Kedudukan Rasulullah diantara manusia

Kedudukan Rasulullah diantara manusiaMuhammad RasululLah SAW adalah sebagai hamba di antara hamba-hamba Allah lainnya. Sebagai hamba maka Rasul mempunyai ciri yang juga sama dengan manusia lainnya seperti beliau sebagai manusia, mempunyai nasab dan jasadnya. Sebagai hamba ini menunjukkan bahawa Nabi adalah manusia biasa yang Allah berikan kemuliaan berupa wahyu dari Allah. Untuk mengetahui Nabi sebagai hamba dapat kita ketahui secara pasti dari perjalanan sirah Nabi, khususnya di dalam fiqh sirah. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga sebagai rasul di antara para rasul. Sebagai rasul, Nabi bersifat menyampaikan risalah, menjalankan amanah dari Allah, dan sebagai pemimpin ummat. Perjalanan nabi sebagai Rasul dalam menyampaikan dakwah dan misi dapat dilihat dari dakwah-dakwah Nabi seperti di dalam fiqh dakwah. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga membawa sunnah yang dijadikan sebagai fiqhul Ahkam. Kedudukan Rasul dapat digambarkan di dalam sirah nabi, sunnahnya dan dakwahnya sehingga dari kedudukan ini banyak yang kita ambil sebagai fiqih sirah, fiqih ahkam dan fiqih dakwah.
Syahadat rasul yang kita ucapkan menuntut kita untuk mengakui bahwa Muhammad bin Abdullah adalah nabi dan utusan Allah. Pengakuan akan kenabian dan kerasulannya harus dibarengi dengan sikap proporsional, tidak berlebihan, namun juga tidak mengurangi hak-haknya. Beliau saw. melarang ketika ada sebagian shahabat yang memperlakukannya secara berlebihan seraya menjelaskan kedudukan yang sebenarnya dengan sabdanya: “Aku adalah hamba Allah dan rasul-Nya. karena itu panggillah aku Abdullah wa Rasuluhu.” Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan kedudukannya kepada kita selaku ummatnya sebagai berikut :

1. Seorang Manusia Biasa (Abdun min ibadillah)
Rasul Muhammad SAW adalah sebagai hamba dan manusia biasa yang juga makan, minum, pergi ke pasar, beristeri, berniaga dan segala aktivitas manusia dikerjakan dan ditunaikannya dengan baik. Rasul melaksanakan keperluan sebagai mana manusia lainnya melaksanakan keperluannya. Dari keadaan ini dapat disimpulkan bahwa Rasul sebagai manusia dan kita pun sebagai manusia sehingga apa yang dikerjakan oleh Nabi juga dapat dilaksanakan oleh kita secara baik. Tidak ada alasan untuk tidak mengerjakan perintah Rasul karena Allah telah mengutus Rasul dari kalangan manusia juga. Yang membedakan rasul dengan manusia yang lain ialah Rasul mendapat wahyu sementara manusia biasa tidak.
Dalil
al Quran surat al Kahfi (18) ayat 110 :

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya."

al Quran surat al Isra (17) ayat 1 :


Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dari kedua ayat di atas terlihat bahwa rasulullah adalah manusia biasa seperti kita dan Allah sendiri nyatakan bahwa Rasulullah adalah hamba Nya. Rasulullah juga mengatakan kepada para sahabatnya bahwa Aku ini adalah hamba Allah dan Rasul Nya, Karena itu panggillah Aku Abdullah wa Rosuluhu. Beliau adalah manusia biasa, memiliki keturunan (nasab) manusia dan fisiknya (jasadnya) pun juga manusia.

al Quran surat al Isra (25) ayat 7 :


Dan mereka berkata: "Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?,

Rasul sebagai manusia digambarkan makan, ke pasar dan sebagainya. Perilaku ini menggambarkan suatu aktivitas sehari-hari manusia. Apabila Rasul sebagai manusia maka dakwah mudah dilaksanakan dan mudah diterima, tidak ada alasan bagi manusia untuk menolaknya. Apabila malaikat sebagai Nabi maka banyak alasan untuk tidak melaksanakan perintah Allah. Kaum Yahudi senantiasa mempermasalahkan kehadiran Rasul yang berasal dari manusia. Sebetulnya mereka mengada-adakan persoalan yang didasari kekufurannya kepada Allah.

al Quran surat al Isra (13) ayat 38 :

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).

Rasul sebagai manusia juga dijelaskan dengan peranan Rasul sebagai suami dan bapa dari anak-anaknya. Dengan peranan ini menjadikan manusia lebih sempurna dan dapat mengikutinya dengan baik setiap amalan dan arahannya.

Secara nasab Rasul berasal dari kaum Quraish. Bapaknya yang bernama Abdullah dan ibunya bernama Aminah. Beliau mempunyai keluarga dan keturunan yang jelas. Begitupun tentang sejarah kelahiran dan asal usulnya. Sejarah yang menjelaskan bagaimana nabi dibesarkan sehingga menjadi Rasul juga banyak terdapat di berbagai buku sirah Nabi.

 Jism atau jasad nabi Muhammad SAW digambarkan banyak oleh hadits seperti rambutnya yang rapi dan selalu disisir, badannya yang kuat, tingginya sederhana dan sebagainya. Dari gambaran jasad ini Nabi adalah manusia yang juga sebagai manusia biasa lainnya.

Penggambaran Nabi sebagai hamba Allah terdapat di dalam sirah nabawiyah. Penggambaran ini dijadikan sebagai pengajaran , menerangkan sesuatu dan juga dapat sebagai petunjuk bagi kita yang membacanya. Dari sirah nabawiyah dapat disimpulkan bahwa Nabi sebagai hamba Allah dan menjalankan aktivitas-aktivitasnya sebagai manusia biasa.


Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf : 111)

Walaupun beliau adalah manusia pilihan Allah, namun beliau ingin diperlakukan sebagai manusia biasa. Ini menunjukkan gaya egaliter beliau sehingga tidak ada alasan untuk disanjung setinggi langit atau sebaliknya diperolok-olok dan didustakan. Hal ini tergambar jelas dalam perjalanan hidup beliau yang tercatat dalam kitab sejarah.

2. Seorang Rasul diantara rasul-rasul Allah (Rasulun minal mursalin)
Muhammad SAW selain sebagai hamba biasa juga sebagai Rasul yang mempunyai keutamaan dan ciri-ciri kerasulan. Muhammad seperti Rasul lainnya juga mempunyai mukjizat dan tugas-tugas mulia. Dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 144 dinyatakan :

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Sebagai seorang rasul, beliau memiliki tugas :

a. Tabligh atau menyampaikan Risalah kepada ummatnya

Peranan Rasul yang utama adalah menyampaikan risalah Tuhan karena inilah yang membedakannya dengan manusia biasa. Rasul membawa manusia untuk mengabdi kepada Ilah yang satu yaitu Allah SWT. Menyampaikan misi Islam dan memberikan contoh adalah aktivitas utama para Rasul.


Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu (QS Jin : 28)

(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (QS. Ahzab :39)

b. Menunaikan amanah atau Adaul Amanah
Rasul telah menunaikan amanahnya sebagai rasul yaitu menyampaikan risalah kepada manusia. Menunaikan amanah dan tugas menyampaikan misi ini merupakan peranan Rasul. Bukti bahwa Rasul telah menunaikan amanah ini adalah pengikut-pengikutnya yang setia dan menyebarkan dakwah kepada manusia.


Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu (QS Jin : 28)


Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al Maidah : 67)

c. Memimpin Ummat atau Imamatul Ummat
Inti tugas Beliau adalah berdakwah Ilallah yaitu mengajak seluruh ummat manusia untuk mengesakan Allah dan tidak menyekutukan Nya dengan apapun jua. Membebaskan penghambaan  kepada sesama makhluk kecuali hanya untuk Allah semata. Itulah tugas para nabi yang nantinya akan dijadikan rujukkan para Da’i dalam berdakwah. Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul juga sebagai Imam yang bertanggung jawab ke atas ummatnya. Pada hari kiamat Nabi berperanan sebagai pembela Ummat. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi juga bertanggungjawab terhadap apa-apa yang sudah disampaikan kepada ummatnya. Ketika dihari penghitungan di hari kiamat Nabi bertanggung jawab atas ummatnya.

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. An Nisa : 41)

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.(QS. Isra : 71)

3. Sunnah

Dari segi bahasa Sunnah bererti jalan. Maksud Sunnah Nabi adalah segala sesuatu yang disebutkan, diakurkan dan diamalkan. Sunnah Nabi bernilai syar'i dan perlu untuk mengikutinya. Sunnah yang demikian dijadikan sebagai teladan dan ikutan. Sesuatu di luar itu boleh dilaksanakan boleh juga tidak, ia merupakan sesuatu yang tidak wajib seperti Nabi biasa menunggang unta, memakai pakaian budaya Arab, perang dengan pedang, dan sebagainya. Perkara ini adalah wasailul hayah yang boleh berubah dan tidak mesti mengikutinya. Yang perlu diikuti dan bernilai sunnah adalah yang bersifat minhajul Hayat. Sunnah ini dijadikan sebagai fiqh ahkam untuk rujukan beramal atau mengambil keputusan. Dalam sunnah akan ditemukan :

a. Fiqhul Ahkam
Bagi muslim dalam menjalankan hidup dan dakwah tentunya menghadapi banyak cobaan selain dari bagaimana semestinya menjalani hidup ini dengan sempurna. Peranan hukum atau aturan sebagai panduan membawa kita ke arah yang sempurna sangatlah diperlukan. Rasul dijadikan sebagai tempat ketaatan dan ikutan, dan juga sebagai rujukan hukum. Fiqh ahkam yang digunakan sebagai dalil juga memerlukan pandangan sunnah.


Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya[313] datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS An Nisa : 64)


Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS An Nisa : 65)

Dari ayat di atas tergambar bahwa Rasul harus dijadikan sebagai rujukan hukum dalam mengurus perselisihan.
b. Dakwah Nabawiyah
Pemahaman yang mendalam terhadap sunnah juga memberikan konsep yang benar dalam mendakwahkannya disamping memberi gambaran yang utuh tentang pribadi rasul dan syariat. Karena dakwah merupakan ibadah, maka bukan hanya muatan dakwah yang harus diperhatikan namun juga pendekatan dan metodolongi yang digunakan. Hal ini perlu supaya tidak terjadi kontra produktif. Pemahaman yang benar dan utuh terhadap sunnah beliau saw dalam berdakwah akan memberikan hasil yang baik.
Al Qur'an dan juga Sirah banyak menjelaskan dakwah nabi. Dari kedua ini muncul fiqh dakwah yang bersesuaian dengan realita, tuntutan, keadaan dan respons masyarakat tempatan. Misalnya Allah menceritakan perjalanan Hijrah Nabi bersama Abu Bakar yang berada di gua Tsur, didapati banyak ular dan berbagai hewan yang berbahaya, kemudian nabi berkata janganlah takut sesungguhnya Allah bersama kami. Ayat yang menggambarkan dakwah ini menjadi fiqh dakwah bagi para da'i saat ini khususnya memotivasikan kita agar senantiasa berdakwah walaupun menghadapi banyak cobaan dan rintangan.

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. At Taubah : 40)

c. Sejarah perjalanan hidup Rasulullah saw (sirah nabawiyah)

Yaitu riwayat yang mengutarakan perjalanan hidup beliau sebagai manusia sejak sebelum lahir hingga wafatnya. Mempelajarinya merupakan ibadah karena dengannya keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya akan semakin kuat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kedudukan Rasulullah diantara manusia"

Post a Comment