sesungguhnya Ia melihatmu”.
Seorang yang beraqidah bersih juga akan merasakan dan mengakui betapa Allah swt selalu berbuat baik kepadanya (ihsanullah), baik secara langsung maupun yang tidak, disadari ataupun yang tak disadarinya.
Dalil
Qur’an Surat: 45(al jathiyah) ayat 12 – 13
Allah lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal kapal dapat berlayar padanya dengan seizin Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia Nya dan mudah mudahan kamu bersyukur. Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir
Qur’an Surat: 28 (al Qasas) ayat 77
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaiman Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan.”
Qur’an Surat: 1 (al Fatihah) ayat 3
“Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
Qur’an Surat: 31 (Lukman) ayat 20
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat Nya lahir dan batin. Dan diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan

Perasaan diawasi (muroqobatullah) dan ihsanullah ini selalu membuatnya untuk berusaha memperbaiki niatnya (ihsanun niyah).
Dalil
Qur’an Surat: 2 (al Baqarah) ayat 207
Dan diantara manusi ada orang yang mengorbankan dirinya karena hendak mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba Nya

Dengan niat yang baik itu, ia pun akan mengikhlaskan niat (ihlashun niyah) dalam setiap perbutannya yaitu lillahi ta’ala hanya mencari keridhoan Allah swt semata.
Dalil
Qur’an Surat: 98 (al Bayyinah) ayat 5
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus
sesunguhnya amal amal perbutan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul Nya maka hijarahnya itu (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Rasul Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya untuk dunia yang ia cari atau karena wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang ia tuju” (HR. Bukhari dan Muslim)
Disamping niat yang ikhlas karena Allah swt, seorang mukmin akan berusaha melakukan kerja yang terbaik dan sempurna dalam hidupnya (itqanul ‘amal) dan penyelesaian yang terbaik pula (judatul ‘auda’) bukan kerja asal asalan. Begitulah seharusnya amal seorang mukmin, semua dikerjakan dengan sebaik baiknya (ihsanul ‘amal) sebagaimana  yang diperintahkan Allah swt.
Dalil
Qur’an Surat: 28 (al Qasas) ayat 77
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaiman Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan.”

sesungguhnya Allah swt mewajibkan berbuat baik (ihsan) dalam setiap hal. Karena itu apabila kalian membunuh musuh, lakukanlah yang terbaik dalam pembunuhan itu. Apabila kalian menyembelih hewan, lakukanlah yang terbaik terhadap sembelihan itu, hendaklah seseorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menghibur hewan sembelihannya”.
Jika perbuatan seperti itu dilakukan oleh seorang hamba, maka ia akan mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah swt berupa:
1.       Cinta dari Allah swt (hubbun minallah)
Dalil
Qur’an Surat: 2 (al Baqara) ayat 195
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat baik
Qur’an Surat: 3 (Ali Imran) ayat 134
Yaitu orang orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang orang yang berbuat kebajikan
Qur’an Surat: 3 (Ali Imran) ayat 148
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang orang yang berbuat kebaikan
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah apabila telah mencintai seorang hamba, ia akan mengatakan kepada Jibril bahwa Allah mencintainya (si fulan). Maka, Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril berseru pada penduduk langit bahwa Allah mencintai si fulan, sehingga penduduk langitpun mencintai si fulan”
2.       Pahala dari Allah swt (ajrun minallah)
Dalil
Qur’an Surat: 3 (Ali Imran) ayat 148
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang orang yang berbuat kebaikan
Qur’an Surat: 16 (an Nahal) ayat 97
Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah  mereka kerjakan
3.       Pertolongan (kemenangan) dari Allah swt (nashrun minallah)
Dalil
Qur’an Surat: 16 (an Nahal) ayat 128
Sesungguhnya Allah beserta orang orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebaikan
Qur’an Surat : 29 (al Ankabut) ayat 69
Dan orang orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar benar beserta orang orang yang berbuat baik
Read More
Kesertaan Allah atau Maiyyatullah

Kesertaan Allah atau Maiyyatullah

Sebagai Tuhan semesta alam, Allah swt selalu menyertai makhluk Nya dalam segala hal. Kesertaan itu terkait dengan perlakuan Allah kepada hamba Nya yang bersifat umum dan mutlak (al ‘amatul muthlaqah). Kesertaan Allah terhadap makhluknya dapat dijelaskan melalui ayat – ayat al Qur’an surat 57 ayat 4 berikut: “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit serta apa yang naik kepadaNya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.
Pada Surat al Mujadalah ayat 7 Allah swt juga berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Alah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.
Berdasarkan tabiatnya manusia dapat diklasifikasikan menjadi dua:
1.       Mukmin (al mu’min)
Mereka adalah orang orang yang beriman kepada Allah dan rukun rukun iman lainnya. Keimanan itu menjadikannya selalu merasakan pengawasan Allah (muroqabatullah) dalam dirinya.
Dalil dalil:
Kesertaan Allah atau MaiyyatullahDan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelha kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” QS. Qaf ayat 16 sampai 18
Sesungguhnya Tuhanmu benar benar mengawasi” al Qur’an Surat al Fajr ayat 14
Kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siap yang dikehendakinya dan menyiksa siapa yang dikehendaki Nya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” al Qur’an Surat al Baqarah ayat 284
Selain itu dia selalu mendapatkan dan merasakan kebaikan Allah berupa nikmat nikmat Nya yang selalu diberikan kepadanya (ihsanullah).
Dalil:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaiman Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan.” Al Qur’an Surat al Qasas ayat 77
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat Nya lahir dan batin. Dan diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan” al Qur’an surat Lukman ayat 20

Mereka selalu membalas kebaikan dengan kebaikan. Menyikapi semua itu, seorang mukmin selalu berusaha untuk taat kepada Allah swt (ath tho’atu billah) berupa peningkatan kualitas iman (al iman) dan kualitas serta kuantitas amal saleh yang lebih besar.
Dalil
Sesungguhnya Allah beserta orang orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebaikan” al Qur’an Surat an Nahal ayat 128
Hai orang orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukkanmu” al Qur’an surat Muhammad ayat 7
Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan it), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” al Qur’an surat al anfal ayat 10
Inilah kesertaan Allah yang lebih khusus (spesifik)  bersyarat (al khashatul muqayyad).
Dalil
Hai orang orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukkanmu” al Qur’an surat Muhammad ayat 7
Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan it), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” al Qur’an surat al anfal
Musa menjawab: Sekali kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku” Qur’an surat Qasas ayat 62
Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang orang kafir (musyrikin mekah) mengeluarkannya (dari mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya: janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan keterangan Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tertara yang kamu tidak melihatnya, dan al Qur’an menjadikan orang orang kafir itu yang rendah dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” Qur’an surat at Taubah ayat 40
Dan lagi lagi Allah membalas perlakuan hamba Nya dengan sesuatu yang lebih besar dan ditunggu tunggu  hamba Nya yaitu dukungan Allah  (ta’yidullah). Dan juga kemenangan serta keberuntungan dari Allah yang dianugerahkan kepada mereka (al falah)
dalil
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut turut” Qur’an surat al Anfal ayat 9
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap siaga, dan  mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda” Qur’an surat Ali Imran ayat 125
Orang orang yang mengatakan kepada saudara saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh. Katakanlah : tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang orang yang benar” Qur’an surat Ali Imran ayat 168
Tiap tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” Qur’an surat Ali Imran ayat 185

2.       Kafir (al kafiru)
Berbeda dengan mukmin, orang kafir (al kafiru) menyikapi nikmat Allah dengan kekufuran (kufrun ni’mah) dan kelalaian (al ghaflah) akibat terlena oleh kesenangan dunia. Allah swt berfirman dalam al Qur’an sebagai berikut:
dan bersabarlah kamu bersama sama dengan orang yang menyeruh Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan duni ini dan janganlah kamu mengikuti orang orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. QS. Al Kahfi ayat 28.
Di ayat lain Allah berfirman :
Mereka mengetahui nikmat allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang orang yang kafir” QS: an nahal ayat 83
Pada Surat al ‘a’raf ayat 179 Allah swt juga berfirman :
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang orang yang lalai
Hal itulah yang menyebabkan orang orang kafir bermaksiat kepada Allah swt (al ma’shiyatullah). Kemaksiatan itu semakin meningkatkan kekafirannya dan mendorongnya untuk berbuat kemungkaran, diantaranya dengan melakukan perampasan hak hak orang lain, berbuat kriminal dan lain sebagainya. Karena sikapnya yang demikian, Allah swt tidak memberikan dukungan kepadanya, sebaliknya menjadikannya terhina (al khidzlan). Akhirnya ia hanya akan mendapat kerugian, kepailitan dan kekalahan (al khusran). Kalaupun sementara ini (di dunia)  mendapat kemenangan, tapi itu hanya istidraj (penundaan). Pada saatnya ketika sudah banyak kemaksiatan yang dilakukan, jika Allah hendak menyiksanya, maka vonis Allah swt tak dapat terhindarkan. Allah berfirman dalam al Qur’an surat Ali Imran ayat 160 sebagai berikut:
Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu (tidak meberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja  orang orang mukmin itu bertawakkal”.
Dan pada surat az Zumar ayat 63 Allah swt berfirman:

Kepunyaan Nya lah kunci kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang orang yang kafir terhadap ayat ayat Allah, mereka itulah orang orang yang merugi
Read More
Konsekuensi Cinta atau Lawaazimu al Mahabbah

Konsekuensi Cinta atau Lawaazimu al Mahabbah

Cinta seseorang akan menyatukan kepentingan, sehingga menuntut konsekuensi timbal balik demi memuaskan sang kekasih (lawaazimul mahabbah). Konsekuensi itu terkait dengan loyalitas dan anti loyalitas sebagai berikut.
1.   Mencintai siapa yang dicintai sang kekasih (mahabbatu man ahabbahul mahbub). Cinta kepada kekasih berarti harus juga mencintai siap saja (orang) yang dicintai kekasihnya itu. Mencintai Allah berarti harus mencintai mereka yang dicintai Allah yaitu para malaikat Nya, para nabi dan rasul, shiddiqiin, syuhada, dan sholihiin. Allah swt berfirman di dalam al Qur’an surat an Nisa ayat 69 sebagai berikut:
“dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul Nya, mereka itu akan bersama sama dengan orang orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi nabi, para shiddiqiin, para syuhada, dan orang orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik baiknya”
2.  Mencintai apa yang dicintai sang kekasih (mahabbatu maa ahabbahul mahbub). Cinta kepada kekasih berarti harus juga mencintai apa saja (hal, sesuatu) yang dicintai kekasihnya itu. Mencintai Allah swt berarti harus mencintai apa apa yang dicintai Allah yaitu ibadah yang sunnah, sedekah, jihad, berakhlak mulia dan lain sebagainya. Mencintai apa dan siapa saja yang dicintai Allah swt merupakan wujud dari loyalitas (al wala’) yaitu solidaritas, perlindungan, keberpihakkan, pembelaan, ketaatan dan sejenisnya.
Konsekuensi Cinta atau Lawaazimu al Mahabbah3.  Membenci siapa saja yang dibenci sang kekasih (bughdhu man abghadhahul mahbub). Cinta kepada kekasih berarti harus juga membenci siapa saja yang dibenci kekasihnya itu. Seorang mukmin yang mencintai Allah menujukan kebenciannya kepada siapa saja yang tidak berpihak kepada Allah swt yaitu iblis dan setan (baik dari kalangan jin maupun manusia). Bahkan Allah menyuruh untuk menjadikan setan sebagai musuh. Sebagaimana yang difirmankan Allah swt dalam al Qur’an surat fatir ayat 6 berikut:
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala nyala”
4.  Mebenci apa saja yang dibenci sang kekasih (bughdhu maa abghadhahul mahbub). Seorang mukmin harus membenci apa saja yang dibenci oleh Allah swt berupa kemungkaran, kemaksiatan, kezhaliman, kefasikan, kemunafikan, kemusyrikan, dusta, kebohongan, kesesatan dan pembuat kerusakan lainnya (al fasad). Allah swt berfirman di dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 205 sebagai berikut:
“dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman – tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan ”
Membenci siapa dan apa saja yang dibenci oleh Allah swt adalah wujud dari anti loyalitas (al bara’) yaitu berlepas diri dan tidak berpihak kepada siapa dan apa saja yang dibenci Allah swt.
Read More
Tingkatan Cinta atau Marootibu al Mahabbah

Tingkatan Cinta atau Marootibu al Mahabbah

Cinta tertinggi seorang mukmin hanya diberikannya kepada Allah swt. Cintanya kepada yang lain harus diwujudkan dalam rangka cinta kepada Allah swt. Berikut ini tingkatan-tingkatan cinta dan kepada siapa seharusnya diberikan.
1.   Cinta tertinggi seorang hamba adalah penghambaan (tatayyum). Cinta yang semacam ini hanya boleh diberikan kepada Allah swt, dimana seseorang akan menghambakan dirinya dan menyembah Nya (al’ubudiyah).
2.     Tingkatan berikutnya adalah kemesraan (al isyq) yang diberikan kepada Rasulullah saw dan Islam (arrasul wal islam) dengan cara meneladani ajaran beliau (al ittiba’).
3.    Kerinduan (asy syauq) diberikan kepada sesama muslim yang mukmin (al mukmin) sebagai wujud kasih sayang dan cinta (ar rahhmatu wal mawaddah)
4.   Empati (ash shababah) diberikan kepada sesama muslim (al muslim) karena adanya hubungan persaudaraan (al ukhuwah)
5.  Simpati (‘athf) diberikan kepada sesama manusia (al insan) sebagai wujud kepedulian untuk mendakwahi agar mereka selamat di dunia dan akhirat (ad dakwah)
6.       Hubungan atau tingkatan terendah adalah hubungan biasa – biasa saja atau kecendrungan semata (al ‘alaqah). Cinta pada tingkatan ini diberikan kepada semua materi al madah) di langti dan di bumi untuk dimanfaatkan sebagai fasilitas dalam rangka ibadah kepada Allah swt (al ‘ittifa’). Karenanya, betapa bodoh dan sesatnya orang yang memberikan cinta kepada sesuatu yang paling rendah (materi dunia) itu sampai pada tingkat menghambakan dirinya atau menyembah segala materi tersebut. Dalam al Qur’an surat 35 (fatir) ayat 13 – 14 Allah swt berfirman:

Tingkatan Cinta atau Marootibu al Mahabbah“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan Nya lah kerajaan. Dan orang orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa apa walaupun setipis kulit ari.
Jika kamu menyeruh mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikannmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.”
Read More
Mencintai Allah Atau Mahabbatullah

Mencintai Allah Atau Mahabbatullah

Cinta adalah sebuah sifat yang ada pada setiap manusia tanpa pandang bulu. Islam memandang bahwa cinta itu sifatnya fitroh manusia sehingga Islam tidak mematikannya. Jika dikendalikan dengan arif dorongan cinta ini bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif dan produktif. Sebaliknya jika tidak dikendalikan dapat mendatangkan bencana dan malapetaka baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat kelak.
Secara umum cinta seseorang (almahabbah) kepada sesuatu dapat dikategorikan menjadi dua macam:
1.       Cinta syar’i (asy syar’iyah) yaitu cinta yang lahir karena keimanan seseorang.
Al Qur’an surat 48 ayat 29 : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang antara sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat – sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan  hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”
Al Qur’an surat al ma’idah ayat 54 sampai 56 : “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum  yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siap yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”
Al Qur’an surat Ali Imran  ayat 15 : “Katakanlah: Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”
Mencintai Allah Atau MahabbatullahAl Qur’an surat Ali Imran ayat 170 : “Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”
Al Qur’an surat at Tur ayat 21 : “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahal amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
2.       Cinta yang tidak syar’i (ghairu asy syar’iyah) yang lahir karena semata-mata hawa nafsu.
Al Qur’an surat Ali Imran  ayat 14 : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)”
Al Qur’an surat ‘Abasa ayat 34 sampai 37 : “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”
Al Qur’an surat az Zukruf ayat 67 : “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”
Dalam hal cinta kepada apa pun di dunia ini, baik yang syar’i maupun yang tidak syar’i selalu memiliki tanda-tanda (‘alamatul hubb) yang dapat kita perhatikan dengan jelas. Diantara tanda-tanda cinta tersebut adalah:
1.       Sering menyebutnya, mengingatnya (katsiratuz zikr): seseorang yang  telah mencintai sesuatu, maka ia akan sering menyebut dan mengingatnya. Jadi jika seseorang telah mencintai Allah swt maka dia akan banyak menyebut, mengingat Allah swt dalam hidupnya.
Al Qur’an surat al Anfal ayat 2 : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat)imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal”
2.       Kagum (al i’jab): seseorang biasanya mengagumi keindahan, kegagahan dan kelebihan yang ada pada diri kekasihnya. Karena Allah yang memiliki segal sifat kesempurnaan itu, maka Allah lah yang paling berhak untuk dikagumi dan dipuja-puji dalam hidup seorang hamba.
Al Qur’an surat 1 ayat 2 : “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”
3.       Ridha (ar ridha) : disebabkan rasa cinta di dalam dada, seseorang yang mencintai akan rela melakukan apa saja yang dikehendaki oleh kekasihnya dan rela atas apa saja yang dilakukan kekasihnya.
Al Qur’an surat at Taubah ayat 61 sampai 62: “Diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan : Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya. Katakanlah: Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhoanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhoannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin”
4.       Berkorban (at tadh hiyah) : orang bilang cinta itu seiring dengan pengorbanan. Semakin tinggi cinta seseorang kepada sesuatu semakin tinggi pula pengorbanan yang diberikannya.
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 207 : “Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya”
5.       Cemas ( al khauf) : Seseorang yang mencintai sesuatu, biasanya akan merasa cemas, takut kalau cintanya tak berbalas atau kelakuannya melukai perasaan kekasihnya.  Maka usaha apapun akan dilakukannya untuk menghilangkan atau mengikis rasa cemas yang ada.
Al Qur’an surat al Ambiya’ ayat 90  : “Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepada Nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan – perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”
6.       Berharap (ar raja’)  : harap-harap cemas, itulah yang biasanya terjadi pada diri seseorang yang sedang jatuh cinta, jika apa yang ia harapkan dari kekasihnya belum juga ia dapatkan. Maka ia akan selalu berharap dan berharap sampai keinginan nya terpenuhi.
Al Qur’an surat al ambiya’ ayat 90 : “Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepada Nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan – perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami”
7.       Taat (ath tha’ah) : Karena cinta yang memuncak di dalam dada, seseorang yang mencintai akan selalu menta’ati semua perintah kekasihnya. Apapun yang di larang atau tidak disukai oleh kekasihnya pasti dia akan tinggalkan atau hindari bahkan dijauhinya.
Al Qur’an surat an Nisa ayat 80 : “Barang siapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”
Semua tanda di atas adalah ekspres dari kata cinta. Maka cinta yang terbesar dan paling utama diberikan kepada Allah swt (mahabbatullah), sedangkan cinta kepada selain Allah (mahabbatu ghairullah) dibolehkan namun harus dalam kerangka cinta kepada Allah swt. Artinya tidak menyimpang  atau melebihi cintanya kepada Allah swt. Sebab cinta yang demikian itu dapat dikategorikan sebagai sebuah bentuk kesyirikan kepada Allah.
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 165 : “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)”

Al Qur’an surat at Taubah ayat 24 : “Katakanlah: Jika bapak-bapak , anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”
Read More
Makna Laa Ilaaha Illallah

Makna Laa Ilaaha Illallah

Lafazh laa ilaaha dengan nashab fathah di atas ilaaha dan bukan liaahun artinya tidak ada sama sekali. Dan illallah yang artinya kecuali Allah. Sehingga kalimat laa ilaaha illallah bermakna tidak ada (laa) [18:110; 47:19]:
1.       Pencipta (khaliqa)
Al Qur’an surat al Furqan ayat 2 : “Yang kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”
2.       Pemberi rezeki (raziqa)
Al Qur’an surat 51 ayat 57-58 : “Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”
3.       Pemilik (malika)
Al Qur’an surat an Nisa ayat 131-132 : “Kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberik kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, Bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Dan kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, cukuplah Allah sebagai Pemelihara”
Al Qur’an surat al Baqara ayat 284 : “Kepunyaan Allah lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”
Al Qur’an surat al Jumu’ah ayat 1 : “Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana”
Al Qur’an surat Yasin ayat 83 : “Maka Maha Suci (Allah) yang  di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada Nya lah kamu dikembalikan”
Al Qur’an surat al Mulk ayat 1 : “Maha Suci Allah Yang ditangan-Nya lah segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”
Al Qur’an surat Ali Imran ayat 189 : “Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu”
4.       Pembuat hukum (hakima)
Makna Laa Ilaaha IllallahAl Qur’an surat Yusuf ayat 40 : “Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Al Qur’an surat al An’am ayat 114 : “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (al Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa al Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali – kali termasuk orang yang ragu-ragu.”
Al Qur’an surat al Ahzab ayat 36 : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya  telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat , sesat yang nyata.”
Al Qur’an surat al Qasas ayat 68 : “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah  dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).”
Al Qur’an surat al Jatsiyah ayat 18 : “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”
Al Qur’an surat ash Shuraa ayat 20 : “Barang siapa yang mengkehendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagiapun di akhirat”
Al Qur’an surat al An’am ayat 137 : “Dan demikianlah pemimpin pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”
5.       Pemberi perintah (amira)
Al Qur’an surat al A’raf ayat 54 : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”
6.       Pemimpin (waliya)
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 257 : “Allah pelindung ornag-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari pada cahaya kepada kegelapan (kekafiran).  Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”
7.       Kekasih (mahbuba)
Al Baqarah ayat 165 : “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)”
8.       Yang ditakuti (marhuba)
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 40 : “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji Ku kepadamu, dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut (tunduk)”
Al Qur’an surat at Taubah ayat 18 : “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”
9.       Yang diharapkan (marghuba)
Al Qur’an surat al Insirah ayat 8 : “Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”
Al Qur’an surat al Kahfi ayat 110 : “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah dia mengerjakan kebajikan (beramal shaleh) dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya”
10.   Pemberi manfaat dan mudharat (nafi’a wa la dharra)
Al Qur’an surat al An’am ayat 17 : “Dan jika Allah menimpakan bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”
11.   Yang menghidupkan dan mematikan (muhya wa la mumita)
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 258 : “Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya, karena Allah telah memberinya kerajaan(kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata : Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan, Dia berkata: Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata : Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat. Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”
12.   Yang mengabulkan do’a (mujiba)
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 186 : “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia berdo’a kepada Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah) Ku dan beriman kepada Ku agar mereka memperoleh kebenaran”
Al Qur’an surat al Mu’min ayat 60 : “Dan Tuhanmu berfirman: berdo’alah kepada Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina”
13.   Pelindung (mustajara bihi)
Al Qur’an surat  an Nahal ayat 98 : “Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca al Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk”
Al Qur’an surat al Jinn ayat 6 : “Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat”
14.   Tempat bertawakkal (wakila)
Al Qur’an surat Ali Imran ayat 159 : “Maka berkat rahmat Allah Engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkan lah ampunan untuk mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal”
Al Qur’an surat at Taubah ayat 52 : “Katakanlah (Muhammad): Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan azab kepadamu dari sisi-Nya. Atau (azab) melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu (pula) bersamamu”
Al Qur’an surat al An’am ayat 17 : “Dan jika Allah menimpakan bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”
15.   Yang diagungkan (mu’azhama)
Al Qur’an surat al An’am ayat 91 : “Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata : Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia. Katakanlah (Muhammad): Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran yang bercerai berai, kamu memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan kepadmu apa yang tidak diketahui, baik olehmu maupun oleh nenek moyangmu. Katakanlah : Allah lah (yang menurunkannya)kemudian (setelah itu) biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya”
16.   Tempat memohon pertolongan (musta’ana bihi)
Al Qur’an surat al Fatihah ayat 5 : “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami minta tolong”

Semua yang di atas itu tidak ada, kecuali Allah (illallah). Makna secara keseluruhannya adalah bahwa tidak ada yang memiliki predikat seperti yang tersebut di atas kecuali hanya milik Allah swt semata.
Read More
Hidup di Bawah Naungan Tauhid

Hidup di Bawah Naungan Tauhid

Hidup mulia hanya akan diraih apabila seseorang hanya berwala’ (loyal) kepada satu Tuhan yang Maha sempurna yaitu Allah swt dengan pemahaman aqidah yang benar dan sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah saw tentang:
1.     Zat-Nya (adz dzat)
Al Qur’an surat al Ikhlas ayat 1 dan 2 : “Katakanlah (Muhammad): Dialah Allah Tuhan Yang Maha Esa. Allah tempat memintah segala sesuatu ”
Al Qur’an surat asy Syura ayat 11 : “(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menciptakan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat”
Al Qur’an surat al An’am ayat 103 : “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Teliti”
2.      Sifat-sifat-Nya (ash shifat)
Al Qur’an surat al A’raf ayat 180 : “Dan Allah memiliki nama-nama yang baik (asmaul husna), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”
Al Qur’an surat al Isra’ ayat 110 : “Katakanlah (Muhammad): Serulah Allah atau serulah ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru,karena Dia mempunyai nama-nama yang baik (asmaul husna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam sholat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah diantara kedua itu”
3.       Nama-nama-Nya (al asma’)
Al Qur’an surat 59 ayat 22 sampai 24 : “Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Mahasejahterah, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa,Dia memiliki nama-nama yang indah, apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya, dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”
Al Qur’an surat al A’raf ayat 180 : “Dan Allah memiliki nama-nama yang baik (asmaul husna), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”
4.       Perbuatan-Nya (al af’al)
Hidup di Bawah Naungan TauhidAl Qur’an surat al Buruj ayat 16 : “Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki”
Al Qur’an surat al Anbiya’ ayat 23 : “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanya”
Al Qur’an surat al Insan ayat 29 sampai 31 : “Sungguh (ayat-ayat) ini adalah peringatan, maka barang siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) tentu dia mengambil jalan menuju kepada Tuhannya. Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dia memasukkan siapa pun yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya (surga), adapun bagi orang-orang yang zalim disediakan-Nya azab yang pedih”
Konsekuensi dari pemahaman tersebut mengharuskan seseorang untuk mentauhidkan Allah (at tauhid) dalam hal-hal berikut:
1.     Asma dan sifat (al ashma-u wash shifat): Yakin bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat sempurna, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Asma Allah lebih dari yang kita ketahui karena Allah masih merahasiakan nama-nama-Nya. Rasulullah saw pernah berdo’a :” ....aku mohon dengan setiap nama yang menjadi milik Mu, yang Engkau gunakan untuk menamai diri Mu sendiri, atau yang Kau turunkan kepada salah seorang di antara hamba Mu, atau Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi Mu...”
Al Qur’an surat al fatihah ayat 1 : “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”
2.   Rububiyah (ar rubbubiyah): Yakin bahwa Allah adalah Tuhan yang Menciptakan dirinya, dan menciptakan alam semesta dan segala isinya untuk jaminan kehidupannya.
Al Qur’an surat al Fatihah ayat 2 : “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”
Al Qur’an surat  an Nas ayat 1 : “Katakanlah : Aku berlindung dengan Tuhan manusia”
Al Qur’an surat  al a’raf ayat 54 : “Sungguh Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah Tuhan seluruh alam”
3.     Mulkiyah (al mulkiyah): Yakin bahwa Allah adalah Yang Menguasai seluruh kerajaan langit dan bumi
Al Qur’an surat Ali Imran ayat 26 : “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”
Al Qur’an surat Ali Imran ayat 189 : “Dan milik Allahlah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”
4.   Uluhiyah (al uluhiyah):Yakin bahwa karena sifat-sifat-Nya yang sempurna, Allah adalah satu-satunya zat yang berhak disembah
Al Qur’an surat al Fatihah ayat 5 : “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami minta tolong”
Al Qur’an surat an Nas ayat 3 : “Sembahan (Tuhan) manusia”
Ketika mengikrarkan laa ilaaha illallah [18 : 110] seseorang yakin bahwa :
1.      Allah lah yang tercinta (allahul mahbub)
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 165 : “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)”
Al Qur’an surat al Anfal ayat 2 : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat)imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal”
2.      Allah lah Tuhan yang dituju (ar rabbul maqshud)
Al Qur’an surat al An’am ayat 162 : “Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam”
3.       Raja yang ditaati (al malikul mutha’)
Al Qur’an surat an Nisa ayat 59 : “Wahai orang-orang yang beriman, Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”
4.      Allah lah Tuhan yang di sembah (al ilahul ma’bud)
Al Qur’an surat az zariyat ayat 56 : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada ku.”
Keyakinan seperti itulah yang akan mengantarkan seseorang merasakan kehidupan yang mulia (hayatun thayibah) di bawah naungan Tauhid.
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 208 : “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu”
Al Qur’an surat an Nahl ayat 97 : “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami berikan balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”
Read More