Showing posts with label Kajian Islam. Show all posts
Showing posts with label Kajian Islam. Show all posts
Keberuntungan Hidup Seorang Mukmin Membuat Kagum Rasulullah

Keberuntungan Hidup Seorang Mukmin Membuat Kagum Rasulullah

Masalah atau ujian merupakan bagian dari kehidupan setiap manusia karena itu tiada seorangpun yang terbebas darinya. Masalah tidak saja menyangkut hal-hal yang negatif akan tetapi juga meliputi hal yang diangap positif. Dalam Islam kita lebih sering mengenalnya dengan istilah ujian.
Allah swt berfirman dalam al Qur'an Surat al Mulk ayat 2:  "( Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang paling baik (berkualitas) amal perbuatannya".
Dari ayat di atas dapat kita fahami bahwa Allah menciptakan kita untuk diuji apakah kita bisa berbuat yang terbaik dalam setiap keadaan. Ujiannya bisa saja berupa kesenangan atau hal yang kita anggap positif dan bisa juga dengan kesedihan, ketidakenakan atau yang kita anggap negatif.
Apakah kita harus lari dari ujian? Tentu saja tidak, karena selagi kita hidup di dunia ini, kita akan selalu menghadapinya. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyikapi ujian tersebut dengan sebaik-baiknya. Jika kita mampu menyikapinya dengan baik, maka kita akan beruntung begitu juga sebaliknya jika kita buruk dalam menyikapinya, maka kita akan celaka.
Rasulullah saw pernah bersabdah " Aku bangga dengan seorang mukmin, yang semua keadaan itu baik baginya. Jika ia ditimpa musibah, maka dia bersabar, itupun baik baginya dan jika ia mendapat nikmat ia bersyukur itupun juga baik baginya"
Jadi bagi seorang mukmin setiap keadaan dalam hidupnya semuanya merupakan sumber kabaikan bagi dirinya. Kebaikan yang diperolehnya itu ternyata bergantung pada cara menyikapi setiap masalah yang dihadapinya. Jika ia menganggap masalah itu ada dipundaknya, maka ia bersabar dan yakin akan pertolongan serta pahala yang besar dari Allah. Jika ia menganggap masalah itu ada di depannya, ditangannya maka ia bersyukur karena diberikan kesempatan oleh Allah untuk menyelesaikan, mengatur atau mengelolah  masalah tersebut. 
Itulah keberuntungan seorang mukmin yang tak akan didapatkan oleh selainnya. Kenapa demikian? Karena bagi orang yang tak beriman jika masalah itu ada dipundaknya, ia hanya menganggapnya sebagai beban yang menyesakkan dadanya sehingga hidupnya menderita bahkan tak jarang melahirkan masalah dan dosa baru. Jika masalah itu ada di tangannya, digenggamannya maka dia akan mengelolanya sesuai keinginan dirinya bukan keinginan Tuhan yang telah memberikan kepadanya. Dari dua keadaan ini seorang yang bukan mukmin hanya akan menghasilkan dosa, karena tidak ada pahala sabar dan syukur di dalamnya.
Read More
Surga Hadiah Dari Allah Bagi Orang-Orang Yang Bertakwa

Surga Hadiah Dari Allah Bagi Orang-Orang Yang Bertakwa

Dalam banyak ayat al Qur'an Allah swt memberitahukan kepada para hambanya bahwa surga itu dihadiakan bagi orang-orang yang bertakwa. Diantaranya dapat kita lihat pada surat Qaf, az Zariyat, at Tur sebagai berikut:

Qur'an Surat Qaaf ayat 31 : "Sedangkan Surga itu didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat-tempat yang tidak jauh (dari mereka)"

Qur'an Surat az-Zariyat  ayat 15: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air"

Qur'an Surat at-Tur ayat 17 : "Sesungguhnya orang - orang yang betakwa berada dalam surga dan kenikmatan"

Selain ayat di atas juga masih banyak kita jumpai pada ayat-ayat dan surat lain yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang bertakwa. Karena itu tidak ada pilihan bagi kita kecuali berusaha untuk mencapai derajat ketakwaan. Allah sudah berpesan kepada kita bahwa bekal yang paling baik untuk menghadap Allah adalah takwa. Cobalah kita renungkan pesan Allah berikut ini:

Surga Hadiah Dari Allah Bagi Orang-Orang Yang BertakwaQur'an Surat al Baqarah ayat 197 : "... berbekallah kalian (bawalah bekal), maka (ketahuilah) sebaik-baik bekal adalah takwa..."

Walaupun ayat di atas berbicara tentang ibadah haji dan memerintahkan jama'ah haji untuk membawa perbekalan, tetapi diujung perintah membawa bekal-Nya itu Allah menyelipkan berita bahwa sebaik-baik bekal itu adalah takwa bukan harta. Dengan kata lain dapat kita simpulkan bahwa bekal takwa itu harus lebih kita utamakan dari pada bekal harta, bukan sebaliknya. 
Begitu pentingnya bekal takwa kepada kita, maka Allah perintahkan kepada kita untuk meraihnya. Karena Allah menyatakan bahwa Takwa adalah tiket untuk memasuki surganya Allah swt. Marilah kita renungkan perintah Allah swt berikut ini:

Qur'an Surat Ali Imran ayat 133 : "Bersegerahlah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian (Allah) dan (mendapatkan) surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang Allah peruntukkan bagi orang-orang yang bertakwa"

Dari ayat di atas jelas Allah memerintahkan kepada kita untuk bersegerah meraih ampunannya dengan cara beristighfar memohon ampunannya, selalu bertobat kepadanya siang dan malam pagi dan petang. Seperti yang dilakukan oleh baginda Rasulullah yang tidak kurang dalam satu hari beristighfar kepada Allah 70 kali, padahal beliau adalah orang yang sudah dijamin ampunan dan rahmat dari Allah swt.

Pada ayat di atas Allah juga perintahkan kita untuk meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang di dalamnya setiap orang akan merasakan dirinya seolah - olah seorang raja yang selalu dilayani kebutuhannya oleh para bidadari surga yang matanya cantik jelita. makan dan minuman yang tidak tertandingi oleh makanan dan minuman dunia. kasur yang empuk bertahtakan permata dan naungan yang sejuk serta mata air-mata air yang lezat dan indah. Tidak ada persaingan di dalamnya dan semua penghuninya merasa puas karenanya.  Dan di sisi Allah juga ada tambahan yaitu melihat wajah Allah swt sang pencipta manusia.

Pada ayat di atas juga Allah tegaskan bawah surga itu diperuntukkannya bagi orang-orang yang bertakwa kepadanya. Lantas apa itu takwa yang Allah perintahkan kita untuk berbekal kepadanya melebih bekal-bekal yang lainnya? Apa itu takwa yang membuat Allah menjadikannya sebagai kunci surga? Pada ayat berikutnya Allah menjelaskan sebagian dari sifat orang - orang yang bertakwa itu kepada kita.

Qur'an Surat Ali Imran ayat 134 : " Yaitu orang - orang yang berinfaq dalam keadaan lapang dan dalam waktu sempit, dan orang-orang yang sanggup mengendalikan amarahnya, dan orang-orang yang suka memaafkan kesalahan manusia dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan" 
....
Read More
Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 4

Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 4

Sebelumnya kita sudah menjawab secara singkat pertanyaan kenapa puasa ramadhan mampu meningkatkan kualitas seorang hamba yang beriman menjadi orang-orang yang bertakwa. Bahasan kita selanjutnya adalah menjawab pertanyaan "kenapa kita perlu bertakwa?" atau "ada apa dengan takwa?" atau mungkin pertanyaan "apa untungnya kalau kita bertakwa?". Tentu jawaban yang paling benar hanya Allah dan Rasulnya saja yang paling tahu. Tetapi sebagai seorang hamba yang diwarisi kitab Allah (al Qur'an), rasanya tidak salah juga kita mencari tahu maksud dari ayat ini untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan dalam diri kita.
Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 4
Takwa adalah sebuah kata yang sudah sangat terkenal di kalangan kaum muslimin, bahkan non muslim pun sudah banyak yang tahu dengan kata yang satu ini. Jika kita seorang laki-laki muslim dan rutin mengikuti ibadah jum'at, akan selalu mendengar pesan takwa ini dari para khatib sebelum memulai khutbah jum'atnya. Bahkan tidak sedikit masjid khususnya di Indonesia yang dinamakan dengan Masjid Takwa (at Taqwa), dengan harapan orang-orang yang masuk ke dalamnya menjadi hamba-hamba yang bertakwa. Sungguh takwa adalah sebuah kata terkenal, mudah diucapkan tapi belum tentu mudah untuk mencapainya. Apakah mencapainya sesuatu yang tidak mungkin? Menurut saya tentu tidak juga, karena kalau Allah memerintahkan hambanya (dalam al Qur'an) untuk menjadi orang-orang yang bertakwa berarti derajat itu adalah sesuatu yang mungkin untuk diraih. Tidak mungkin Allah swt memerintahkan sesuatu yang tidak mungkin sanggup dilakukan hamba-hamba-Nya.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka kita akan memulainya dengan menjelaskan definisi atau pengertian dari kata takwa tersebut. Sebetulnya definisi dari kata takwa sudah banyak diungkapka oleh para ulama dengan redaksi yang berbeda-beda tapi pada intinya bermaksud sama. Pada kali ini kita akan coba tuliskan definisi takwa yang tercantum dalam situs wikipedia berbahasa Indonesia sebagai berikut.

Takwa / Taqwa dalam bahasa Arab berarti memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan dan menjauhi larangan-Nya, jadi tidak cukup diartikan dengan 'takut' saja. Adapun arti lain dari kata takwa sebagai berikut:
  1. Melaksanakan segala perintah Allah
  2. Menjauhkan diri dari segala larangan Allah (yang haram)
  3. Ridho dan ikhlash menerima ketentuan dan hukum-hukum Allah.
Takwa berasal dari kata waqa, yaqi, wiqayah yang artinya memelihara yaitu memelihara diri dalam menjalani hidup sesuai dengan petunjuk atau tuntunan Allah. Sedangkan menurut bahasa Qurays, kata takwa lebih dekat kepada kata waqa yang bermakna melindungi sesuatu yaitu memelihara dan melindunginya dari sesuatu yang membahayakan dan merugikan.

Berkaitan dengan takwa ini, banyak juga kisah-kisah orang yang bertakwa yang dapat kita jadikan contoh dalam menapaki kehidupan ini. Suatu hari khalifah Umar bin Khatab (kalau tidak salah) pernah berjalan-jalan, kemudian beliau bertemu dengan pengembala domba. Kemudian beliau meminta susu kepadanya dan pengembala menjawab ini bukan domba saya. kemudian Umar berkata bagai mana kalau saya beli satu saja dan tuanmu pasti tidak akan tahu? Pengembala tersebut menjawab : "Kalau begitu dimana Allah?".
Kisah lain ada juga mengungkapkan bahwa salah seorang sahabat ditanya oleh sahabat lainnya (namanya sengaja tidak disebutkan karena penulis ragu-ragu) tentang makana takwa, kemudian beliau menjawab:" Pernahkah kamu berjalan di sebuah lembah yang penuh duri? sahabatnya menjawab: pernah. Bagaimana kamu berjalan di sana? : sahabatnya menjawab: Saya berjalan dengan hati-hati karena tidak mau tertusuk duri. Kemudian sahabat tadi berkata : Itulah takwa! dan masih banyak lagi kisah - kisah orang takwa lainnya yang tak mungkin saya tuliskan di sini. Kalu melihat definisi di atas dan dua kisah yang tadi, maka ibadah puasa sangat memungkinkan untuk mewujudkannya.

Kalau begitu apa untungnya seorang hamba bertakwa? Untungnya ya sangat banyak sekali dan Allah sudah sampaikan kepada kita lewat Kitab dan Rasul-Nya. Berikut ini adalah beberapa keuntungan kalau seorang hamba bertakwa:
  1. Rahmat (ar rahmah): rahmah merupakan bentuk kasih sayang yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Dalam hadis rasulullah mengatakan bahwa Allah menciptakan 100 rahmah, satu dari seratus itu diturunkannya ke bumi yang dengan itu semua makhluk berbagi kasih sayang sehingga unta pun akan mengangkat kakinya karena tak ingin anaknya terinjak. sedangkan yang 99 lagi disimpan Allah di langit dan akan diberikannya kepada hamba-hambanya yang beriman dan bertakwa nanti di surga-Nya. ["Ini adalah Kitab (al Qur'an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat".QS.al An'am ayat 155]
  2. Pembeda/filter (al furqan): Takwa memberikan cahaya dan kemampuan lebih bagi orang yang memilikinya untuk membedakan antara yang halal dan yang haram, yang benar dan yang salah, yang jelas dan yang subhat.["Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang haq dan yang bathil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Allah memiliki karunia yang besar". QS.al Anfal ayat 29]
  3. Keberkahan (al barokah): Keberkahan hidup hanya akan diberikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa. [ "Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyat mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan". QS.al A'raf ayat 96]
  4. Solusi (al makhraj): Allah akan memberikan solusi atau jalan keluar dari masalah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya dari berbagai permasalahan yang di luar kemampuannya.[ "...Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar (solusi) baginya". QS.at Thalaq ayat 2]
  5. Rezeki (ar rizq): Orang yang bertakwa akan mendapat rezeki lebih dari apa yang ia perkirakan atau bahkan dari arah yang tak disangka-sangka. Allah menjanjikan itu di dunia ini, dan di akhirat nanti lebih lagi berupa kebahagiaan yang tiada bandingannya.[ "Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka". QS.at Thalaq ayat 3]
  6. Kemudahan (al yusra): Orang yang beriman dan bertakwa memiliki hati yang bening dan fikiran yang jernih, dan dengan bimbingan Allah swt akan mendapati kemudahan-kemudahan seiring kesulitan yang melandanya.[QS.94:6, 65:4]
  7. Pemutihan atau penghapusan kesalahan (takfirus sayyi'at): orang yang bertakwa senantiasa dalam kebaikan, dan kebaikan itu menghapus keburukan dan kesalahan yang pernah dilakukannya sebagaimana air memadamkan api.[QS. 65:5, 8:29]
  8. Ampunan (al ghufran): Orang yang bertakwa selalu sensitif terhadap dosa-dosanya, maka ia pun terus bertaubat atas kesalahan dan dosanya. Allah maha pengampun bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan bertaubat.[QS. 65:5, 8:29]
  9. Pahala yang besar ('azhamatul ajr): Takwa identik dengan taat, dan setiap bentuk ketaatan pasti mendapat balasan (pahala) yang setimpal bahkan berlipat ganda dari Allah swt.[QS.65:5]
Berbagai fasilitas tambahan bagi orang yang bertakwa itu akan diperolehnya di dunia ini (fid dunya hasanah) [QS. 2:200-201] dan di akhirat nanti akan digenapi semua balasan kebaikannya itu (fil akhiroti hasanah) [QS.28:77, 65:5, 2:201]. Itulah harga diri, kebesaran dan kejayaan sejati yang akan dimiliki seorang hamba yang bertakwa.[QS.63:8, 49:13]
Read More
Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 3

Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 3

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa harus dengan berpuasa orang beriman agar mendapatkan derajat takwa di sisi Allah swt. Di dalam Islam ada banyak ibadah yang harus dilakukan mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Mulai dari ibadah mahda sampai ghairu mahda, dari yang munfarid sampai yang dilakukan berjama’ah. Pokoknya di dalam Islam semua amal perbuatan yang baik (selain bermaksiat) itu bisa bernilai ibadah, asalkan niatnya lillahi ta’ala. Kembali mengulang konsep tarbiyah ramadhan sebelumnya bahwa orang-orang beriman perlu ditingkatkan derajatnya ke tingkat takwa dengan cara menjalankan ibadah puasa,  maka tentu ada sesuatu yang besar dengan ibadah yang satu ini.
Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 3
Pengertian ibadah puasa yang telah masyur di tengah-tengah kita adalah menahan diri dari makan dan minum dan hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Semua kita sudah sepakat dengan pengertian ini, mulai dari ujung timur sampai ujung barat, dari kutub utara sampai kutub selatan. Lantas kenapa puasa ini bisa bikin orang bertakwa? Tentu ada kaitannya dengan sifat-sifat orang yang bertakwa yang akan kita jelaskan pada bagian selanjutnya.
Al Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa orang – orang yang bertakwa kepada Allah memiliki ciri-ciri, sifat dan perilaku tertentu yang sangat mungkin untuk diwujudkan dengan menjalankan ibadah di bulan ramadhan yang mulia ini. Berikut ini adalah beberapa ciri dari orang-orang yang bertakwa yang diceritkan oleh al Qur’an kepada kita:
“bersegerahlah kalian untuk memperoleh ampunan dari tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan  bumi yang diperuntukkannya bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang berinfak baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang lain, dan Allah mencintai orang-orang  yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila (terlanjur) mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri (mereka segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang yang beramal.” (Ali Imran ayat 133 sampai 136)
1.Orang yang bertakwa itu selalu menginfakan hartanya dalam keadaan sempit ataupun dalam keadaan lapang. Kalau kita lihat diantara bulan-bulan yang ada, bisa kita pastikan bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang paling banyak orang melakukan infak, walaupun keadaan mereka dalam keadaan sulit. Yang demikian itu mereka lakukan karena ingin mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah swt.
2. Orang yang bertakwa itu selalu bisa mengendalikan amarah (sabar). Jika kita mau jujur maka kita akan merasakan sendiri bagaimana kita bisa berjuang untuk mengendalikan amarah di bulan ramadhan ini jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Dengan ibadah di bulan ramadhan selama sebulan penuh diharapkan dapat melatih diri kita untuk tetap dapat mengendalikan amarah (sabar) ini dibulan-bulan lainnya.
3.Orang yang bertakwa itu selalu memaafkan kesalahan manusia. Salah satu ciri orang yang bertakwa itu adalah suka memaafkan kesalah orang lain. Dan kita bisa lihat dan alami sendiri betapa ramadhan ini membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang pemaaf. Bahkan sebelum ramadhan ini dimulai pun kita sudah diharuskan (bahkan bisa wajib) untuk meminta maaf, agar ibadah ramadhan kita diterima di sisi Allah swt.
4. Orang-orang yang bertakwa itu selalu rajin minta ampun (bertaubat ) kepada Allah atas kesalahan yang dilakukan baik yang sengaja maupun tak disengaja, yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan itu kita lihat dan alami sendiri di bulan ramadhan ini kita banyak-banyak mohon ampunan kepada Allah swt dan berjuang sekuat tenaga untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang tak berguna apalagi dosa.
5. Orang-orang yang bertakwa selalu merasakan muraqabah (pengawasan) dari Allah. Jika kita mau jujur, maka kita akan merasakan sendiri bahwa dibulan puasa kita merasakan bahwa diri kita di awasi oleh Allah swt. Sebagai buktinya, kita tidak berani makan dan minum, besetubuh dan lain-lainya walaupun kita tidak diketahui oleh orang lain. Padahal makanan, minuman , istri atau suami adalah milik kita dan hak kita. Tetapi karena kita merasa di awasi kita tinggalkan itu semua dan rela merasakan haus dan lapar sampai waktu berbuka tiba.
6. Orang takwa itu ikhlas ibadanya karena Allah. Dan keikhlasan itu sangat mungkin kita latih dengan menjalankan ibadah di bulan ramadhan ini. Kita berlapar-lapar, haus dan dahaga, letih, ruku’ dan sujud, tilawah al Qur’an, sedekah kita lakukan karena hanya mengharapkan ridha dari Allah swt.
7. Orang takwa itu wara (hati-hati) dalam hidupnya supaya tidak jatuh ke dalam dosa. Di bulan puasa sikap kehati-hatian ini selalu kita latih, karena tidak ingin ibadah ramadhan yang kita lakukan tak bernilai di sisi Allah swt.

Selain hal di atas banyak lagi sifat-sifat orang yang bertakwa yang sangat dan hanya mungkin untuk kita wujudkan dengan mudah di bulan ramadhan yang mulia ini.  Untuk selanjutnya adalah kenapa kita harus bertakwa, apa perlunya takwa itu bagi kita?
Read More
Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 2

Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 2

Pada bagian sebelumnya kita sudah membahas konsep tarbiyah ramadhan yang terdiri dari input proses dan output. Inputnya adalah orang-orang yang beriman, prosesnya adalah ibadah di bulan ramadhan dan output yang ingin dihasilkan adalah derajat ketakwaan. Untuk memudahkan kita dalam membahas konsep ini, maka kita akan menjawab pertanyaan yang sudah dikemukakan pada bahasan sebelumnya. Pada kali ini kita akan mencoba menjawab pertanyaan yang pertama yaitu kenapa orang-orang yang beriman yang diseru untuk dijadikan input untuk mengikuti proses tarbiyah ramadhan. Apakah tida mungkin bagi yang tidak beriman untuk melakukan ibadah romadhan ini? Sekali lagi pertanyaan ini kita munculkan bukan untuk mempertanyakan keputusan atau kebijakan Allah swt, melainkan untuk memudahkan kita dalam memahami, merenungi kandungan dari ayat yang mulia ini.
Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 2Jika kita mengelompokkan manusia yang ada di muka bumi ini, maka secara umum kita akan menemukan dua golongan manusia. Golongan pertama adalah golongan orang yang percaya akan ketuhanan Allah swt dan kenabian Muhammad saw dan golongan yang kedua adalah sebaliknya.  Untuk golongan pertama sudah disepakati penyebutannya sebagai orang-orang Muslim, sedangkan golongan yang kedua dinamakan dengan orang-orang kafir atau non muslim.
Pada kesempatan ini kita akan fokus membahas kelompok pertama yaitu orang-orang yang dikategorikan sebagai seorang muslim. Kenapa? Karena dalam konsep Islam, orang-orang beriman (mumin) itu syaratnya adalah seorang Muslim.  Kalau begitu timbul pertanyaan apakah orang-orang sebelum datangya Islam tidak ada yang beriman? Untuk menjawabnya marilah kita simak salah satu dari sekian banyak pemberitahuan dari Allah tentang apa itu muslim dan siapa saja orangnya. Cobalah renungkan ayat berikut ini:
“adakah kamu hadir ketika ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’  Mereka menjawab : ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, ibrahim, Ismail, Ishaq, yaitu (Tuhan) Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadanya (wa nahnu lahuu muslimuuna) (al Baqarah : 133)
“Katakanlah : ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadanya (wa nahnu lahuu muslimuuna) (al Baqarah : 136)
Jadi dari dua ayat ini saja kita bisa ambil kesimpulan bahwa sebenarnya setiap orang yang mengimani bahwa Allah adalah Tuhannya tanpa ada yang lainnya dan mengakui kitab-kitab yang diberikan kepada nabi-nabi adalah seorang muslim (tunduk kepada Allah). Inilah konsep Muslim dalam Islam. Bagi Islam agama yang diajarkan mulai dari nabi Adam sampai nabi Muhammad adalah Islam, karena tidak mungkin Allah menurunkan banyak agama dengan Tuhan yang berbeda-beda. Sekarang marilah kita tinggalkan perkara ini karena pembahasan kita akan terlalu luas dan mudah-mudahan ada waktu dikesempatan lain untuk membahasnya.

Di dalam Islam kita mengenal istilah-istilah seperti Muslim (orang Islam), Mukmin (orang beriman), Muttaqiin (orang bertakwa), fasik, munafik, zhalim, kafir. Orang muslim adalah orang yang sudah melakukan atau mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain). Orang Muslim belum tentu mukmin atau beriman. Ini dapat dilihat pada firman Allah surat al Hujarat yang membanta pernyataa orang Arab Badui yang sudah mengaku beriman, tetapi Allah patahkan atau bantah pengakuan mereka dan menyuruh mereka mengatakan baru Islam atau ditundukkan.

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman’ Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah: ‘Kami telah Islam (tunduk)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al Hujarat ayat 14)

Dengan demikian Islam itu belum tentu beriman, tapi sebaliknya mukmin atau beriman pasti seorang muslim. Sebagaimana dengan orang Islam bisa menjadi mukmin, mereka bisa saja menjadi fasik, munafik, zhalim dan kafir.

Allah hanya menyeru kepada orang-orang mukmin untuk melaksanakan puasa ramadhan. Kenapa tidak orang muslim, fasik, munafik, zhalim dan sebagainya. Tentu saja kaitannya ibadah romadhan ini akan terasa berat untuk dilaksanakan kecuali bagi orang-orang yang beriman. Jangankan untuk ibadah puasa yang butuh perjuangan, ibadah yang ringan dan santai saja mereka tidak sanggup melakukannya. Apalagi melakukan ibadah yang jelas-jelas banyak bertentangan dengan hawa nafsu mereka.
Read More
Konsep Tarbiyah (Pendidikan) Ramadhan Bagian 1

Konsep Tarbiyah (Pendidikan) Ramadhan Bagian 1

Ramadhan adalah salah satu bulan yang paling terkenal di dalam Islam. Pada bulan ini Allah telah turunkan al Qur'an ke bumi. Pada bulan ini ummat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa (shaum). Pada bulan ini juga terdapat suatu malam yang kadar nilainya lebih baik dari seribu bulan sehingga barang siapa yang beribadah, berdo'a dan memohon ampunan niscaya Allah akan kabulkan. Bagi ummat Islam, bulan ini mendapatkan banyak julukan yang diantaranya adalah bulan rahmat, bulan ampunan dan bulan tarbiyah atau bulan pendidikan.
Konsep Tarbiyah (Pendidikan) Ramadhan Bagian 1Pada bagian ini kita akan mencoba untuk membahas konsep Ramadhan sebagai bulan tarbiyah atau bulan pendidikan dan pelatihan bagi umat Islam. Meminjam konsep atau istilah pendidikan modern bahwa konsep sistem pendidikan terdiri dari input, proses dan output. Sebuah sistem pendidikan dapat diukur dengan melihat output yang dihasilkan oleh sistem itu. input pendidikan adalah calon peserta didik yang akan digodok, digembleng atau dibentuk dalam sebuah sistem. Jika inputnya bagus, maka peluang untuk menghasilkan output yang bagus semakin besar. Sebaliknya jika inputnya jelek maka peluang untuk mendapatkan hasil atau output yang berkualitas tentu tidak semudah yang pertama. Artinya apa? Usaha yang dilakukan untuk mengubah input yang jelek supaya menjadi berkualitas atau bagus harus lebih besar dibandingkan usaha untuk membentuk input yang sudah bagus. Apakah kalau input sudah bagus outputnya akan bagus? belum tentu. Kenapa? ya pendidikan tidak bisa disamakan dengan sebuah mesin yang hanya mengolah benda - benda mati yang tidak punya kehendak. Dalam proses pengolahan mesin pendidikan input pendidikan ( dalam hal ini manusia) yang bersifat hidup dan dinamis akan mengalami banyak hal. Tentunya kita membutuhkan sebuah mesin pemroses yang bisa menjaga sifat dinamis ini tetap baik dan bertambah baik.
Dalam sistem pendidikan proses juga sangat menentukan dan bahkan mungkin ini lebih dominan dalam dalam rangka mencetak lulusan atau output yang bekualitas. Jika proses yang dibangun sempurna atau berkualitas maka input yang baik akan menjadi lebih baik, dan input yang jelek akan menjadi baik. Tentunya dalam hal ini faktor lingkungan juga memberikan pengaruh yang signifikan dalam menunjang proses pendidikan. Jika proses yang dijalankan berkualitas ditambah dengan efek atau pengaruh atau dukungan yang baik dari lingkungan, tentu hasil atau output yang diharapkan akan sangat mungkin untuk didapatkan. Sebaliknya jika proses tidak berkualitas, lingkungan (environtment) juga tidak mendukung maka output yang baik barangkali hanya akan menjadi impian.
Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas bahwa tujuan dari sistem pendidikan ini adalah menghasilkan output yang berkualitas baik secara kognitif, afektif dan psikomotornya. Jika output yang dihasilkan tidak baik, maka besar kemungkinan proses, input dan lingkungan ada masalah. Jika outputnya baik, kita yakin proses, lingkungan dan bahkan input memang sudah baik. Jadi biasa kalau output dijadikan orang sebagai acuan untuk menilai keberhasilan sebuah sistem pendidikan.
Mari Kita Kembali ke pokok pembahasan bulan Ramadhan sebagai bulan tarbiyah bagi umat Islam. Bagi yang hidup sudah puluhan tahun, tentunya sudah mengalami berkali-kali pendidikan dalam bulan ramadhan. Saya yakin yang membaca ini merupakan orang yang sudah mengalami pendidikan dan tarbiyah di bulan ramadhan. Jika kita sebagai salah seorang peserta tarbiyah itu pasti sudah tidak asing lagi dengan bunyi firman Allah pada surat al Baqarah ayat 183 berikut.
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa (di bulan Ramadhan), sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar (mudah-mudahan) kalian bertakwah"
Jika ayat di atas kita penggal bagian demi bagian maka kita akan mendapatkan konsep yang sama dengan konsep pendidikan modern sebagai berikut.
  1. Orang-orang yang beriman: Bagian ini merupakan input yang akan dimasukkan ke dalam sistem pendidikan atau tarbiyah Ramadhan.
  2. Puasa (di bulan Ramadhan) : Bagian ini merupakan proses atau sistem yang akan mengolah input (orang-orang beriman) untuk digembleng, digodok selama sebulan penuh untuk mengikuti pelatihan, pendidikan.
  3. Takwa : Bagian ini merupakan output atau hasil yang ingin dicapai oleh tarbiyah Ramadhan yang dilakukan selama sebulan.
Jika kita simpulkan ayat di atas seolah-olah Allah hendak mengatakan kepada kita bahwa orang beriman harus berpuasa supaya mendapatkan derajat takwa. Pertanyaanya apakah kita sudah bertakwa setelah melakukan puasa sebulan dan terjadi setiap tahun? Kalau belum tentu kita akan bertanya lagi apakah input kita ketika masuk ke bulan ramadhan masih input yang belum beriman? Atau apakah ketika kita sudah beriman tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti pelatihan dan pendidikan Ramadhan? 
Selain pertanyaan-pertanyaan di atas tentu kita akan bertanya lagi (walaupun kita tidak perlu mempertanyakan keputusan Allah) kenapa hanya orang beriman yang diseruh oleh Allah untuk menjalankan ibadah puasa? Kenapa harus berpuasa yang harus dilakukan untuk mendapatkan derajat takwa? Dan kenapa pula orang-orang beriman itu dituntut Allah supaya bertakwa? Tentu pertanyaan pertanyaan ini patut kita renungkan dan akan kita bahas dalam bagian selanjutnya.
Read More
Niat

Niat


NiatDalamnya lautan dapat diukur orang, dalamnya hati hanya Allah yang tahu. Sahabat  blogger..! Di dalam hati yang tak terukur oleh manusia itu terdapat suatu hal yang menjadi penentu bernilai atau tidaknya setiap sikap dan tindakan manusia di hadapan Allah swt. Sebuah lagu religius pernah mengungkapkan sebagai berikut " Hati tempat jatuhnya pandangan Allah, Jasad lahir tumpuan manusia, utamakanlah pandangan Allah, dari pada pandangan manusia". Sungguh ungkapan di atas adalah sebuah ungkapan yang indah dan penuh makna, betapa tidak hati adalah tempat penilaian Allah kepada hambanya yang tidak diketahui oleh malaikat sekalipun. Imam Bukhari di dalam kitabnya yang spektakuler yaitu Sahih Bukhari menuliskan perkara niat (sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya) ini sebagai pembuka dari kitabnya, padahal bab pertama dari kitab beliau ini tidak menyangkut perkara ini. Barangkali beliau hendak menyampaikan kepada kita bahwa betapa tidak berartinya beliau menuliskan kitab hadis tersebut, betapa tidak bernilainya kita dalam mempelajari kitab beliau sebelum kita memasang niat yang lurus di hati kita. Bagaimana mungkin setiap amal itu tidak akan bernilai di sisi Allah swt jika tidak disertai dengan niat yang lurus untuk mengabdi kepadanya? Sahabat! Mungkin ilustrasi berikut bisa kita jadikan bahan pertimbangan sekalipun tidak seratus persen mengambarkan pertimbangan penilaian Allah kepada para hambanya.
Read More
Tanda - Tanda Kiamat

Tanda - Tanda Kiamat

Rasulullah Muhammad Saw al-Amin  telah bersabda:
Tanda - Tanda Kiamat"Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga matahari terbit dari arah barat. Maka apabila matahari sudah terbit dari arah barat, lalu para manusiapun akan beriman seluruhnya. Tetapi kelakuan mereka yang demikian pada waktu itu sudah tidak berguna lagi, keimanan seseorang yang belum pernah beriman sebelum peristiwa tersebut atau memang belum pernah berbuat kebaikan dengan keimanan yang sudah dimilikinya itu."(Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah) 
Hadist di atas, menceritakan salah satu tanda-tanda dari sudah mendekatnya hari kiamah, hari dimana pengadilan Allah akan segera berlaku bagi para makhluk-Nya. Hari dimana semua makhluk bernyawa akan diminta pertanggungan jawab atas seluruh perbuatan yang pernah dilakukan selama hidupnya. Berkaitan erat dengan hadist di atas kita bisa melihat dalam sabda Rasul dalam tiga buah hadistnya yang lain :

"Tiada seorang Nabi-pun yang diutus Allah, melainkan Nabi tersebut akan menakut-nakuti kepada umatnya perkara Dajjal. Dajjal itu akan keluar kepada kamu semua, kemudian tidak samar-samar lagi bagimu semua akan hal-ihwalnya dan tidak samar-samar untukmu semua, bahwa Tuhanmu itu tidak bermata sebelah. Sesungguhnya Dajjal itu bermata sebelah yang tidak dapat digunakan yang sebelah kanannya, seolah-olah matanya itu menonjol kemuka."

(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

"Demi dzat yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, niscaya, sudah amat dekat sekali saat turunnya 'Isa putra Maryam dikalangan kamu semua yang bertindak sebagai seorang hakim yang adil. Dia akan memecahkan semua kayu salib dan membunuh babi."
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

"al-Mahdi akan muncul dari ummatku, Tuhan akan menurunkan hujan untuk manusia, ummat akan merasa senang, ternak hidup (dengan aman), dan bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya dan harta akan diberikan dengan merata."

(Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dan al-Hakim dari Abu Sa'id r.a)

Baca juga tentang Niat
Read More