Makna Tuhan (ma'na al ilah)

Makna Tuhan (ma'na al ilah)

Ilah atau tuhan adalah sesuatu yang tidak asing lagi bagi manusia. Bahkan orang yang tidak meyakini adanya tuhanpun, ketika kepepet terkadang masih mengucapkan kata tuhan (oh my god). Ketika mereka berada dalam bahaya ditengah lautan yang tidak bersahabat, atau dalam pesawat terbang yang sedang diterjang badai, mereka akan mengingat kata yang satu ini, walaupun setelah keadaan kembali menjadi pulih mereka kembali tidak mengakuinya. Kata Ilah terbentuk dari kata kerja aliha. Dalam bahasa Arab alihahu berarti:
1. Merasa tentram kepadanya sehingga ia enggan meninggalkannya (sakinah ilaihi). [QS. 10: 7-8,  7:138]
2. Berlindung dengannya karena kagum dengan kekuatannya, kehebatannya dan kekuasaannya.               (istajara bihi)[QS.72:6,  36:74-75]
3. Rindu kepadanya dan berusaha untuk selalu dekat dengannya (tsytaqa ilaihi).[QS.2:93,  20:91,             26:71]
4. Sangat mencintai dengan ketulusan hati (condong) kepadanya (wuli'a bihi). [QS.2:93,  20:91,               26:71]
Bila keempat hal ini diketahui, dirasakan dan diyakini, maka ia akan menyembahnya dan siap mengorbankan apa saja untuk sesuatu yang dipujanya itu, dengan sepenuh cinta (kamalul mahabbah) [Qs.39:45,  71:23], kerendahan hati (kamalul tadzallul) [QS.21: 59 dan 68], dan ketundukkan tanpa reserve (kamalul khudu') [QS.36:60,  6:137]. Sesuatu yang mendapat perlakuan seperti itulah yang disebut dengan ilah (tuhan). Karena itu dapat kita simpulkan bahwa Ilah (tuhan) itu adalah:
1. Sesuatu yang diharapkan (al marghub) karena kemampuannya memberi manfaat dan memenuhi         permintaan. [QS.2:163-164]
2. Sesuatu yang ditakuti (al marhub) karena ia akan marah  dan menyiksa siapa yang membangkang       kehendaknya. [QS.2:186,  40:60,  94:7-8, 21:90-91,  2:40,  9:13,  33:39]
3. Sesuatu yang diikuti karena jaminan keselamatan darinya (al mathbu'). [QS.51:50,  37:99]
4. Sesuatu yang dicintai karena berbagai kelebihannya (al mabhub). [QS.2:165,  8:2,  9:24]

Karena itulah, maka ia (tuhan) adalah sesuatu yang disembah (al ma'bud) dan dianggap sebagai sesuatu yang maha segalanya karena:
1. Dialah pemilik segala loyalitas (shahibul walayah).

   [QS.109:1-6]
"Dan sungguh, Kami telah megutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut'. Kemudian diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagai mana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)
   [QS.16:36]  
"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa"
   [QS. 2:21]  
"Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Kiab (al Qur'an), Dia melindungi orang-orang shaleh"
   [QS.7:196] 
"Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."
   [QS.2:257]
2. Pemilik segala ketaatan (shahibul tha'ah).
"Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam terhadap siang yang mengikutnya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh Alam" [QS.7:54].
Dari ayat ini tergambar bagi kita bahwa Tuhan yang berhak disembah itu adalah Tuhan yang ditaati oleh seluruh alam semesta ini,  bukan Tuhan yang tidak berdaya apa-apa bahkan terhadap dirinya sendiri.
3. Pemilik tunggal kekuasaan (shahibul hakimiyah).
Dalam al Qur'an Surat Yusuf ayat 40 Allah swt menegaskan bahwa pemilik kekuasaan itu hanya Allah semata, dan karena itu hanya Dialah yang berhak disembah bukan selainnya.
 "Kamu tidak menyembah yang selain Allah melainkan (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan sesuatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya"  [QS12:40], 
Di dalam surat an Nur ayat 1 juga Allah menjelaskan bahwa Allah mewajibkan hukum-hukum Nya kepada manusia dan menyuruh manusia untuk mengingat ayat-ayatnya :
"(Ini adalah) satu surat yang kami turunkan dan kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalamnya), dan kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya" [QS.24:1].
Dalam surat al Ma'idah ayat 44-48 juga dinyatakan:
"Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat yang di dalamya ada petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dnegan Kitab itu diputuskan perkara-perakara orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-oranga alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah  kamu menukar ayat-ayat Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Dan kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (at Taurah) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka pun ada qisasnya (balasannya yang sama). Barang siapa yang melepaskan (hak qisas) nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya.Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. 
Dan Kami teruskan jejak mereka dengan mengutus Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya yaitu Taurat. Dan kami menurunkan Injil kepadanya, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, dan membenarkan Kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, dan sebagai petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. 
Dan hendaklah pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang tidak diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang fasik.  
Dan Kami telah menurunkan Kitab (al Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikann-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan_Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan."[QS.5:44-48]
Islam memandang bahwa segala sesuatu yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan tersebut di atas hanyalah Allah swt. Memperlakukan selain Allah sebagaimana perlakuan yang diberikan kepada Allah swt adalah kemusyrikan yang sangat dibenci Allah swt.
    
Read More
Uban Rasulullah saw

Uban Rasulullah saw

Uban Rasulullah saw kajian islam online bangmaziedQatadah r.a bertanya kepada Anas bin Malik r.a.: "Pernahkah Rasulullah saw menyemir rambutnya yang telah beruban? Anas bin Malik menjawab; "Tidak sampai demikian. Hanya beberapa lembar uban saja di pelipisnya. Namun Abu Bakar r.a pernah mewarnai (rambutnya yang memutih) dengan daun pacar dan katam (katam adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang biasa digunakan untuk memerahi rambut sedangkan warnanya merah tua)" [diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Daud, dari Hammam, yang bersumber dari Qatadah].  Hadis yang semacam dengan ini terdapat pula dalam Sahih Bukhari, namun tidak ada cerita tentang Abu Bakar. Dalam Sahih Muslimpun terdapat hadis yang seperti itu, juga dalam Sunan Abu Daud dengan tambahan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. pernah menyemir uban mereka.
Anas bin Malik r.a. mengemukakan: "Aku tidak mendapatkan lebih dari empat belas lembar uban yang tumbuh di kepala dan jenggot Rasulullah saw. [diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur dan Yahya bin musa dari 'Abdurrazaq, dari Ma'mar, dari tsabit, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.] Dalam Sahih Muslim ada yang semakna dengan hadis ini yakni dalam bab Keutamaan. hadis no. 2344 dan juga dalam Sunan Nasai bab perhiasan.
Dalam suatu riwayat Simak bin Harb r.a. mengunkapkan: "Aku mendengar Jabir bin Samurah r.a. menjelaskan, setelah ia ditanya tentang uban Rasulullah saw: "Apabila Rasulullah saw meminyaki rambut kepalanya, maka tidak terlihat uban di kepalanya. Sedangkan bila tidak meminyakinya, terlihat sedikit uban di kepalanya" [diriwayatkan oleh Muhammad bin Mutsanna, dari Abu Daud al Thayalisi, dari Syu'bah, yang bersumber dari Simak bin Harb r.a.]
Dalam suatu riwayat Ibnu Umar r.a.(ibnu Umar r.a. nama lengkapnya adalah Abi 'Abdurahman 'Abdullah. Ia adalah putera dari Umar bin Khatab r.a. yang dilahirkan tak lama setelah Nabi saw diangkat menjadi rasul. Ia banyak sekali meriwayatkan hadis dan wafat pada tahun 73 atau 74 H) mengungkapkan: "Uban Rasulullah saw hanya sekitar dua puluh lembar saja." [diriwayatkan oleh Muhammad bin 'Umar bin al Walid al Kindi al Kufi, dari Yahya bin Adam, dari Syarik, dari 'Ubaidillah bin 'Umar, dari Nafi' yang bersumber dari Ibnu 'Umar r.a.] Hadis yang semakna dengan ini terdapat pula pada Sunan Ibnu Majah dalam bab Pakaian, hadis no.3630.
Dalam suatu riwayat Ibnu Abbar r.a. mengemukakan: "Abu Bakar r.a. berkata: "Wahai Rasulullah, sungguh anda telah beruban!". Rasulullah saw bersabda: "Surah Hud, Surah al Waqi'ah, surah al Mursalat, surah Amma yatasa'alun dan surah Idzasy Syamsu Kuwwirat, menyebabkan aku beruban". [diriwayatkan oleh Abu Kuraib Muhammad bin al A'la, dari Mu'awiyah bin Hisyam, dari Syaiban, dariAbi Ishaq, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a.]. Hadis yang semakna dengan ini dikeluarkan pula oleh Thabrani.
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Abu Juhaifah r.a. (Abu Juhaifah adalah Wahab as Sawa' bin'Amir bin Sha'sha'ah al Kufi. Ia adalha seorang sahabat yang masyur. Menurut adz Zahabi, ia adalah rawi yang tsiqat yaitu kuat hafalan dan terpercaya. Ia wafat pada tahun 74 H) dikemukakan bahwa para sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, kami melihat anda sungguh telah beruban!" Rasulullah saw bersabda: "Surah Hud, dan beberapa surah sebangsanya (telah menyebabkan aku beruban)" [diriwayatkan oleh Sufyan bin Waki', dari Muhammad bin Basyar, dari 'Ali bin Shalih, dari Abi Ishaq, yang bersumber dari Abi Juhaifah r.a.]
Abu Ramtsah at Taymi Taymur Rabbab r.a. bercerita : "Aku bersama anakku menemui Nabi saw....tatkala aku melihatnya, akupun berkata kepada anakku: "Inilah Nabiyullah saw..." Ia mengenaka dua helai pakaian berwarna hijau. Rambutnya telah ditumbuhi uban dan ubannya berwarna merah (uban beliau berwarna merah karena disemir dengan pacar). [diriwayatkan oleh Ali bin Hujr, dari Sua'ib bin Shafwa, dari 'Abdul Malik bin 'Umair, dari Iyad Laqith al 'Ajali yang bersumber dari Abi Ramstsah at Taymi Taymur Rabbab r.a.]
Pernah ada yang bertanya kepada Jabir bin Samurah r.a. perihal uban Rasulullah saw. Ia menjawab: "Di kepala Rasulullah saw tidak terdapat uban, kecuali beberapa lembar pada belahan kepalanya (sisirannya), Apabila ia memakai minyak, maka tertutuplah uban itu karena minyak" [diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani' dari Suraij bin Nu'man, dari Hammad bin Salamah, yang bersumber dari Simak bin Harb r.a.] Hadis yang semakna dengan ini terdapat pula pada Sahih Muslim bab sifat-sifat Nabi saw, hadis no.2344 dan juga pada Sunan Nasai bab perhiasan.
Read More
Cara Bersisir Rasulullah

Cara Bersisir Rasulullah

Cara Bersisir Rasulullah kajian islam onlien bangmaziedDalam suatu riwayat 'Aisyah r.a. mengungkapkan: "Aku pernah menyisir rambut Rasulullah saw, padahal aku sedang haid". [diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa al Anshari dari Maan bin 'Isa dari Malik bin Anas, dari Hisyam bin 'Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari 'Aisyah r.a.]. Selain hadis ini, masih ada hadis yang semakna yaitu dalam Sahih Bukhari bab pakaian, dalam Sahih Muslim bab Haid yaitu hadis no. 297. Dalam Sunan Abu Daud  yang juga bersumber dari 'Aisyah r.a. tercantum pada bab Tarajjul hadis no, 4189. Dalam Sunan Ibnu Majah tertera dalam bab pakaian yaitu hadis no.3633.
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. dikemukakan: "Rasululah saw sering meminyaki rambutnya, menyisir janggutnya dan sering menyisir rambutnya, beliau menutupi (bahunya) dengan kain kerudung. Kain kerudung itu demikian berminyak seakan-akan kain tukang minyak". [diriwayatkan oleh Yusuf bin Isa, dari Waki', dari Rabi' bin Shabih, dari Yazid bin Aban ar Raqasyi yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.] Ini diriwayatkan juga oleh Tirmidzi dalam kitab As Syamail dan juga diriwayatkan juga oleh Baihaqi.
Ummul Mukminin 'Aisyah r.a. mengungkapkan: "Sesungguhnya Rasulullah saw menyenangi mulai bersuci dari anggota badannya yang sebelah kanan, juga ketika bersisir dan ketika memakai sandal" [diriwayatkan oleh Hand bin as Sirri, dari Abul Ahwash dari Asy'ats bin Abis Sya'tsa dari bapaknya, dari Masruq yang bersumber dari 'Aisyah r.a.]. Selain dalm sunan tirmidzi, terdapat pula dalam Sahih Bukhari bab Thaharah, juga dalam Sahih Muslim bab Thaharah hadis no.258. dalam Sunan Abu Daud terdapat pada hadis no.33. Demikian pula diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah.
Abdullah bin Mughaffal r.a bercerita: "Rasulullah saw melarang bersisir kecuali sekali-sekali" [diriwayatkan oleh Muhammad Basyar, dari Yahya bin Sa'id, dari Hisyam bin Hasan, dari al Hasan Bashri yang bersumber dari 'Abdullah bin Mughaffal r.a.]. (Abdullah bin Mughaffal adalah sahabat Rasulullah saw yang masyur, ia adalah salah seorang peserta Baiatus Syajarah, wafat pada tahun 60 H, ada pula yang mengatakan 57 H)
Seorang sahabat Nabi saw (tidak disebutkan namanya, ada yang menyebutkan 'Abdullah bin Mughaffal r.a ) pernah mengatakan: "Sesungguhnya Rasulullah saw jarang-jarang saja bersisir" [diriwayatkan oleh Hasan bin 'Urfah, dari Abdus Salam bih Harb, dari Yazid bin Abi Khalid, dari Abil 'ala al Audi, dari Humaid ibn 'Abdurrahman, yang bersumber dari salah seorang sahabat nabi saw]
Read More
Rambut Rasulullah

Rambut Rasulullah

Rambut Rasulullah saw kajian islam online bangmaziedDalam suatu riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. diungkapkan: "Rambut Rasulullah saw mencapai pertengahan kedua telinganya.(terdapat juga hadis yang semakna di dalam sahih Muslim yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. dalam bab Keutamaan Nabi saw" hadist no 2338) [diriwayatkan oleh Ali bin Hujr, dari Ismail bin Ibrahim, dari Humaid yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.]
Aisyah r.a pernah berkata sebagai berikut: "Aku dan Rasulullah saw mandi dari tempayan yang sama. Beliau memiliki rambut (yang panjangnya) sampai di atas bahu dan di bawah daun telinga (terdapat pula dalam sunan Ibnu Majah pada bab Thaharah hadis no. 604, juga terdapat dalam Sunan Ibnu Majah bab pakaian hadis no. 3635) [diriwayatkan oleh Hanad bin as Sirri, dari 'Abdurrahman bin Abi Zinad, dari Hisyam bin 'Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari 'Aisyah r.a.]
Dalam suatu riwayat, al Bara' bin 'Azib mengemukakan sebagai berikut:"Rasulullah saw adalah seorang yang berbadan sedang, kedua bahunya bidang, sedangkan rambutnya menyentuh kedua daun telinganya" (terdapat juga dalam Sahih Muslim bab Keutamaan Nabi saw hadis no. 2337, dalam Sunan Abu Daud, bab Tarajjul hadis no.4184. Dalam Sahih Bukhari bab sifat-sifat Nabi saw dan dalam Sunan Tirmidzi yang bersumber dari al Bara bin 'Azib hadis no.3639) [diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani', dari Abu Qathan, dari Syu'bah dari Abi ishaq yang bersumber dari al Bara bin 'Azib r.a.]
Qatadah pernah bertanya kepada Anas bin Malik r.a tentnag rambut Rasulullah saw. Anas menjawab: "Rambutnya tidak terlampau keriting, tidak pula lurus kaku. Rambutnya mencapai kedua daun telinganya" (juga terdapat dalam Sunan Abu Daud, hadis no.4185, begitu pula terdapat dalam Sunan Nasai) [diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jarir bin Hazim, dari Hazim, yang bersumber dari Qatadah]
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Ummu Hani (namanya adalah Atikah atau Hindun, Ia masuk Islam ketika pembebasan kota Mekah) binti Abu Thalib pernah berkata: "Rasulullah saw tiba di Mekah (pada saat pembebasan kota Mekah) sedang rambutnya dijalin menjadi empat (terdapat pula dalam Sunan Abu Daud bab Tarajjul hadis no. 4191, juga dalam Sunan Ibnu Majah bab Libas hadis no.363) [diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya bin Abi 'Umar, dari Sufyan bin 'Uyainah, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, yang bersumber dari Ummu Hani binti Abu Thalib r.a]
Anas r.a pernah menceritakan perihal rambu Rasulullah saw sebagi berikut: "Sesungguhnya rambut Rasulullah saw mencapai pertengahan kedua telinganya (terdapat pula dalam Sunan Abu Daud, pada hadis no.4186, pada Sahih Muslim hadis no. 2338 dan Sunan Nasai) [diriwayatkan oleh Suwaid bin Nashr, dari Abdullah bin Mubarak, dari Ma'mar, dari Tsabit al Banani, yang bersumber dari Anas r.a.]
Dalam suatu riwayat Ibnu Abbas r.a. mengemukakan: "Sesungguhnya Rasulullah saw dulunya menyisir rambutnya ke belakang, sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambut mereka ke kiri dan ke kanan, dan ahlul kitab menyisir rambutnya ke belakang. Selama tidak ada perintah lain, Rasulullah saw senang menyesuaikan diri dengan ahlul kitab. Kemudian, Rasulullah saw menyisir rambutnya ke kiri dan ke kanan (riwayat ini terdapat pula dalam Sahih Bukhari bab sifat-sifat nabi saw, Dalam Sahih Muslim terdapat dalam bab Keutamaan Nabi saw hadis no. 2336, pada Sunan Abu Daud bab Tarajjul hadis no 4188, pada Sunan Ibnu Majah bab pakaian hadis no.3632 dan terdapat pula dalam Sunan Tirmidzi dan nasai bab keindahan). [diriwayatkan oleh Suwaid bin Nashr dari 'Abdullah bin al Mubarak, dari Yunus bin Yazid, dari az Zuhri, dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah, yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a.]
Dalam suatu riwayat Ummu Hani r.a. mengemukakan: "Aku melihat Rasulullah saw menjalin rambutnya menjadi empat". [diriwayatkan oleh Muhammad Basyar, dari 'Abdurrahman bin Mahdi, dari Ibrahim bin Nafi' al Makki, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid yang bersumber dari Ummu Hani r.a.]
Read More
Bentuk Khatamun Nubuwah Atau Tanda Kenabian

Bentuk Khatamun Nubuwah Atau Tanda Kenabian

Bentuk Khatamun Nubuwah Atau Tanda Kenabian kajian islam online bangmaziedDari suatu riwayat yang bersumber dari as Sa'ib bin Yazid r.a dikemukakan : "Bibiku membawa aku untuk menemui Nabi saw, lantas ia berkata kepada Rasulullah saw: "Ya Rasulullah, keponakanku ini sakit. Ketika itu Rasulullah saw menyapu kepalaku (as Sa'ib), mendo'akan keberkahan untukku dan berwudhu. Air sisa wudhunya lalu kuminum. Setelah itu aku berdiri di belakangnya, aku memandang kepada khatam (tanda) yang terletak di antara kedua bahunya. Ternyata khatam itu sebesar telur burung darah. [diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id dari Hatim bin Ismail, dari Ja'd bin Abdurrahman yang bersumber dari Sa'ib bin Yazid r.a.]
Dalam suatu riwayat, Jabir bin Samurah r.a mengemukakan perihal Khatamun Nabi sebagai berikut: " Aku pernah melihat khatam (tanda kenabian).... Ia terletak di antara kedua bahu Rasulullah saw. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara" [diriwayatkan oleh Sa'id bin Ya'qub at Thalaqani dari Ayub bin Jabir, dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.]
Seorang wanita bernama Rumaitsah (putri Amru bin Hisyam bin Abdul Muthalib) bercerita kepada cucunya, yaitu Ashim bin Umar r.a sebagai berikut: "Waktu aku mendengar Rasulullah saw bersabda, aku duduk berdampingan dengan beliau saw, begitu dekatnya, seandainya aku mau mengecup tanda kenabian yang terletak di antaraa kedua bahunya, tentu dapat kulakukan. Adapun sabda beliau yang ditujukan kepada Sa'ad bin Mu'adz dikala ia meninggal dunia itu ialah : "Bergoncang Arsy Allah yang Maha Rahman karenanya (karena kematian Sa'ad)". [diriwayatkan oleh Abu Mush'ab al Madini, dari Yusuf bi al Majisyun, dari bapaknya, dari 'AShim bin 'Umar bi Qatadah, yang bersumber dari neneknya, yaitu Rumaitsah]
Ibrahim bin Muhammad pernah mendengar salah seorang putera Ali bin Abi Thalib k.w. berkata: "Apabilia Ali k.w. menceritakan sifat Rasulullah saw, maka ia akan bercerita panjang lebar. Dan ia akan berkata: "di antara kedua bahunya terdapat khatam kenabian, yaitu khatam para nabi" [diriwayatkan oleh Ahmad bin 'Ubadah ad Dlabi 'Ali bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari 'Umar bin 'Abdullah, dari 'Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang putera 'Ali bin Abi Thalib k.w.]
Dalam suatu riwayat, Alba' bin Ahmar al Yasykuri mengadakan dialog dengan Abu Zaid 'Amr bin Akhthab al Anshari r.a. sebagai berikut: "Abu Zaid berkata: "Rasulullah saw bersabda kepadaku: "Wahai Abu Zaid mendekatlah kepadaku dan usaplah punggungku" Maka punggungnya ku usap, dan terasa jari jemariku menyentuh khatam Aku (alba' bin Ahmar al Yasykuri) bertanya kepada Abu Zaid: "Apakah khatam itu? Abu Zaid menjawab: "kumpulan bulu-bulu" (ia mengatakan demikian karena hanya dapat merasakan dengan rabaan tangannya saja, tidak melihat dengan mata kepala. Jadi apa yang dikatakannya itu hanya berdasarkan rabaan belaka, ialah bulu yang tumbuh di sekitar khatam). [diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu 'Ashim dari 'Uzrah bin Tsabit, yang bersumber dari Alba' bin Ahmar al Yasykuri]
Abu Buraidah r.a. menceritakan tentang pengalaman Salman al Farisi r.a. sebagai berikut: " Salman al Farisi datang membawa baki berisi kurma kepada Rasulullah saw. (sewaktu ia baru tiba di Madinah). Baki itu diletakkannya di hadapan Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda: " Wahai Salman!Apa ini? Salman menjawab: " Ini sedekah buat anda dan sahabat anda" Rasulullah saw bersabda: " Angkatlah ini dari sini, kami tidak makan sedekah". Baki itupun diangkat oleh Salman. Keesokan harinya, ia datang lagi dengan membawa makanan yang serupa dan diletakannya di hadapan Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda: "Apakah ini wahai Salman? Salman menjawab: "Ini adalah hadiah buat tuan." Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya: "Hidangkanlah" Kemudian Salman memperhatikan Khatam yang terletak dipunggung Rasulullah saw. (bagian belakang badannya sebelah atas), maka ia pun (Salman) menyatakan keimannyanya kepada beliau. Salman r.a. adalah budak seorang Yahudi, maka oleh Rasulullah saw ia dibeli dengan beberapa dirham, yakni dengan cara mengupah menanam pohon-pohon kurma. Salman berkerja di kebun itu sampai pohon-pohon kurma itu berbuah. Rasulullah saw membantunya menanam pohon-pohon itu. Di antaranya ada sebatang pohon yang ditanam Umar r.a. Pohon-pohon itu tumbuh dengan subur, kecuali sebatang pohon yang mati. Rasulullah saw bersabda: "Kenapa pohon yang satu ini?" "Umar r.a menjawab: "Wahai Rasulullah, sayalah yang menanamnya" Rasulullah saw pun mencabutnya, kemudian menanaminya lagi dan tumbuhlah dengan baik. [diriwayatkan oleh Abu 'Ammar bih Harits al Khuza'i, dari Ali bin Husein bin Waqid, dari 'Abdullah bin buraidah,yang bersumber dari Abu Buraidah r.a.]
Abu Nadlrah al 'Aufih pernah bertanya kepada Abi Sa'id al Khudri perihal Khatam, Inilah ceritanya: "Aku bertanya kepada Abu Sa'id al Khudri perihal khatam kenabian Rasulullah saw. Ia menjawab: khatm itu di bagian belakang badan Rasulullah saw, merupakan daging yang menyembul." [diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Bisyr bin al Wadlah, dari Abu 'Aqil ad Dauraqi yang bersumber dari Abu Nadlrah al 'Aufih]
Abdullah bin Sirjis (Sahabar Rasulullah saw yang tinggal di Basrah) menceritakan pengalamannya tatkala bersama Rasulullah saw: "Aku datang menghadap Rasulullah saw sewaktu beliau sedang berada di antara para sahabat-sahabatnya. Aku berkeliling sedemikian rupa di belakangnya. Rupanya beliau pun mengerti apa yang kuinginkan, maka beliau melepaskan selendang dari punggungnya, kemudian terlihatlah olehku tempat khatam kenabian yang berada di antara kedua bahunya sebesar genggaman tangan, di sekitarnya terdapat tahi lalat, seakan-akan kumpulan jerawat. Sebelum aku kembali, aku menghadap dulu kepada Rasulullah saw, kemudian kukatakan: "Wahai Rasulullah, semoga Allah swt melimpahkan maghfirah-Nya kepada tuan! Beliau pun menjawab:"Bagimu juga. Orang-orang (yang berda) ketika itu bertanya: "Apakah Rasulullah saw memohonkan ampunan untukmu? Ia menjawab: "Ya dan juga untuk kalian kemudian ia membaca ayat: "Dan mohonkanlah ampun karena dosamu dan mohonkanlah ampun untuk orang-orang Mu'min, laki-laki dan perempuan" (surat Muhammad ayat 19). [diriwayatkan oleh Ahmad bin al Muqaddam Abul asy'ats al 'Ajali al Bashri, dari Hammad bin Zaid dari 'Ashim al Ahwal, yang bersumber dari 'Abdullah bin Sirjis] Baca juga materi tentang Bentuk tubuh rasulullah
Read More
Bentuk Tubuh Rasulullah

Bentuk Tubuh Rasulullah

Bentuk Tubuh Rasulullah kajian islam online bangmaziedDalam suatu riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik r.a  diceritakan sebagai berikut: " Rasulullah saw, bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula terlalu pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Beliau diangkat Alah (menjadi rasul) dalam usia empat puluh tahun. Beliau tinggal di mekah (sebagai rasul) sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke rahmatullah dalam usia enam puluh tahun. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih." [diriwayatkan oleh Abu Raja' Qutaibah bin Sa'id, dari Malik bin Anas, dari Rabi'ah bin Abi Abdurrahman, yang bersumber dari Anasi bin Malik r.a.]
Demikian juga Anas bin Malik r.a. pernah bercerita tentang bentuk tubuh Rasulullah saw sebagai berikut: "Rasulullah mempunyai bentuk tubuh yang sedang, tidak tinggi dan tidak pula pendek, serta bentuk tubuhnya bagus. Rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku dan kehitam-hitaman warnanya (rambutnya). Bila beliau berjalan, maka jalannya cepat." [diriwayatkan oleh Hamid bin Mas'adah al Bashri, yang didengarkannya dari Abdul Wahab as Tsaqafi, dari Hamid yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.]
Dalam riwayat lain yang bersumber dari al Baru bin 'Azib r.a. diceritakan: "Rasulullah saw adalah seorang pria yang berperawakan sedang, bahunya bidang. Rambutnya yang lebat mencapati daun telinganya. Bila Beliau mengenakan pakaian merah, tiada seorangpun yang pernah kulihat lebih tampan dari padanya."[diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar al 'Abdi, dari Muhammad bin Ja'far, dari Syu'bah, dari Abi Ishaq, yang bersumber dari al Bara bin 'Azib r.a.]
Masih bersumber dari al Bara bin 'Azib r.a. ia mengungkapkan: "Akut tak pernah melihat orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari Rasulullah saw. Rambutnya mencapai kedua telinganya. Kedua bahunya bidang. Beliau bukanlah seorang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi." [diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki', dari Sufyan dan Abi Ishaq, yang bersumber dari al Bara bin 'Azib r.a.]
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib k.w. dikemukakan; "Nabi saw tiadalah berperawakan tinggi, tidak pula pendek. Telapak tangan dan kakinya terasa tebal. Kepalanya besar, demikian pula tulang persendiannya. Bulu dadanya memanjang. Bila beliau berjalan, berjalannya gontai seakan-akan sedang turun ke tempat yang rendah. Tidak pernah aku melihat orang seumpama beliau, baik sebelum maupun sesudahnya." [diriwayatkan oleh Muhammad bin Isma'il dari Abu Nua'im, dari al Mas'udi, dari Ustman bin Muslim bin Hurmuz, dari Nafi' bi Jubair bin Muth'im, yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib k.w.]
Juga dalam riwayat yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib k.w. dikemukakan: "Rasulullah saw tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, Beliau berperawakan sedang di tengah kaumnya. Rambutnya tidak keriting bergulung dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. Beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Telapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakan-akan beliau turun ke tempat yang rendah. Bila beliau berpaling, maka seluruh badannya ikut berpaling. Di antara kedua bahunya terdapat Khatamun Nubuwah, yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah di antara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar di antara semua orang. Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan. Barang siapa yang melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barangsiapa yang pernah berkumpul dengannya, kemudian kenal padanya, tentulah ia akan mencintainya. Orang-orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: "Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewah beliau saw" [diriwayatkan oleh Ahmad bin 'Ubadah ad Dlabi al Bashri, juga diriwayatkan oleh 'Ali bin Hujr dan Abu Ja'far Muhammad bin al Husein, dari Isa bin Yunus, dari Umar bin Abdullah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari salah seorang putera Ali bin Abi Thalib k.w yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib k.w.]
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Hasan bin Ali r.a. dikemukakan bahwa ia pernah bertanya kepada pamannya yang bernama Hind bin Abi Halah tentang sifat nabi saw, Hind menjawab: "Rasulullah saw adalah seorang yang berjiwa besar dan berwibawa. Wajahnya cerah bagaikan rembulan di malam purnama. Beliau lebih tinggi dari orang yang pendek dan lebih pendek dari orang yang tinggi. Beliau berjiwa pelindung. Rambutnya bergelombang. Apabila beliau menyisir (rambutnya), maka dibelanya menjadi dua. Bila tidak, maka ujung rambutnya tidak melampaui daun telinga. Rambutnya disisir dengan rapih, sehingga  tampak selalu bersih. Dahinya lebar, alisnya melengkung bagaikan dua bulan sabit yang terpisah. Di antara keduanya terdapat urat yang tampak kemerah-merahan ketika marah. Hidungnya mancung, dipuncaknya ada cahaya yang memancar, hingga orang yang tidak mengamatinya akan mengira puncak hidungnya lebih mancung. Janggutnya tebal, kedua pipinya mulus, mulutnya lebar (serasi dengan bentuk wajahnya), giginya agak jarang teratur rapih, bulu dadanya halus, lehernya mulus dan tegak bagaikan leher kendi. Bentuk tubuhnya sedang-sedang saja, badannya berisi, perut dan dadanya sejajar, dadanya bidang, jarak anatara kedua bahunya lebar dan tulang persendiannya besar. Badannya yang tidak ditumbuhi rambut nampak bersih bercahaya. Dari pangkal leher sampai ke pusat tumbuh bulu yang tebal bagaikan garis. Kedua susu dan perutnya bersih selain yang disebut tadi. Kedua hasta, bahu dan dada bagian atas berbulu halus. Kedua ruas tulang tangannya panjang, telapak tangannya lebar. Kedua telapak tangan dan kakinya tebal, jemarinya panjang, lekukan telapak kakinya tidak menempel ke tanah. Kedua kakinya licin sehingga air pun tidak menempel. bila ia berjalan, diangkat kakinya dengan tegap. Ia melangkah dengan mantap dan berjalan dengan sopan. Jalannya cepat, seakan beliau turun ke tempat yang rendah. Bila beliau menoleh seseorang, maka beliau memalingkan seluruh badannya. Pandangan matanya terarah ke bawah, hingga pandangannya ke bumi lebih lama dari pandangannya ke langit. Pandangannya penuh makna. Bila ada sahabat berjalan, maka beliau berjalan di belakangnya dan bila berpapasan maka beliau menyapanya dengan salam." [diriwayatkan oleh Sufyan bin Waki', dari Jami' bin 'Umair bin 'Abdurrahman al 'Ajali, dari warga Bani Tamim bernama Aba 'Abdullah, dari Hind putera Abi Halah, yang bersumber dari Hasan bin Ali r.a.]
Dalam suatu riwayat , Jabir bin Samurah mengemukakan: " Rasulullah saw mempunyai mulut yang lebar (serasi dengan wajahnya), matanya lebar dan tumit yang tipis. syu'bah berkata: "Aku bertanya kepada Simak perihal pengertian mulut yang lebar". Ia menjawab: "Besar bentuk mulutnya (seimbang dengan raut mukanya)". Aku bertanya lagi."Apa artinya bermata lebar? Ia menjawa: "Belahan matanya panjang". Aku bertanya lagi, "Apa artinya bertumit tipis?" Ia menjawab: " Daging tumitnya sedikit" [diriwayatkan oleh Abu Musa Muhammad bin al Mutsana, juga diriwayatkan oleh Muhammad bin Ja'far, dari Syu'bah, dari Simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah]
Dalam sebuah riwayat yang masih bersumber dari Jabir bin Samurah diungkapkan: "Aku melihat Rasulullah saw di suatu malam yang berbulan purnama. Waktu itu beliau memakai pakaian merah. Aku berganti-ganti memandang antara beliau dengan rembulan, ternyata beliau lebih indah daripada rembulan." [diriwayatkan oleh Hanad bin as Sirri, dari Abtsar bin al Qasim, dari Asy'ats (Ibnu Suwar), dari Abi ishaq, yang bersumber dari Jabir bin Samurah]
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Abu Ishaq r.a. dikemukakan : Ada seorang laki-laki bertanya kepada al Bara bin 'Azib r.a. : "Apakah wajah Rasulullah saw itu lancip bagaikan pedang? al Bara menjawab: "tidak, wajah beliau bagaikan rembulan" [diriwayatkan oleh Sufyan bin Waki', dari Hamid bin 'Abdul Hamid ar Ruasi, dari Zuhair, yang bersumber dari Abi Ishaq r.a.]
Abu Hurairah r.a. pernah menceritakan perihal jasmaniah Rasulullah saw sebagai berikut: "Rasulullah saw berkulit putih, seakan-akan terbentuk dari perak dan rambutnya ikal bergelombang" [diriwayatkan oleh Abu Daud al Mushahafi (Sulaiman bin Salam), dari Nadhr bin Syamil, dari Shalih bin Abil Akhdlar, dari Ibnu Shihab, dari Abi Salamah yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.]
Dalam suatu riwayat, Jabir bin 'Abdullah menceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Telah diperlihatkan kepada ku para Nabi. Adapun Nabi Musa a.s. bagaikan seorang laki-laki dari suku Syanu'ah, Kulihat pula Nabi Isa bin Maryam a.a. ternyata orang yang pernah kulihat dan mirip dengannya adalah Urwah bin Mas'ud (sahabar rasulullah yang memeluk Islam pada tahun 9 H), Kulihat pula Nabi Ibrahim a.s. ternyata orang yang mirip kepadanya adalah kawan kalian ini (yaitu nabi saw sendiri). Kulihat pula Jibril a.a. ternyata orang yang pernah kulihat dan mirip kepadanya adalah Dihyah (sahabat nabi saw yang mengikuti jihad fi sabilillah setelah perang Badar. Ia pun merupakan salah seorang yang ikut Bai'atur Ridhwan yang bersejarh)" [diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'ad dari Laits bin Sa'id, dari Abi Zubair yang bersumber dari Jabir bin 'Abdullah r.a]
Dari suatu riwayat yang bersumber dari Sa'id al Jurairi dikemukakan: "Aku mendengar Abu Thufail r.a. berkata: "Aku telah melihat Rasulullah saw...Sekarang, tak seorangpun yang pernah melihatnya masih hidup salain aku di permukaan bumi ini. Sa'id al Jurairi bertanya: "Coba jelaskan sifatnya kepadaku". Ia menjawab: " (Warna kulitnya) putih, tampan dan berperawakan sedang" [diriwayatkan oleh Sufyan bin Waki' dan diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Basyar, dari Yazid bin Harun yang bersumber dari Sa'id al Jurairi r.a]
Dari suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbar r.a. dikemukakan: "Rasulullah saw mempunyai gigi seri yang renggang. Bila beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar dari antara kedua gigi serinya itu" [diriwayatkan oleh 'Abdullah bin 'Abdurrahman, dari Ibrahim bin Mundzir al Hizami, dari 'Abdul 'Aziz bin Tsabit az Zuhri, dari Ismail bin Ibrahim, dari Musa bin Uqbah, dari Kuraib, yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a]


Read More
Niat

Niat


NiatDalamnya lautan dapat diukur orang, dalamnya hati hanya Allah yang tahu. Sahabat  blogger..! Di dalam hati yang tak terukur oleh manusia itu terdapat suatu hal yang menjadi penentu bernilai atau tidaknya setiap sikap dan tindakan manusia di hadapan Allah swt. Sebuah lagu religius pernah mengungkapkan sebagai berikut " Hati tempat jatuhnya pandangan Allah, Jasad lahir tumpuan manusia, utamakanlah pandangan Allah, dari pada pandangan manusia". Sungguh ungkapan di atas adalah sebuah ungkapan yang indah dan penuh makna, betapa tidak hati adalah tempat penilaian Allah kepada hambanya yang tidak diketahui oleh malaikat sekalipun. Imam Bukhari di dalam kitabnya yang spektakuler yaitu Sahih Bukhari menuliskan perkara niat (sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya) ini sebagai pembuka dari kitabnya, padahal bab pertama dari kitab beliau ini tidak menyangkut perkara ini. Barangkali beliau hendak menyampaikan kepada kita bahwa betapa tidak berartinya beliau menuliskan kitab hadis tersebut, betapa tidak bernilainya kita dalam mempelajari kitab beliau sebelum kita memasang niat yang lurus di hati kita. Bagaimana mungkin setiap amal itu tidak akan bernilai di sisi Allah swt jika tidak disertai dengan niat yang lurus untuk mengabdi kepadanya? Sahabat! Mungkin ilustrasi berikut bisa kita jadikan bahan pertimbangan sekalipun tidak seratus persen mengambarkan pertimbangan penilaian Allah kepada para hambanya.
Read More
Tanda - Tanda Kiamat

Tanda - Tanda Kiamat

Rasulullah Muhammad Saw al-Amin  telah bersabda:
Tanda - Tanda Kiamat"Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga matahari terbit dari arah barat. Maka apabila matahari sudah terbit dari arah barat, lalu para manusiapun akan beriman seluruhnya. Tetapi kelakuan mereka yang demikian pada waktu itu sudah tidak berguna lagi, keimanan seseorang yang belum pernah beriman sebelum peristiwa tersebut atau memang belum pernah berbuat kebaikan dengan keimanan yang sudah dimilikinya itu."(Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah) 
Hadist di atas, menceritakan salah satu tanda-tanda dari sudah mendekatnya hari kiamah, hari dimana pengadilan Allah akan segera berlaku bagi para makhluk-Nya. Hari dimana semua makhluk bernyawa akan diminta pertanggungan jawab atas seluruh perbuatan yang pernah dilakukan selama hidupnya. Berkaitan erat dengan hadist di atas kita bisa melihat dalam sabda Rasul dalam tiga buah hadistnya yang lain :

"Tiada seorang Nabi-pun yang diutus Allah, melainkan Nabi tersebut akan menakut-nakuti kepada umatnya perkara Dajjal. Dajjal itu akan keluar kepada kamu semua, kemudian tidak samar-samar lagi bagimu semua akan hal-ihwalnya dan tidak samar-samar untukmu semua, bahwa Tuhanmu itu tidak bermata sebelah. Sesungguhnya Dajjal itu bermata sebelah yang tidak dapat digunakan yang sebelah kanannya, seolah-olah matanya itu menonjol kemuka."

(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

"Demi dzat yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, niscaya, sudah amat dekat sekali saat turunnya 'Isa putra Maryam dikalangan kamu semua yang bertindak sebagai seorang hakim yang adil. Dia akan memecahkan semua kayu salib dan membunuh babi."
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

"al-Mahdi akan muncul dari ummatku, Tuhan akan menurunkan hujan untuk manusia, ummat akan merasa senang, ternak hidup (dengan aman), dan bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya dan harta akan diberikan dengan merata."

(Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dan al-Hakim dari Abu Sa'id r.a)

Baca juga tentang Niat
Read More
Perjalanan Menuju Allah I

Perjalanan Menuju Allah I

Ibnu Atho'illah berkata: "Sebagian dari tanda ketergantungan kepada amal ialah kurangnya raja' (harapan) ketika terjadi suatu kesalahan atau dosa". Sa'id Hawwa dalam kitabnya shiddiqun rabbaniyyuna menjelaskan perkataan atau nasehat Ibnu Atho'illah sebagai berikut:
Untuk meraih keridhoan Allah, seorang muslim diwajibkan dengan amal dan dalam waktu yang sama ia diwajibkan untuk tidak bersandar kepada amalnya. Hal ini dimaksudkan agar ia dapat sampai kepada keridhoan Allah, sebab betapapun ia telah melaksanakan suatu amal, ia tidak dapat menunaikan hak Allah, dan tidak dapat melakukan kewajiban untuk mensyukuri-Nya. Di dalam al Qur'an Surat 'Abasa ayat 23 Allah berfirman:
Read More
Cara Rasulullah saw Memakai Cincin

Cara Rasulullah saw Memakai Cincin

Cara Rasulullah saw Memakai Cincin kajian islam online bangmaziedDalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib k.w. dikemukakan: "Sesungguhnya Rasulullah saw memakai cincinnya di jari tangan kanannya". (lihat di sunan abu daud dalam bab cinci dan sunan an Nasa'i). Keterangan ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Sahl bin Asakir al Baghdadi, dan diriwayatkan pula oleh Abdullah bin Abdurrahman, keduanya menerima dari Yahya bin Hisan, dari Sulaiman bin Bilal, dari Syarik bin Abdullah bin Abi Namir, dari Ibrahim bin Abdullah bin Hunain, dari bapaknya yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib k.w. Hamad bin Salamah bercerita:"Aku melihat Ibnu Abi Rafi' memakai cincin pada jari tangan kanannya. Kemudian aku bertanya tentang hal tersebut". Ia menjawab: "Aku melihat Abdullah bin Ja'far memakai cincin pada jari tangan kanannya, serta ia ( Abdullah bin Ja'far r.a) mengatakan: "Rasulullah saw memakai cincin pada jari tangan kanannya".(dirirwayatkan oleh Ahmad bin Mani' dari Yazid bin Harun, yang bersumber dari Hammad bin Salamah r.a). Keterangan ini dikeluarkan juga dalam sunan at Tirmidzi bab pakaian dan sunan ibnu Majah bab pakaian serta sunan Nasa'i dalam bab perhiasan.
Read More
Cincin Rasulullah

Cincin Rasulullah

Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik r.a diungkapkan: "Cincin rasulullah saw terbuat dari perak. Sedangkan permatanya dari abbessinia (Habsyi)". Hadis ini diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id dan sebagainya, dari Abdullah bin Wahab, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. Hadist ini dikeluarkan juga oleh Bukhari dalam bab pakaian, Sahih Muslim dalam bab pakaian,  Ibnu Majah dalam bab pakaian, Abu Daud dalam bab Khatam, An Nasa'i dalam bab pakaian dan Tirmizi dalam bab pakaian.
Cincin RasulullahIbnu Umar r.a. pernah berkata: "Sesungguhnya rasulullah saw membuat cincin dari perak. Maka beliau mencap (suratnya) dengan cincin tersebut dan beliau tidak memakainya." Ini diriwayatkan oleh Qutaibah dari Abu 'Awanah, dari Abu Basyar, dari Nafi', yang bersumber dari Ibnu Umar. Dari keterangan ini dikatakan bahwa cincin nabi saw dipakai sebagai pengecap surat, maka nabi tidak memakainya karena fungsinya pun lain. Atau mungkin saja pengertiannya bukan tidak dipakai tetapi jarang dipakai.
Anas bin Malik r.a. bercerita: "Cincin nabi saw terbuat dari perak. Matanyapun terbuat dari perak". Cerita ini diriwayatkan oleh mahmud bin Ghailan, dari Hafsah bin Umar bin 'Ubaid at Thanafisi, dari Zubair Abu Khaitsamah, dari Humaid, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.
Masih dari Anas bin Malik, ia menceritakan: "Tatkala Rasulullah saw hendak menulis surat kepada penguasa bangsa 'Ajam (asing), kepadanya diberitahukan: 'Sungguh bangsa 'Ajam tidak akan menerimanya, kecuali surat yang memakai cap'.  Maka Nabi saw dibuatkan sebuah cincin (untuk cap surat). Terbayanglah dalam benakku putihnya cincin itu di tangan Rasulullah saw".  Ini diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Muaz bin Hisyam, dari ayahnya, dari Qatadah yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.
Dari sebuah riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik r.a dikemukakan: "Ukiran yang tertera di cincin Rasulullah saw adalah 'Muhammad ' satu baris, 'Rasul' satu baris, 'Allah' satu baris". Keterangan ini diriwayatkan oleh  Muhammad bin Yahya, dari Muhammad bin Abdullah al Anshari, dari ayahnya, dari tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.
Masih dari riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. ia mengungkapkan: "Sesungguhnya Nabi saw, menulis surat kepada Kisra (penguasa Persia), Kaisar (Penguas Romawi di Syiria) dan Najasyi (Raja Abesinia), maka diberitahukan orang kepada beliau: 'Sungguh, mereka tidak akan menerima surat tuan kecuali dibubuhi cap'. Kemudian Rasulullah saw membuat sebuah cincin, lingkarannya terbuat dari perak, dan padanya diukir kalimat 'Muhammadur Rasulullah'.(Bukhari dalam bab pakaian, Muslim dalam bab pakaian, Sunan Abu Daud dalam bab cincin). Ini diriwayatkan oleh Nashr bin Ali al Jahdlami Abu Amr dari Nuh bin Qeis, dari Khalid bin Qeis, dari Qatadah yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.
Anas r.a mengungkapkan: "Sesungguhnya apabila Nabi saw masuk ke jamban, maka ia lepaskan cincinya". Keterangan ini diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur dari Sa'id bin Amir, dan diriwayatkan pulah oleh Hajjaj bin Minhal dari Hammam, dari Ibnu Juraij, dari Zuhri yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.
Ibnu Umar r.a bercerita: " Rasulullah saw membuat cincin dari perak, maka dipakailah ditangannya (jemarinya). Kemudian cincin itu berpindah  tangan ke tangan Abu Bakar r.a, lalu ke tangan Umar r.a. Setelah itu berpindah pula ke tangan Utsman r.a sehingga jatuh di sumur Aris (letaknya dekat masjik Kuba). Pada cincin itu terukir kalimat 'Muhammadur Rasulullah'. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Abdullah bin Numair, dari Abdullah bin Umar dari Nafi' yang bersumber dari Ibnu Umar r.a. Baca juga tentang Cara rasulullah saw memakai cincin.
Read More
Hakikat, Hukum, dan Macam-Macam Kedengkian

Hakikat, Hukum, dan Macam-Macam Kedengkian

Imam Algazali menjelaskan dalam kitabnya Ihya Ulumuddin bahwa tidak ada kedengkian kecuali terhadap nikmat, Apabila Allah melimpahkan nikmat kepada saudara Anda maka ada dua keadaan bagi Anda:
Pertama: Anda membenci dan menginginkan lenyapnya nikmat itu. Keadaan ini disebut kedengkian. Definisi dengki ialah membenci nikmat dan menginginkan lenyapnya nikmat itu dari orang yang mendapatkannya.
Kedua: Anda tidak menginginkan lenyapnya nikmat itu, tidak membenci keberadaan dan keberlangsungannya, tetapi Anda menginginkan nikmat yang serupa bagi Anda. Ini disebut ghibthah dan kadang disebut munafasah (persaingan). Persaingan kadang disebut kedengkian dan kedengkian kadang disebut persaingan. Kedua kata ini saling menggantikan.
Keadaan yang pertama diharamkan secara mutlak, kecuali nikmat yang diperoleh orang durhaka atau kafir yang dipergunakan untuk menimbulkan fitnah, merusak persaudaraan dan menyakiti makhluk. Kebencian Anda kepadanya dan keinginan Anda akan lenyapnya nikmat tersebut tidak berbahaya bagi Anda, karena Anda tidak menginginkan lenyapnya nikmat itu sebagai nikmat tetapi karena penggunaanya sebagai sarana kerusakan. Jika kerusakannya dapat diamankan maka nikmat - nikmatnya tidak akan membuat Anda sedih.
Haramnya kedengkian ini telah ditegaskan beberapa nash yang telah kami kutipkan sebelumnya (Bahaya dengki (hasad)), dan bahwa kebencian terhadap nikmat yang diterima orang lain merupakan kebencian terhadap keputusan Allah dalam mengutamakan sebagian hamba-Nya atas sebagian yang lain. Tidak ada alasan sama sekali yang membenarkan kedengkian Anda terhadap kesenangan seorang Muslim yang juga tidak menimbulkan bahaya bagi Anda. Terhadap hal ini al Qur'an mengisyaratkan dengan firma-Nya: "Jika kamu memperoleh kebaikan niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya" (QS. Ali Imran : 120). Kegembiraan ini adalah karena musibah yang dialami orang lain (syamatah). Antara kebencian dan syamatah saling berkaitan. Allah berfirman di dalam al Qur'an:
"Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri." 
(QS. al Baqarah: 109).
Allah mengetahui bahwa keinginan mereka akan lenyapnya nikmat iman adalah kedengkian. Pada ayat yang lain Allah juga berfirman:
"Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaiman mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)". 
(QS. an Nisa':89)
Allah menyebutkan kedengkian saudara-saudara nabi Yusuf alaihis salam dan mengungkapkan apa yang ada di dalam hati mereka dengan firman-Nya:
"Ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahnya tertumpah kepadamu saja".
(QS. Yusuf:8-9).
Karena mereka tidak suka cinta ayah mereka kepada Yusuf dan mereka ingin agar hal itu lenyap darinya makamereka menjauhkan Yusuf dari Ayahnya. Allah swt berfirman:
"Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka."
 (QS. ass Syura: 14)
Allah menurunkan ilmu pengetahuan untuk menghimpun mereka dan menyatukan hati mereka untuk menta'ati-Nya, Allah memerintahkan mereka agar bersatu dengan pengetahuan tetapi mereka justru saling mendengki dan berpecah-belah karena masing-masing mereka ingin menguasai kepemimpinan dan didengar pendapatnya lalu terjadilah pertentangan antar mereka, itulah hukum kedengkian yang diharamkan.
Sedangkan munafasah (persaingan sehat) maka ia tidak haram tetapi terkadang wajib, sunnah atau mubah. Kadang kata dengki dipakai sebagai ganti persaingan dan sebaliknya. al-Fadhal  bin Abbas dan al Muththalib bin Rabiah datang kepada Nabi saw meminta agar diangkat menjadi pengurus shadaqah. Ali berkata kepada keduanya:" Janganlah kamu berdua pergi kepadanya karena beliau tidak akan mengangkat kamu berdua untuk urusan itu". Keduanya berkata kepadanya:
"Apa yang  keluar darimu itu tidak lain adalah kedengkian. Demi Allah, Beliau telah menikahkan anak perempuannya denganmu maka kami tidak mendengkimu dalam masalah itu".
 (HR. Muslim)
Munafasah secara bahasa berasal dari kata nafasah. Nash yang membolehkan munafasah adalah firman Allah:
"dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba". 
(QS. al Muthafifin: 26)
dan ayat:
"Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu". 
(QS. al Hadit:21)
Musabaqah (perlombaan) itu hanya karena takut terlewatkan kesempatannya, seperti dua orang budakyang berlomba - lomba melayani tuannya; masing-masing merasa cemas didahului yang lainnya sehingga mendapatkan kedudukan di sisi tuannya sementara dia tidak bisa mendapatkannya. Rasulullah saw sendiri telah menegaskan hal itu dalam sabdanya:
"Tidak ada kebencian kecuali dalam dua hal: Seseorang yang dikaruniakan harta oleh Allah lalu dia menghabiskan dalam kebenaran, dan seorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya kepada manusia". (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemudian Rasulullah saw menafsirkan hal itu dalam hadis Abu Kabsyah al Anmari, sabdanya:
"Perumpamaan ummat ini seperti empat orang: Seorang yang dikaruniai harta dan ilmu lalu dia mengamalkan ilmunya dengan hartanya, seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah tetapi tidak dikaruniai harta lalu dia berkata: 'Wahai Tuhan, seandainya aku punya harta seperti harta si Fulan niscaya aku bisa beramal dengannya seperti amalnya, maka kedua orang ini memperoleh pahal yang sama (ini merupakan keingingan dari orang tersebut untuk bisa beramal kebaikan seperti saudanya tanpa mengharapkan lenyapnya nikmat yang didapatnya), seseorang yang dikaruniai harta tetapi tidak dikaruniai ilmu lalu dia membelanjakannya  dalam kemaksiatan kepada Allah, dan seseorang yang tidak dikaruniai ilmu dan tidak pula dikaruniai harta lalu ia berkata:' Seandainya aku punya harta seperti harta si Fulan niscaya aku bisa membelanjakannya seperti dia membelanjakannya dalam kemaksiatan, maka dosa kedua orang ini adalah sama". ( diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Tirmidzi dan dia berkata : Hasan Sahih).
Rasululah mencelanya dari sisi angan-angannya untuk bermaksiat bukan dari sisi keinginannya untuk mendapatkan nikmat yang dimiliki saudaranya. Jadi, tidak ada salahnya seseorang berharap mendapatkan kenikmatan seperti yang didapat oleh saudaranya selagi tidak menginginkan lenyapnya nikmat itu dari saudaranya dan tidak membenci kelanggengannya. Itulah hakikat kedengkian dan hukum-hukumnya.

Baca juga :
1. Tercelanya kedengkian atau hasad
Read More
Tercelanya Kedengkian (Hasad)

Tercelanya Kedengkian (Hasad)

Di dalam kitab Tazkiyatunnafs dijelaskan bahwa kedengkian (hasad) adalah mengharapkan lenyapnya ni'mat dari orang yang didengki. Hal ini dalam beberapa keadaannya merupakan salah satu dosa besar. Dapat kita bayangkan seandainya penyakit dengki telah menyebar luas dan setiap orang yang dengki mulai memperdaya setiap orang yang memiliki nikmat maka pada saat itu tipu daya telah menyebar luas pula dan tidak seorangpun yang dapat selamat dari keburukkannya, karena setiap orang pembuat tipu daya dan diperdaya. Bayangkanlah bagaimana jadinya kehidupan manusia pada saat itu.Teori marksisme dibangun di atas landasan kedengkian lalu menimbulkan pertentangan kelas. Seandainya tidak ada kekuasaan negar di negara Marksisme dan kekuatan jaringan intelijen pasti telah terjadi pertentangan yang tidak ada habisnya akibat penyakit dengki. Oleh karena itu, kedengkian merupakan penghancur kehidupan manusia sebab kehidupan tidak mungkin ditegakkan dengan kedengkian. Sebagaiman kehidupan manusia terancam punah dengan sebab kedengkian, demikian pula kelompok, komunitas atau jama'ah apa saja terancam pecah akibat penyakit kedengkian. Kedengkian ini pulalah yang menghancurkan penduduk Madyan sebelum ini dan akan menghancurkan ummat ini, bila penyakit ini dibiarkan berkembang di dalamnya.
Read More
Kandungan Syahadat

Kandungan Syahadat

Setelah kita mempelajari materi pentingnya dua kalimat syahadat (urgensi syahadatain) di dalam Islam, maka sekarang kita akan mempelajari kandungan yang terdapat dalam kalimat syahadat tersebut. Syahadat dalam bahasa Arab memiliki lebih dari satu makna, tergantung dari konteks kalimatnya. Adapun makna yang terkandung dalam kalimat syahadat sebagai berikut:
  1. Syahadat  berarti Ikrar atau proklamasi (al Iqrar). Dalilnya dapat dilihat pada al Qur'an surat Ali Imran ayat 18 [Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan (menyatakan), "tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha perkasa, Maha bijaksana"], surat al A'raf ayat 172 [Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), " Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu ) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini"]  dan surat Ali Imran ayat 81 [Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, " Manakala Aku memberi kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman, "Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan Ku atas yang demikian itu? Mereka menjawa, " Kami setuju, "Allah berfirman, "Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu].
Read More
Urgensi Syahadatain (Dua Kalimat Syahadat)

Urgensi Syahadatain (Dua Kalimat Syahadat)

أهمية الشهادتين 

Di dalam Islam syahadatain (dua kalimat syahadat) merupakan rukun Islam yang pertama dari 5 rukun Islam. Syahadat memiliki arti yang sangat penting (ahammiyatusy syahadatain) bagi seorang muslim. Kenapa syahadatain merupakan hal yang sangat penting bagi setiap muslim? Penjelasan singkat berikut insya Allah dapat menjelaskannya kepada kita.
  1. Syahadatain (dua kalimat syahadat) merupakan pintu masuk ke dalam Islam (al madkhalu ilal islam).[QS. 47:19, 37:35, 3:18, 7:172, 25:23, 39:64-65]. Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat seseorang sudah cukup untuk diakui sebagai seorang Islam (muslim) yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan muslim yang lainnya.
  2. Syahadatain merupakan inti sari ajaran Islam (khalashatu  ta'alimil islam)[QS.2:21, 51:56, 21:25, 33:21, 3:31, 6:162, 3:19, 3:85, 45:18, 6:153]. Ibadah, akhlak dan mua'amalat merupakan implementasi dari syahadat tauhid dan syahadat rasul.
  3. Titik tolak perubahan (asasul inqilab)[QS. 6:122, 33:23, 37:35-37, 85:6-10, 18:2, 8:30]. Perubahan yang sangat mendasar dalam seluruh aspek kehidupan bermula dari syahadatain, yakni perubahan dari jahiliyah menuju Islam, dari kegelapan menuju cahaya terang, dari keterbelakangan menuju kemajuan, dst.
  4. Inti dakwah para rasul (haqiqatu da'watir rasul).[QS. 60:4, 18:110]. Konsep dasar dari dakwa seluruh rasul Allah adalah syahadatain.
  5. Fadhila yang besar (fadhailu 'azhimah). syahadatai memiliki fadhila atau keutamaan yang luar biasa besarnya. Untuk melihat betapa besar dan dahsyatnya keutamaan syahadat adalah dalil berikut. "Barang siapa mengucapkan laa ilaha illallaah ia masuk syurga" dan keterangan "Barang siapa mati sedangkan ia mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah , maka ia masuk surga". Bahasan berikutnya adalah Kandungan syahadat
Read More
Pengertian Rasul atau Utusan Allah

Pengertian Rasul atau Utusan Allah

Pengertian Rasul atau Utusan AllahSecara bahasa rasul berarti utusan. Secara syar'i, rasul adalah lelaki pilihan yang diutus Allah dengan membawa risalah kepada umat manusia (al-insaan) (ar rasul: ar rajalul musthafal mursalu minallahi birisalati ilan nas) [QS.22:75]. Rasul adalah manusia biasa seperti kita, bedanya adalah mereka mendapat wahyu dari Allah swt. [QS. 25:20, 18:110, 6:9, 33:40]. Rasulullah pernah berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah manusia biasa, kalian mangajukan perkara kepadaku, boleh jadi sebagian kalian lebih pintar mengemukakan alasan-alasannya dibanding yang lain sehingga aku menangkan perkaranya sebagaimana yang aku dengar..." (Muttafaqun 'alaih).
Fungsi rasul atau utusan Allah yang paling utama adalah:
Read More
Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul

Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul

حاجة الإنسان إلى الرسول 

Kebutuhan Manusia Terhadap RasulManusia (al-insaan) diciptakan oleh Allah dalam keadaan fitrah (al fitrah).[QS. 30:30,  75:14, 27:14]. Rasulullah pernah bersabda bahwa: "Sesungguhnya setiap anak dilahirkan dengan fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi."(HR. Muslim). Fitrah adalah suci dengan sifat-sifat dan karakteristik dasar yang asli. Secara fitrah manusia mengakui keberadaan al Khaliq (Wujudul khaliq) [QS. 23: 84-90, 7:172]. Allah telah mengatakan di dalam al Qur'an  bahwa Allah telah mengambil sumpah anak-anak Adam saat mereka masih berada di sulbi ayah mereka. Maka secara fitrah manusia juga memiliki kecendrungan untuk menyembah Allah swt ('ibadul khaliq) [QS. 2:21, 10:72, 2:128]. Dan secara fitrah manusia juga menginginkan kehidupan yang teratur selaras dan harmonis (al hayatul munazhamah)[QS.28:50]
Read More
Urgensi Mengenal Allah (Ahammiyyatu ma'rifatillah)

Urgensi Mengenal Allah (Ahammiyyatu ma'rifatillah)

 أهمية معر فة الله

Ibnu Athoillah pernah mengatankan "Allah telah ada dan tiada sesuatupun bersama-Nya, dan kini Dia tetap ada sebagaimana dahulu kala". Mengenal Allah sangatlah penting bagi seorang mukmin. [QS.47:19, 3:18, 22:72-73, 39:67] karena:

Urgensi Mengenal Allah (Ahammiyyatu ma'rifatillah) bangmaziedTema (al maudhu')
Allah yang kita bicarakan ini adalah Allah Sang Pencipta seluruh alam semesta ini (Allahu Rabbul 'Alamin)[QS.13:16, 6:12, 6:19, 27:59, 24:35, 2:255], yang kecil dan yang besar, yang tampak dimata maupun tidak (ghaib) termasuk kita di dalamnya. Maka tentu megenal zat yang menciptakan kita sangatlah penting (urgen), agar kita tahu harus berbuat apa untuk Sang Pencipta kita. Ibnu Athoillah mengatakan dalam kitabnya: "Bagaimana mungkin dapat digambarkan bahwa Dia terhijab oleh sesuatu, padahal kalau tidak ada Dia maka tidak akan ada segala sesuatu".
Dalil-dalil yang ada sangat kuat (quwwatud dalil).
Dalil-dalil yang menunjukkan bukti keberadaan Allah sangat kuat. Dalil-dalil yang dimaksud dalam Islam adalah dalil naqli (nash, tertulis dalam kitab)[QS.6:19] dan dalil aqli (logika, akal)[QS. 3:190], serta dalil fitri (fitrah, sunnatullah)[QS.7:172]. Semua dalil itu telah membuktikan keberadaan zat, sifat-sifat dan nama-namanya secara jelas dan tak terbantahkan. Ibnu Athoillah pernah berkata "Bagaimana mungkin dapat digambarkan bahwa Dia terhijab oleh sesuatu, padahal Dia selalu tampak pada segala sesuatu".
Read More
Cara Mengenal Allah Sang Pencipta

Cara Mengenal Allah Sang Pencipta

Cara Mengenal Allah Sang Pencipta bang maziedSecara indrawi kita tidak dapat menjangkau keghaiban, kesempurnaan dan keagungan Allah swt. Kita hanya dapat mengenalinya melalui ayat-ayat Nya. Ayat-ayat (tanda - tanda kekuasaan ) Allah yang berupa ayatul qauliyah (firman) [QS. 95: 1-5] di dalam kitab suci yang diwahyukan kepada para nabi dan rasul, serta ayatul kauniyah (alam) [QS.41:53; 3:190] berupa tanda-tanda kekuasaanya yang terbesar di alam semesta ini. Berikut ini adalah cara yang digunakan oleh manusia untuk mengenal penciptanya:

Cara Islam
Keterbatasan indrawi kita untuk mengenal Allah swt, mengharuskan kita merujuk kepada dalil naqli (al Qur'an dan as Sunnah) sebagai patokan pasti, dan dalil aqli sebagai penguat hasil pengamatan alam dan pemahaman ayat (an naqli wa aql) [QS. 10: 100-101;  65:10;  67:10]. Inilah cara yang digunakan Islam dalam mengenal Allah swt
Rasulullah saw pernah bersabda: "Berpikirlah kalian tentang makhluk-makhluk Allah dan jangan berpikir tentang dzat Allah karena kalian tidak akan dapat menjangkau-Nya".
Kombinasi yang bagus dari pemahaman ayat naqli dan ayat aqli mendorong seorang muslim untuk membenarkan (at tashdiq) [QS.3:191;  50:37] dan mempercayai Allah swt serta memantapkan keimanan (al iman) kepada Nya.

Cara Jahiliyah
Dalam mengenal hakekat Tuhan, metode jahiliyah berangkat dari prasangka dan kepentingan hawa nafsu (azh zhanu wal hawa) [QS.2:55;  10:36;  6:115]. Metode ini tidak menjadikan dalil naqli sebagai rujukan karena dipandang membelenggu akal, sementara tidak pula menjadikan akal untuk berfikir jernih menganalisa fenomena alam yang merupakan bukti kebesaran Allah. Metode ini hanya menganalisa keraguan dan kebimbangan saja (al irtiyab) [QS.22:55;  24:50], yang ujung-ujungnya mengingkari (al kufru) keberadaan dan kekuasaan Sang Pencipta alam semesta. Baca juga materi sebelumnya tentang Urgensi mengenal Allah atau ahammiyyatu ma'rifatullah
Read More
Membangun Kejayaan atau Binaul Izzah

Membangun Kejayaan atau Binaul Izzah

بناء العزة 

Umat Islam Harus menyadari bahwa mereka merupakan umat pilihan Allah yang termulia. Dilahirkan untuk menjadi umat yang mulia, besar dan jaya.[QS.3:104 dan 110].
Membangun Kejayaan atau Binaul IzzahSebagai Manusia (al insaan)
Sejak manusia lahir, ia sudah membawa potensi kebesaran itu, karena:
  1. Allah telah memuliakannya (at takrim) [QS.17:70]
  2. Allah melebihkannya atas makhluk yang lain (at tafdhil)[QS.17:70]
  3. Allah menundukkan langit dan bumi untuknya (at taskhir)[QS.31:20]
  4. Allah memberikan amanah khilafah kepadanya (al amanah)[QS.33:72].
Potensi ini bukti kehormatan manusia di antara makhluk Allah yang ada (al izzatul insaan).[QS.17:70]
Sebagai Individu Muslim (al fardul muslim)[Qs.63:8, 49:13]
Sebagai individu muslim ia memiliki potensi yanglebih besar dibanding manusia lain. Sebab ia dikaruniai Allah aqidah (al aqidah), ibadah (al ibadah) dan ketakwaan (at taqwa) yang semua berorientasi kepada Allah swt. Aqidah, ibadah, dan ketakwaan itu menyimpan potensi yang sangat besar bagi kejayaan Islam (al izzatul islamiyah)
Sebagai Ummat Islam (al ummatul islamiyah) [QS. 3:110]
Sebagai komunitas individu yang memiliki potensi yang sangat besar tersebut apabila bersatu, akan melahirkan sebuah masyarakat yang terkuat dalam seluruh aspek kehidupan. Potensi kaum muslimin itu adalah:
  1. Iman (al iman): Iman merupakan azas yang mendasari seluruh gerak kehidupan mereka dan sekaligus menjadi tali pengikat perstuan mereka yang sangat kokoh tak terkalahkan
  2. Kejujuran(ash shidq): Iman yang kuat membuat mereka mengungkapkan hal yang benar, anti dusta, dan anti kemunafikan
  3. Kepercayaan (ats tsiqah): Kejujuranlah yang membuat mereka saling percaya, tidak saling curiga kepada sesamanya
  4. Loyalitas (al wala'): Berlandaskan kepercayaan, loyalitas diberikan kepada sesama muslim dan bukankepada selain mereka
  5. Ketaatan(at tho'ah): Dengan loyal kepada Allah, rasul dan ulil amri, menjadikan ketaatan  sebagai pakaian mereka.
  6. Komitmen(al iltizam) : Iman yang benar melahirkan komitmen yang kuat
  7. Pergerakkan(al harokah): Keimanan tidak akan benar apabila tidak disertai dengan gerakkan
  8. Kekuatan(al quwwah): Kaum muslimin secara keseluruhan adalha kekuatan yang sangat besar di dunia yang menjanjikan kejayaan umat Islam (al izzatul jama'iyah) [QS.63:8, 3:139, 61:4]

Read More
Misi Hidup Manusia atau Risalah Hidup Manusia

Misi Hidup Manusia atau Risalah Hidup Manusia

رسالة الإنسان 

Misi Hidup Manusia atau Risalah Hidup ManusiaManusia diciptakan untuk ibadah (al ibadah) kepada Allah swt.[QS. 51:56, 2:21, 2:183, 63:8]. Jika ia menunaikan tujuan penciptaanya maka ia akan menjadi insan yang bertakwa (attaqwa) dan memperoleh kemuliaan sejati (al izzah), yang dengan itu tepatlah jika ia menyandang amanah kekhalifahan di bumi (al khilafah). [QS. 2:30]. Dengan kekhalifahan yang berwibawalah manusia dapat menunaikan fungsinya dengan baik yaitu:
  1. Pemamkmuran bumi (al 'imarah) [QS. 3:104 dan 110]:  Pemakmuran itu berupa pembangunan segala bidang baik materil (al madiyah) maupun spritual (ar ruhaniyah) secara proporsional. Islam memberikan arahan (taujihat) dan hukum (tasyri') yang sinergis, sehingga pembangunan itu mencapai peradaban (al hadharah) yang bermoral dan moralitas (al akhlaq) yang berperadaban.
  2. Pemeliharaan (ar ri'ayah)[QS. 2.218, 18:110, 76:7]: Menjaga dan memelihara keseimbangan ekosistem alam semesta dilakukan secara materil (al madiyah) maupun sprituil (ar ruhaniyah), melalui pendekatan targhib (harapan imbalan) berupa pahala (al jaza') bagi yang konsisten, dan tarhib (ancaman) berupa hukuman (al 'uqubah) bagi yang melanggar.
  3. Perlindungan (al hifzh): Khilafah berfungsi melindungi 5 hak asasi manusia yaitu : agama/aqidah (ad din), jiwa (an nafs), akal (al aql), harta (al mal), dan keturunan/kehormatan (an-nasab). Tugas ini sangat berat dan hanya dapat dilaksanakan apabila khilafah memiliki kewibawaan menegakkan amar ma'ruf nahi munkar [QS. 3:104 dan 110]. Amar ma'ruf nahi munkar adalah upaya untuk menunjukkan bahwa kebenaran itu benar dan menegakkannya di tengah kehidupan, menunjukkan kebathilan itu bathil dan menumbangkannya bersama-sama.[QS. 8:8]. Khilafah dapat menunaikan tugas itu jika ia memiliki kekuatan. Karena itu menyiapkan kekuatan pada diri umat Islam adalah wajib hukumnya (annasirul quwwatil islamiyah).[QS.8:60, 3:103, 2:256, 5:54-56, 17:36, 61:4, 49:15, 9:111].
Adapun anasir kekuatan Islam itu adalah:
Read More
Keseimbangan Hidup atau Tawaazun

Keseimbangan Hidup atau Tawaazun

التوازن 

Keseimbangan Hidup atau Tawaazun
Manusia diciptakan Allah dengan fitrah (al fitrah) [QS. 30: 30, 7:172, 75:14]. Apabila manusia tetap berada pada fitrah itu maka ia disebut sebagai orang yang lurus (hanif). Jika tetap dalam kondisi fitrah yang lurus, berarti keseimbangan standar manusia akan tetap terjaga (at tawazun)[QS.55:7-9]. Keseimbangan manusia meliputi segenap unsurnya yakni: unsur jiwa, akal dan jasadnya. Masing-masing unsur tersebut membutuhkan perhatian dan pemenuhan hak secara seimbang. Kekurangan maupun berlebih-lebihan dalam memberikan hak-haknya akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan.
  1. Fisik (al jasad): Fisik manusia meliputi anggota badan, organ-organ tubuh dan sel-sel  serta muatan tubuh manusia, yang diciptakan Allah dalam keadaan keseimbangan pasti. Untuk mendukung fungsi-fungsi fisik itu, ia membutuhkan pemenuhan (al ghidza ul jasadi) konsumsi (ath tho'am) berupa makanan, minuman, gerak dan istirahat secara seimbang baik kualitas maupun kuantitas. [QS. 2:168, 80:20].
  2. Akal (al aql) : Akal juga membutuhkan pemenuhan kebutuhan secara seimbang. Pemenuhan kebutuhan akal (al ghidza ul aql) dilakukan dengan cara belajar dan mencari ilmu (iptek), tadabbur ayat-ayat qauliyah, dan tafakkur ayat-ayat kauniyah.[QS.96:1, 55:1-4]
  3. Jiwa (ar ruh): Jiwa adalah faktor kunci pada diri manusia, jika ia baik maka baiklah diri manusia itu, sebaliknya jika ia buruk maka buruklah seluruh diri manusia itu. Karena itulah manusia harus pandai menjaga dan merawat jiwanya agar senantiasa baik. Untuk itu jiwa harus dipenuhi kebutuhannaya (al ghidza ur ruh) secara seimbang. Kebutuhan jiwa adalah kedekatan kepada Allah, karena itu santapan jiwa adalah dzikir (dzikrullah) dan ibadah yang kontinyu lagi berkesinambungan. [QS.73:1-2, 13:28, 3:191]
Read More
Buah Takwah (Nataijut Taqwa)

Buah Takwah (Nataijut Taqwa)

نتائج لتقوى 

Buah Takwah (Nataijut Taqwa)
Manusia yang istiqomah dalam beribadah kepada Allah, ia akan menjadi orang yang bertakwa (at taqwa). Semakin tinggi ketakwaan seseorang semakin besar kemuliaanya di sisi Allah. [QS. 49:13]. Kemuliaan yang diperolehnya dari sisi Allah tersebut bisa berupa fasilitas-fasilitas tambahan yang Allah berikan kepadanya sebagai penghargaan. Diantara fasilitas-fasilitas itu ada yang diterima di dunia dan ada pula ketika di akhirat kelak. Berikut ini adalah fasilitas-fasilitas tambahan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang bertakwa yang tidak didapatkan oleh hamba-hamba Allah lainnya.
  1. Rahmat (ar rahmah): rahmah merupakan bentuk kasih sayang yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Dalam hadis rasulullah mengatakan bahwa Allah menciptakan 100 rahmah, satu dari seratus itu diturunkannya ke bumi yang dengan itu semua makhluk berbagi kasih sayang sehingga unta pun akan mengangkat kakinya karena tak ingin anaknya terinjak. sedangkan yang 99 lagi disimpan Allah di langit dan akan diberikannya kepada hamba-hambanya yang beriman dan bertakwa nanti di surga-Nya.[QS.6:155]
  2. Pembeda/filter (al furqan): Takwa memberikan cahaya dan kemampuan lebih bagi orang yang memilikinya untuk membedakan antara yang halal dan yang haram, yang benar dan yang salah, yang jelas dan yang subhat.[QS.8:28]
  3. Keberkahan (al barokah): Keberkahan hidup hanya akan diberikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa. [QS.7:96]
  4. Solusi (al makhraj): Allah akan memberikan solusi atau jalan keluar dari masalah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya dari berbagai permasalahan yang di luar kemampuannya.[QS.63:2]
  5. Rezeki (ar rizq): Orang yang bertakwa akan mendapat rezeki lebih dari apa yang ia perkirakan atau bahkan dari arah yang tak disangka-sangka. Allah menjanjikan itu di dunia ini, dan di akhirat nanti lebih lagi berupa kebahagiaan yang tiada bandingannya.[QS.65:3]
  6. Kemudahan (al yusra): Orang yang beriman dan bertakwa memiliki hati yang bening dan fikiran yang jernih, dan dengan bimbingan Allah swt akan mendapati kemudahan-kemudahan seiring kesulitan yang melandanya.[QS.94:6, 65:4]
  7. Pemutihan atau penghapusan kesalahan (takfirus sayyi'at): orang yang bertakwa senantiasa dalam kebaikan, dan kebaikan itu menghapus keburukan dan kesalahan yang pernah dilakukannya sebagaimana air memadamkan api.[QS. 65:5, 8:29]
  8. Ampunan (al ghufran): Orang yang bertakwa selalu sensitif terhadap dosa-dosanya, maka ia pun terus bertaubat atas kesalahan dan dosanya. Allah maha pengampun bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan bertaubat.[QS. 65:5, 8:29]
  9. Pahala yang besar ('azhamatul ajr): Takwa identik dengan taat, dan setiap bentuk ketaatan pasti mendapat balasan (pahala) yang setimpal bahkan berlipat ganda dari Allah swt.[QS.65:5]
Berbagai fasilitas tambahan bagi orang yang bertakwa itu akan diperolehnya di dunia ini (fid dunya hasanah) [QS. 2:200-201] dan di akhirat nanti akan digenapi semua balasan kebaikannya itu (fil akhiroti hasanah) [QS.28:77, 65:5, 2:201]. Itulah harga diri, kebesaran dan kejayaan sejati yang akan dimiliki seorang hamba yang bertakwa.[QS.63:8, 49:13]
Read More