Ilmu Allah atau 'Ilmullah

Ilmu Allah atau 'Ilmullah

Allah adalah Sang Pencipta seluruh Allam semesta (al khaliq), maka sudah tentu Dialah yang Maha mengetahui segalanya (al ‘alim). Allah swt berfirman dalam al Qur’an Surat al Hasyr ayat 24 sebagai berikut: “Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaul Husna. Bertasbih kepada Nya apa yang di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Dalam ayat lain yaitu Surat al Furqan ayat 2 Allah swt juga mengatakan:“Yang kepunyaan Nya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran ukurannya dengan serapi rapinya”. Begitu juga dengan Surat al Mulk ayat 14 yang menegaskan bahwa Allah swt Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta ini: “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan). Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.
Ilmu Allah atau 'IlmullahPengetahuan Allah swt meliputi segala sesuatu dan sifatnya tak terbatas, sedangkan pengetahuan (ilmunya) makhluk sangatlah sedikit dibandingkan ilmunya Allah swt. Ilmunya Allah Maha Luas tersebar di seluruh penjuru alam semesta ini.
Dalam al Qur’an Surat Lukman ayat 27 Allah swt berfirman:
Dan seandainya pohon pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
Ada dua cara untuk mendapatkan ilmunya Allah swt yaitu:
1.       Khusus (al khashah) adalah jalur formal (ath thariqatur rash miyah) yaitu melalui wahyu (al wahyu) yang diturunkan Allah swt kepada hamba Nya melalui para utusan atau Rasul (ar rasul) di dalam Taurat, Zabur, injil, al Qur’an dan hadis Rasulullah saw. Ilmu melalui wahyu ini biasanya disebut dengan ayat ayat qauliyah (al ayatul qauliyah)
Qur’an Surat ash Shu’raa ayat 51 sampai 53
Dan tidak mungikin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al Kitab (al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah lah kembali semua urusan.
Qur’an Surat ar Rahman ayat 1 sampai 2
(Tuhan) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan al Qur’an”        
Qur’an Surat al Alaq ayat 1
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan
2.       Umum (al ‘ammah) adalah jalur non formal (ath thariqatu ghairu rashmiyah) yaitu melalui ilham (al Ilham) yang secara langsung diturunkan Allah kepada manusia (al mubasyarah). Ilmu Allah swt yang diturunkan Allah melalui ilham ini biasanya disebut dengan ayat ayat kauniyah (al ayatul kauniyah)
Qur’an Surat al Balad ayat 5
Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?
Qur’an Surat Ali Imran ayat 190 sampai 191
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda tanda bagi orang orang yang berakal. (Yaitu) orang orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
Qur’an Surat al Baqara ayat 31
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama nama (benda benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada Ku nama benda benda itu jika kamu memang benar orang orang yang benar
Qur’an Surat ar Rahman ayat 4
Mengajarnya pandai berbicara
Antara ayat ayat kauniyah dan ayat ayat qauliyah terdapat hubungan yang saling menguatkan, karena keduanya berasal dari sumber yang satu yaitu Allah swt. Ayat ayat qauliyah memberikan isyarat  (al isyarah) terhadap ayat ayat kauniyah untuk dikaji dan diteliti. Ayat ayat kauniyah merupakan bukti (al burhan) kebenaran dari ayat ayat qauliyah itu. Contoh Rasulullah saw mengajarkan atau mengatakan apabila lalat hinggap di air minum, hendaklah ditenggelamkan sekalian sebelum meminumnya. Penelitian ilmiah membuktikan bahwa salah satu sayap lalat membawa penyakit dan sayap yang lainnya membawa penawarnya yang hanay akan efektif kalau ditenggelamkan.
Wahyu adalah sebagai pedoman hidup (minhajul hayah) bagi kehidupan manusia yang kebenarannya mutlak (al haqiqatul mutlaqah).
Qur’an Surat Ali Imran ayat 19
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam
Qur’an Surat Ali Imran ayat 85
Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka sekali kali tidak akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang orang yang rugi
Qur’an Surat al Baqarah ayat 147
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali kali kamu termasuk orang orang yang ragu
Qur’an Surat Fussilat ayat 53
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda tanda (kekuasaan) Kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al Qur’an itu adalah benar. Tiadalah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu

Sedangkan ilham hanya sebagai sarana hidup (wasa ilul hayah) sehingga tidak dapat dijadikan sebagai pedoman hidup yang mutlak karena kebenarannya hanya eksperimental (al haqiqatul tajribiyah) yang kadang terbukti sesuai wahyu, namau kadang sebaliknya. Temuan ilmuwan yang satu mungkin terbantah oleh ilmuwan yang lain, atau bahkan dimentahkan oleh penemunya sendiri di saat yang lain. Semua itu adalah sarana kehidupan manusia (al insaan) dalam rangka melaksanakan tugas memakmurkan bumi.
Qur’an Surat Hud ayat 61
Dan kepad Tsamud (Kami utus) sauara mereka Shaleh. Shaleh berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali kali tidak ada bagimu Tuhan selai Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan Nya, kemudian bertobatlah kepada Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat Nya) lagi memperkenankan (doa hamba Nya)
Qur’an Surat Yunus ayat 36
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan
Qur’an Surat adh dhariyat ayat 56

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada Ku
Read More
Berbuat Baik atau al Ihsaan

Berbuat Baik atau al Ihsaan

Orang yang beraqidah bersih selalu merasakan penglihatan, pendengaran, dan penilaian serta pengawasan (muroqobatullah) Allah swt pada dirinya. Allah swt berfirman dalam al Qur’an “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelha kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaf ayat 16 sampai 18). “Kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siap yang dikehendakinya dan menyiksa siapa yang dikehendaki Nya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (al Qur’an Surat al Baqarah ayat 284).
Berbuat Baik atau al IhsaanRasulullah saw pernah mengatakan (bersabda) dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim : “Engkau beribadah kepada Allah seakan – akan engkau melihat Nya, kalaupun engkau tidak melihatnya yakinlah sesungguhnya Ia melihatmu”.
Seorang yang beraqidah bersih juga akan merasakan dan mengakui betapa Allah swt selalu berbuat baik kepadanya (ihsanullah), baik secara langsung maupun yang tidak, disadari ataupun yang tak disadarinya.
Dalil
Qur’an Surat: 45(al jathiyah) ayat 12 – 13
Allah lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal kapal dapat berlayar padanya dengan seizin Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia Nya dan mudah mudahan kamu bersyukur. Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir
Qur’an Surat: 28 (al Qasas) ayat 77
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaiman Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan.”
Qur’an Surat: 1 (al Fatihah) ayat 3
“Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
Qur’an Surat: 31 (Lukman) ayat 20
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat Nya lahir dan batin. Dan diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan

Perasaan diawasi (muroqobatullah) dan ihsanullah ini selalu membuatnya untuk berusaha memperbaiki niatnya (ihsanun niyah).
Dalil
Qur’an Surat: 2 (al Baqarah) ayat 207
Dan diantara manusi ada orang yang mengorbankan dirinya karena hendak mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba Nya

Dengan niat yang baik itu, ia pun akan mengikhlaskan niat (ihlashun niyah) dalam setiap perbutannya yaitu lillahi ta’ala hanya mencari keridhoan Allah swt semata.
Dalil
Qur’an Surat: 98 (al Bayyinah) ayat 5
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus
sesunguhnya amal amal perbutan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul Nya maka hijarahnya itu (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Rasul Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya untuk dunia yang ia cari atau karena wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang ia tuju” (HR. Bukhari dan Muslim)
Disamping niat yang ikhlas karena Allah swt, seorang mukmin akan berusaha melakukan kerja yang terbaik dan sempurna dalam hidupnya (itqanul ‘amal) dan penyelesaian yang terbaik pula (judatul ‘auda’) bukan kerja asal asalan. Begitulah seharusnya amal seorang mukmin, semua dikerjakan dengan sebaik baiknya (ihsanul ‘amal) sebagaimana  yang diperintahkan Allah swt.
Dalil
Qur’an Surat: 28 (al Qasas) ayat 77
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaiman Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan.”

sesungguhnya Allah swt mewajibkan berbuat baik (ihsan) dalam setiap hal. Karena itu apabila kalian membunuh musuh, lakukanlah yang terbaik dalam pembunuhan itu. Apabila kalian menyembelih hewan, lakukanlah yang terbaik terhadap sembelihan itu, hendaklah seseorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menghibur hewan sembelihannya”.
Jika perbuatan seperti itu dilakukan oleh seorang hamba, maka ia akan mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah swt berupa:
1.       Cinta dari Allah swt (hubbun minallah)
Dalil
Qur’an Surat: 2 (al Baqara) ayat 195
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat baik
Qur’an Surat: 3 (Ali Imran) ayat 134
Yaitu orang orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang orang yang berbuat kebajikan
Qur’an Surat: 3 (Ali Imran) ayat 148
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang orang yang berbuat kebaikan
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah apabila telah mencintai seorang hamba, ia akan mengatakan kepada Jibril bahwa Allah mencintainya (si fulan). Maka, Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril berseru pada penduduk langit bahwa Allah mencintai si fulan, sehingga penduduk langitpun mencintai si fulan”
2.       Pahala dari Allah swt (ajrun minallah)
Dalil
Qur’an Surat: 3 (Ali Imran) ayat 148
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang orang yang berbuat kebaikan
Qur’an Surat: 16 (an Nahal) ayat 97
Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah  mereka kerjakan
3.       Pertolongan (kemenangan) dari Allah swt (nashrun minallah)
Dalil
Qur’an Surat: 16 (an Nahal) ayat 128
Sesungguhnya Allah beserta orang orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebaikan
Qur’an Surat : 29 (al Ankabut) ayat 69
Dan orang orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar benar beserta orang orang yang berbuat baik
Read More
Kesertaan Allah atau Maiyyatullah

Kesertaan Allah atau Maiyyatullah

Sebagai Tuhan semesta alam, Allah swt selalu menyertai makhluk Nya dalam segala hal. Kesertaan itu terkait dengan perlakuan Allah kepada hamba Nya yang bersifat umum dan mutlak (al ‘amatul muthlaqah). Kesertaan Allah terhadap makhluknya dapat dijelaskan melalui ayat – ayat al Qur’an surat 57 ayat 4 berikut: “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit serta apa yang naik kepadaNya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.
Pada Surat al Mujadalah ayat 7 Allah swt juga berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Alah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.
Berdasarkan tabiatnya manusia dapat diklasifikasikan menjadi dua:
1.       Mukmin (al mu’min)
Mereka adalah orang orang yang beriman kepada Allah dan rukun rukun iman lainnya. Keimanan itu menjadikannya selalu merasakan pengawasan Allah (muroqabatullah) dalam dirinya.
Dalil dalil:
Kesertaan Allah atau MaiyyatullahDan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelha kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” QS. Qaf ayat 16 sampai 18
Sesungguhnya Tuhanmu benar benar mengawasi” al Qur’an Surat al Fajr ayat 14
Kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siap yang dikehendakinya dan menyiksa siapa yang dikehendaki Nya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” al Qur’an Surat al Baqarah ayat 284
Selain itu dia selalu mendapatkan dan merasakan kebaikan Allah berupa nikmat nikmat Nya yang selalu diberikan kepadanya (ihsanullah).
Dalil:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaiman Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan.” Al Qur’an Surat al Qasas ayat 77
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat Nya lahir dan batin. Dan diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan” al Qur’an surat Lukman ayat 20

Mereka selalu membalas kebaikan dengan kebaikan. Menyikapi semua itu, seorang mukmin selalu berusaha untuk taat kepada Allah swt (ath tho’atu billah) berupa peningkatan kualitas iman (al iman) dan kualitas serta kuantitas amal saleh yang lebih besar.
Dalil
Sesungguhnya Allah beserta orang orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebaikan” al Qur’an Surat an Nahal ayat 128
Hai orang orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukkanmu” al Qur’an surat Muhammad ayat 7
Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan it), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” al Qur’an surat al anfal ayat 10
Inilah kesertaan Allah yang lebih khusus (spesifik)  bersyarat (al khashatul muqayyad).
Dalil
Hai orang orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukkanmu” al Qur’an surat Muhammad ayat 7
Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan it), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” al Qur’an surat al anfal
Musa menjawab: Sekali kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku” Qur’an surat Qasas ayat 62
Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang orang kafir (musyrikin mekah) mengeluarkannya (dari mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya: janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan keterangan Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tertara yang kamu tidak melihatnya, dan al Qur’an menjadikan orang orang kafir itu yang rendah dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” Qur’an surat at Taubah ayat 40
Dan lagi lagi Allah membalas perlakuan hamba Nya dengan sesuatu yang lebih besar dan ditunggu tunggu  hamba Nya yaitu dukungan Allah  (ta’yidullah). Dan juga kemenangan serta keberuntungan dari Allah yang dianugerahkan kepada mereka (al falah)
dalil
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut turut” Qur’an surat al Anfal ayat 9
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap siaga, dan  mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda” Qur’an surat Ali Imran ayat 125
Orang orang yang mengatakan kepada saudara saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh. Katakanlah : tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang orang yang benar” Qur’an surat Ali Imran ayat 168
Tiap tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” Qur’an surat Ali Imran ayat 185

2.       Kafir (al kafiru)
Berbeda dengan mukmin, orang kafir (al kafiru) menyikapi nikmat Allah dengan kekufuran (kufrun ni’mah) dan kelalaian (al ghaflah) akibat terlena oleh kesenangan dunia. Allah swt berfirman dalam al Qur’an sebagai berikut:
dan bersabarlah kamu bersama sama dengan orang yang menyeruh Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan duni ini dan janganlah kamu mengikuti orang orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. QS. Al Kahfi ayat 28.
Di ayat lain Allah berfirman :
Mereka mengetahui nikmat allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang orang yang kafir” QS: an nahal ayat 83
Pada Surat al ‘a’raf ayat 179 Allah swt juga berfirman :
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang orang yang lalai
Hal itulah yang menyebabkan orang orang kafir bermaksiat kepada Allah swt (al ma’shiyatullah). Kemaksiatan itu semakin meningkatkan kekafirannya dan mendorongnya untuk berbuat kemungkaran, diantaranya dengan melakukan perampasan hak hak orang lain, berbuat kriminal dan lain sebagainya. Karena sikapnya yang demikian, Allah swt tidak memberikan dukungan kepadanya, sebaliknya menjadikannya terhina (al khidzlan). Akhirnya ia hanya akan mendapat kerugian, kepailitan dan kekalahan (al khusran). Kalaupun sementara ini (di dunia)  mendapat kemenangan, tapi itu hanya istidraj (penundaan). Pada saatnya ketika sudah banyak kemaksiatan yang dilakukan, jika Allah hendak menyiksanya, maka vonis Allah swt tak dapat terhindarkan. Allah berfirman dalam al Qur’an surat Ali Imran ayat 160 sebagai berikut:
Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu (tidak meberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja  orang orang mukmin itu bertawakkal”.
Dan pada surat az Zumar ayat 63 Allah swt berfirman:

Kepunyaan Nya lah kunci kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang orang yang kafir terhadap ayat ayat Allah, mereka itulah orang orang yang merugi
Read More
Konsekuensi Cinta atau Lawaazimu al Mahabbah

Konsekuensi Cinta atau Lawaazimu al Mahabbah

Cinta seseorang akan menyatukan kepentingan, sehingga menuntut konsekuensi timbal balik demi memuaskan sang kekasih (lawaazimul mahabbah). Konsekuensi itu terkait dengan loyalitas dan anti loyalitas sebagai berikut.
1.   Mencintai siapa yang dicintai sang kekasih (mahabbatu man ahabbahul mahbub). Cinta kepada kekasih berarti harus juga mencintai siap saja (orang) yang dicintai kekasihnya itu. Mencintai Allah berarti harus mencintai mereka yang dicintai Allah yaitu para malaikat Nya, para nabi dan rasul, shiddiqiin, syuhada, dan sholihiin. Allah swt berfirman di dalam al Qur’an surat an Nisa ayat 69 sebagai berikut:
“dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul Nya, mereka itu akan bersama sama dengan orang orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi nabi, para shiddiqiin, para syuhada, dan orang orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik baiknya”
2.  Mencintai apa yang dicintai sang kekasih (mahabbatu maa ahabbahul mahbub). Cinta kepada kekasih berarti harus juga mencintai apa saja (hal, sesuatu) yang dicintai kekasihnya itu. Mencintai Allah swt berarti harus mencintai apa apa yang dicintai Allah yaitu ibadah yang sunnah, sedekah, jihad, berakhlak mulia dan lain sebagainya. Mencintai apa dan siapa saja yang dicintai Allah swt merupakan wujud dari loyalitas (al wala’) yaitu solidaritas, perlindungan, keberpihakkan, pembelaan, ketaatan dan sejenisnya.
Konsekuensi Cinta atau Lawaazimu al Mahabbah3.  Membenci siapa saja yang dibenci sang kekasih (bughdhu man abghadhahul mahbub). Cinta kepada kekasih berarti harus juga membenci siapa saja yang dibenci kekasihnya itu. Seorang mukmin yang mencintai Allah menujukan kebenciannya kepada siapa saja yang tidak berpihak kepada Allah swt yaitu iblis dan setan (baik dari kalangan jin maupun manusia). Bahkan Allah menyuruh untuk menjadikan setan sebagai musuh. Sebagaimana yang difirmankan Allah swt dalam al Qur’an surat fatir ayat 6 berikut:
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala nyala”
4.  Mebenci apa saja yang dibenci sang kekasih (bughdhu maa abghadhahul mahbub). Seorang mukmin harus membenci apa saja yang dibenci oleh Allah swt berupa kemungkaran, kemaksiatan, kezhaliman, kefasikan, kemunafikan, kemusyrikan, dusta, kebohongan, kesesatan dan pembuat kerusakan lainnya (al fasad). Allah swt berfirman di dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 205 sebagai berikut:
“dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman – tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan ”
Membenci siapa dan apa saja yang dibenci oleh Allah swt adalah wujud dari anti loyalitas (al bara’) yaitu berlepas diri dan tidak berpihak kepada siapa dan apa saja yang dibenci Allah swt.
Read More
Tingkatan Cinta atau Marootibu al Mahabbah

Tingkatan Cinta atau Marootibu al Mahabbah

Cinta tertinggi seorang mukmin hanya diberikannya kepada Allah swt. Cintanya kepada yang lain harus diwujudkan dalam rangka cinta kepada Allah swt. Berikut ini tingkatan-tingkatan cinta dan kepada siapa seharusnya diberikan.
1.   Cinta tertinggi seorang hamba adalah penghambaan (tatayyum). Cinta yang semacam ini hanya boleh diberikan kepada Allah swt, dimana seseorang akan menghambakan dirinya dan menyembah Nya (al’ubudiyah).
2.     Tingkatan berikutnya adalah kemesraan (al isyq) yang diberikan kepada Rasulullah saw dan Islam (arrasul wal islam) dengan cara meneladani ajaran beliau (al ittiba’).
3.    Kerinduan (asy syauq) diberikan kepada sesama muslim yang mukmin (al mukmin) sebagai wujud kasih sayang dan cinta (ar rahhmatu wal mawaddah)
4.   Empati (ash shababah) diberikan kepada sesama muslim (al muslim) karena adanya hubungan persaudaraan (al ukhuwah)
5.  Simpati (‘athf) diberikan kepada sesama manusia (al insan) sebagai wujud kepedulian untuk mendakwahi agar mereka selamat di dunia dan akhirat (ad dakwah)
6.       Hubungan atau tingkatan terendah adalah hubungan biasa – biasa saja atau kecendrungan semata (al ‘alaqah). Cinta pada tingkatan ini diberikan kepada semua materi al madah) di langti dan di bumi untuk dimanfaatkan sebagai fasilitas dalam rangka ibadah kepada Allah swt (al ‘ittifa’). Karenanya, betapa bodoh dan sesatnya orang yang memberikan cinta kepada sesuatu yang paling rendah (materi dunia) itu sampai pada tingkat menghambakan dirinya atau menyembah segala materi tersebut. Dalam al Qur’an surat 35 (fatir) ayat 13 – 14 Allah swt berfirman:

Tingkatan Cinta atau Marootibu al Mahabbah“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan Nya lah kerajaan. Dan orang orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa apa walaupun setipis kulit ari.
Jika kamu menyeruh mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikannmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.”
Read More