Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'an


Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'anSesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan al-Quran kepada manusia bukan hanya sekedar untuk dibaca, tapi juga agar mereka memahami, mentadabburi, dan mengamalkannya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah. dalam al-Fawaid mengatakan bahwa kita akan mendapat manfaat dari al-Qur’an apabila terpenuhi hal-hal sebagai berikut: pemberi pengaruh [al-Qur’an itu sendiri], tempat yang menerimanya [hati yang hidup], dan tiada hal yang menghalang (tiada Penghalang antara Al Quran dan Pembacanya).
Ketiga aspek ini diterjemahkan kedalam lima poin syarat agar kita dapat mengambil dan memperoleh manfaat dari Al Quran sebagai berikut:
1.       Bersikap Sopan terhadap Al Quran
Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'an

Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al Araf: 204)
Jadi dari ayat ini dapat kita pahami bahwa Allah memerintahkan kita agar mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, jika dibacakan Al Quran baik dalam sholat maupun di luar sholat agar kita mendapatkan rahmat dari Allah SWT.
Bersikap sopan terhadap al Quran ini dapat diwujudkan dengan cara niat yang baik, kebersihan hati dari penyakit-penyakit hati, mengosongkan hati dari hal-hal yang menyibukkannya, kesucian jasmani dari najis, dan mengkhususkan pikiran bersama al-Qur’an.
·         Berniat Baik
Hal yang pertama harus kita lakukan agar dapat memperoleh manfaat dari Al Quran adalah dengan memperbaiki niat kita ketika akan membaca Al Quran. Niatkan pada diri kita, bahwa kita membaca Al Quran adalah untuk mendapat ridho Allah SWT, mendapatkan surga-Nya, terbebas dari neraka, dan mendapatkan pahala dari-Nya.
Jauhkan diri kita dari sikap atau niat ingin dipuji kalau kita rajin membaca Al Quran dan pandai baca al Quran. Jangan sampai kita seperti kisah 3 orang yang dianggap “super soleh” saat hari dimana kita ditentukan masuk neraka atau surga (seperti keterangan hadis di bawah ini). Hal ini pun guna menghindarkan kita dari golongan perusak agama, yaitu menjadi orang yang tidak paham, orang yang tidak ikhlas, dan orang yang tidak beramal.
*******
Abu Hurairah ra. meriwayatkan, ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid didatangkan di hadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.
Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku berperang demi membela agamamu.” Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu berperang supaya orang-orang menyebutmu Pahlawan.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Seorang penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dan rajin membaca Al Quran didatangkan dihadapan Allah. Lalu ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengamalkannnya, dan aku membaca Al Quran demi mencari ridha-Mu.”
Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu mencari ilmu supaya orang lain menyebutmu orang alim, dan kamu membaca Al Quran supaya orang lain menyebutmu orang yang rajin membaca Al Quran.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Selanjutnya, seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan terkenal karena kedermawanannya, didatang dihadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.
Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai, kecuali aku sedekah karena-Mu.” Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu melakukan itu semua agar orang-orang menyebutmu orang dermawan dan murah hati.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah menepuk pahaku seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalah manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di Hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim)
*******
·         Bersih Hati dan Jasad
Selain niat yang baik kita pun harus membersihkan hati kita dari penyakit-penyakit hati, salah satunya dari sikap menyepelekan/menghina mushaf Al Quran itu sendiri. Misalnya kita harus menjaga mushaf Al Quran tersimpan dengan baik dan tidak diperlakukan sebebas mungkin seperti barang atau benda yang lain. Ditambah kesucian jasmani diri kita dari najis harus sangat diperhatikan. Artinya usahakan diri kita berinteraksi dengan Al Quran dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun hadas besar.
·         Konsentrasi Penuh
Dan poin terakhir dari bersikap sopan terhadapnya ialah, dengan mengosongkan hati dari hal-hal yang menyibukkannya dan mengkhususkan pikiran bersama Al Quran. Sederhananya ialah kita harus konsentrasi penuh ketika berinteraksi dengan Al Quran. Anggaplah Al Quran ini merupakan SMS, pesan, ataupun surat spesial yang Allah berikan kepada diri kita sehingga kita akan membacanya dengan penuh penghayatan dan membuat kita senang dengannya
2.       Baik dalam Talaqqi (Talaqqi dengan Sebaik-baiknya)
Maksud dari hal ini adalah kita harus menyiapkan kondisi terbaik kita ketika akan berinteraksi dengan Al Quran. Hal ini dilakukan dengan hati yang khusyu’; ta’zhim [pengagungan], dan semangat untuk melaksanakan apa yang diperintahkannya.
·         Hati yang Khusyu’
Salah satu cara untuk mendapatkan hati yang khusyu adalah dengan mengingat mati, hal ini Allah terangkan dalam Al Quran sebagai berikut:
Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'an
  1. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,
  2. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al Baqarah: 45-46)
Dalam mengingat mati, kita dapat melakukannya dengan beberapa cara yaitu dengan membuat atau menghadiri majelis dzikrul maut, ziarah kubur, atau yang paling ekstrim yang pernah dicontohkan oleh Muhammad bin Al Munkadir (bisa dicari sendiri kisahnya) yaitu dengan membuat kuburan di dalam rumah. Mengapa beliau melakukan hal itu, karena menurut beliau jika 1 hari saja tidak mengingat kematian maka hati beliau akan terasa keras membatu. Lalu bagaimana dengan kita yang entah hanya berapa kali ingat dengan kematian?
·         Ta’zhim (Mengagungkan Al Quran)
Hal ini seperti yang telah dicontohkan sebelumnya yaitu anggap Al Quran ini surat yang dikhususkan Allah untuk diberikan kepada kita. Berikan perhatian yang penuh kepadanya, jangan disepelekan.
·         Semangat untuk Melaksanakan Apa yang Diperintahkannya
Saat akan membaca siapkan diri kita untuk mendengar, menerima, dan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan apa yang dilarang-Nya.
3.       Memperhatikan Tujuan Asasi Diturunkannya Al Quran
Tentunya sebelumnya kita harus menyiapkan diri kita agar siap mendapat petunjuk dari interaksi kita dengan Al Quran. Karena tujuan asasi atau tujuan pokok diturunkannya Al Quran adalah sebagai berikut:
  • Sebagai Petunjuk Menuju Ridha Allah
  • Membentuk Kepribadian yang Islami
  • Pemimpin Manusia (Memandu Umat Manusia tentang Tata Cara Hidup)
  • Membentuk Masyarakat yang Islami
Ibarat jika kita memiliki buku petunjuk membuat pesawat yang paling benar dari awal sampai akhir, dan kita memiliki kesiapan untuk membuat pesawat itu tentu saja pesawat yang bagus akan dihasilkan dengan sempurna. Sama halnya dengan Al Quran, Al Quran adalah buku petunjuk yang benar dari awal sampai akhir tak ada cacat sedikitpun. Jika kita siap melaksanakan apa yang ada dalam buku petunjuk tersebut maka hidup kita pun akan menghasilkan sesuatu yang sempurna. Contohnya saja saat kekhalifahan Abu Bakar yang mengamalkan Al Quran sebagai buku petunjuk, dan Abu Bakar siap menggunakannnya. Hasil yang diarasakan pun akan sempurna.
4.       Mengikuti Cara Interaksi Para Sahabat ra. dengan Al Quran
Merekalah generasi terbaik, mereka mencapai predikat itu karena interaksinya yang sangat baik bersama Al Quran. Dan cara mereka dalam berinteraksi dengan Al Quran itu adalah:
·         Pandangan yang Menyeluruh
Maksudnya adalah mereka (para sahabat) tidak memahami ayat-ayat secara terpisah karena ayat satu dengan yang lain saling terikat. Karena pandangan yang parsial terhadap Al Quran akan memunculkan anggapan bahwa ada kontradiksi diantara ayat-ayatnya. Hal ini yang mengakibatkan orang akan mengimani sebagian ayat dan mengingkari sebagian yang lain. Padahal, mengimani sebagian ayat dan mengingkari sebagian yang lain adalah kekafiran yang sebenarnya. Rasulullah SAW bahkan melarang kita mempertentangkan satu ayat dengan ayat lainnya. Sama halnya dengan Islam, jangan sebagian kehidupan kita saja yang berlandaskan islam, tapi segala aspek kehidupan kita sebaiknya berlandaskan islam. Walau saat ini belum, tapi kita jangan sampai pernah hilang harapan untuk itu.
·         Memasuki Al Quran tanpa Membawa Persepsi, Pemahaman, dan Keyakinan-keyakinan Masa Lalu
Sikap ini dilakukan agar apa yang akan dipahaminya dari Al Quran tidak dibatasi oleh pemahaman dan persepsi-persepsi lamanya. Jadi kita harus terima Al Quran apapun itu, tanpa ada intervensi-intervensi dari pemahaman kita terdahulu. Dan Al Quran lah yang mulai jadi sandaran hukum mulai dari saat ini juga.
·         Kepercayaan Mutlak kepada Al Quran
Apa yang dikatakan Al Quran sebagai haram, mereka mengatakannya sebagai haram. Sebaliknya, apa yang Al Quran katakan sebagai halal, mereka mengatakannya sebagai halal. Bahkan mereka pun percaya sepenuhnya pada hal-hal yang kadang belum mereka ketahui atau bertentangan dengan logika berpikir mereka. Karena logikalah yang harus menyesuaikan dengan Al Quran, bukan Al Quran yang dipaksakan untuk selaras dengan logika mereka. Kita harus percaya bahwa seluruh isi dari Al Quran itu adalah benar, dan jangalah pernah merasa bahwa Allah salah.
·    Merasakan bahwa Ayatnya (yang Dibaca/Didengar) Ditujukan kepadanya
Imam Ahmad mengatakan bahwa sipa saja yang ingin berdialog dengan Allah hendaklah ia membaca Al Quran. Sayyid Qutub mengatakan bahwa hendaklah ia merasakan seakan-akan wahyu itu sedang turun kepadanya secara langsung.
5.       Tiada Penghalang
Yaitu tidak adanya hal-hal yang menghalangi terjadinya pengaruh Al Quran secara efektif, diantaranya:
·    Kesibukkan hati dengan hal/urusan lain
Saat membaca Al Quran kita tidak disibukkan dengan kegiatan lain seperti tugas, nonton TV, SMS, Chatting, dan lain-lain. Fokus kita hanya tertuju pada interaksi dengan Al Quran.
·   Ketidakpahamannya terhadap makna dan pesan-pesan yang terkandung di dalam ayat yang dibaca atau didengar
Hal ini yang paling sering ada diantara kita, karena kita tidak paham bahasa arab, oleh karena itu cobalah kita mulai untuk belajar bahasa arab agar kita paham Al Quran itu sendiri. Atau minimalnya bacalah Al Quran disertai dengan terjemah dan tafsirnya.
·         Berpaling kepada selain Al Quran
Hal ini yang paling ditakutkan, kita harus menghindari hal ini, karena berpaling kepada selain Al Quran bukan hanya akan mengakibatkan kita tidak akan mendapat manfaat Al Quran itu sendiri, melainkan akan menghantarkan kita kepada kekafiran. Na’udzubillah…! Semoga Allah menjaga niat kita, memberikan kekuatan dan memudahkan jalan bagi kita untuk dapat berinteraksi dengan Al Quran, serta mendapatkan manfaat darinya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'an"

Post a Comment