Kasus Ahok Menimbulkan Kembali Kecintaan Ummat Terhadap al Qur'an

Kasus Ahok Menimbulkan Kembali Kecintaan Ummat Terhadap al Qur'an

Banyak Cara yang diberikan Allah agar ummat ini tersadar dan kembali ke kitabNya. Ada yang diberi dulu nasehat oleh Allah lewat tausyah para ustad, ada yang disadarkan melalui kesulitan hidup dan bencana, ada yang melalui cercaan dan hinaan, perenungan akan esensi dirinya dan cara lainnya yang Allah kehendaki.
Mengutip perkataan Aa Gym, bahwa "berat ringannya hidup ini tergantung pada hikmah". Semakin hebat seseorang memetik hikmah dari setiap kejadian, maka ujung-ujungnya adalah kebahagian hidup. Karena tak mungkin Allah menjadikan atau mengijinkan terjadinya sesuatu tanpa adanya hikmah di dalam kejadian itu.
Tak pernah terbayangkan dan rasanya juga belum pernah ada partai politik Islam dan organisasi keislaman yang mampu mengumpulkan masa sebesar aksi 2 desember (212) kemaren. Tapi hanya karena omongan Ahok yang memang dianggap mengusik rasa keimanan terhadap al Qur'an ummat bergerak untuk membela, tanpa perlu memikirkan kita dari golongan mana atau partai apa. Itulah panggilan keimanan yang tak kan pernah dirasakan oleh orang yang memang tidak ada sesuatu di dalam hatinya.
Berbagai upaya telah dilakukan pihak-pihak yang tak ingin perkumpulan akbar ini terjadi. Salah satunya datang dari pemerintah yang khawatir (mungkin) gerakan ini berubah haluan dari hanya menuntut keadilan terhadap si Ahok ke penggulingan pemerintahan, karena dianggap tidak mampu menegakkan dan memuaskan rasa keadilan di hati ummat ini.
Polisi yang merupakan simbol negara dan alat pemerintahan tak kenal lelah melakukan upaya peredaman terhadap gejolak yang berkecamuk di hati ummat. Mulai dari pendekatan terhadap para ulama sampai penghalangan peserta aksi damai 212 yang akan ikut ke Jakarta. Banyak calon peserta aksi yang tidak mendapatkan sarana pemberangkatan karena PO Bus tidak mau melayani mereka dengan berbagai macam alasan.
Apakah segala upaya tersebut berhasil? Mungkin saja ada hasilnya akan tetapi upaya ini menimbulkan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya yaitu dengan nekatnya peserta aksi jalan kaki dari Kabupaten Ciamis ke Jakarta dan ikuti oleh peserta aksi lain dari bogor dan daerah sekitar ibu kota Jakarta.
Sungguh aksi jalan kaki ini telah membuat hati siapa saja berkecamuk. Begitu besar kecintaan mereka terhadap agama ini sehingga mereka rela menapaki jalan yang begitu jauh (lebih kurang 300 km). Apakah mereka dibayar? Ah yang benar saja mana ada orang mau dibayar 500 ribu jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta. Kalau ada yang menuduh silahkan saja dia diberi 10 kali lipat dari itu kemudian suruh dia jalan kaki ke Jakarta. Lagi pula siapa yang mau bayar orang sebanyak itu?
Nampaknya begitulah cara Allah menyatukan ummat Islam Indonesia, dan hal ini mungkin tak pernah diduga oleh para musuh ummat. Wamakaru wamakarallaahu, Wallaahu khairul maakiriin, Mereka membuat makar dan Allah juga membuat makar,  dan Allah adalah sebaik-baik pembuat makar.


Read More
Keberuntungan Hidup Seorang Mukmin Membuat Kagum Rasulullah

Keberuntungan Hidup Seorang Mukmin Membuat Kagum Rasulullah

Masalah atau ujian merupakan bagian dari kehidupan setiap manusia karena itu tiada seorangpun yang terbebas darinya. Masalah tidak saja menyangkut hal-hal yang negatif akan tetapi juga meliputi hal yang diangap positif. Dalam Islam kita lebih sering mengenalnya dengan istilah ujian.
Allah swt berfirman dalam al Qur'an Surat al Mulk ayat 2:  "( Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang paling baik (berkualitas) amal perbuatannya".
Dari ayat di atas dapat kita fahami bahwa Allah menciptakan kita untuk diuji apakah kita bisa berbuat yang terbaik dalam setiap keadaan. Ujiannya bisa saja berupa kesenangan atau hal yang kita anggap positif dan bisa juga dengan kesedihan, ketidakenakan atau yang kita anggap negatif.
Apakah kita harus lari dari ujian? Tentu saja tidak, karena selagi kita hidup di dunia ini, kita akan selalu menghadapinya. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyikapi ujian tersebut dengan sebaik-baiknya. Jika kita mampu menyikapinya dengan baik, maka kita akan beruntung begitu juga sebaliknya jika kita buruk dalam menyikapinya, maka kita akan celaka.
Rasulullah saw pernah bersabdah " Aku bangga dengan seorang mukmin, yang semua keadaan itu baik baginya. Jika ia ditimpa musibah, maka dia bersabar, itupun baik baginya dan jika ia mendapat nikmat ia bersyukur itupun juga baik baginya"
Jadi bagi seorang mukmin setiap keadaan dalam hidupnya semuanya merupakan sumber kabaikan bagi dirinya. Kebaikan yang diperolehnya itu ternyata bergantung pada cara menyikapi setiap masalah yang dihadapinya. Jika ia menganggap masalah itu ada dipundaknya, maka ia bersabar dan yakin akan pertolongan serta pahala yang besar dari Allah. Jika ia menganggap masalah itu ada di depannya, ditangannya maka ia bersyukur karena diberikan kesempatan oleh Allah untuk menyelesaikan, mengatur atau mengelolah  masalah tersebut. 
Itulah keberuntungan seorang mukmin yang tak akan didapatkan oleh selainnya. Kenapa demikian? Karena bagi orang yang tak beriman jika masalah itu ada dipundaknya, ia hanya menganggapnya sebagai beban yang menyesakkan dadanya sehingga hidupnya menderita bahkan tak jarang melahirkan masalah dan dosa baru. Jika masalah itu ada di tangannya, digenggamannya maka dia akan mengelolanya sesuai keinginan dirinya bukan keinginan Tuhan yang telah memberikan kepadanya. Dari dua keadaan ini seorang yang bukan mukmin hanya akan menghasilkan dosa, karena tidak ada pahala sabar dan syukur di dalamnya.
Read More