Surga Hadiah Dari Allah Bagi Orang-Orang Yang Bertakwa

Surga Hadiah Dari Allah Bagi Orang-Orang Yang Bertakwa

Dalam banyak ayat al Qur'an Allah swt memberitahukan kepada para hambanya bahwa surga itu dihadiakan bagi orang-orang yang bertakwa. Diantaranya dapat kita lihat pada surat Qaf, az Zariyat, at Tur sebagai berikut:

Qur'an Surat Qaaf ayat 31 : "Sedangkan Surga itu didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat-tempat yang tidak jauh (dari mereka)"

Qur'an Surat az-Zariyat  ayat 15: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air"

Qur'an Surat at-Tur ayat 17 : "Sesungguhnya orang - orang yang betakwa berada dalam surga dan kenikmatan"

Selain ayat di atas juga masih banyak kita jumpai pada ayat-ayat dan surat lain yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang bertakwa. Karena itu tidak ada pilihan bagi kita kecuali berusaha untuk mencapai derajat ketakwaan. Allah sudah berpesan kepada kita bahwa bekal yang paling baik untuk menghadap Allah adalah takwa. Cobalah kita renungkan pesan Allah berikut ini:

Surga Hadiah Dari Allah Bagi Orang-Orang Yang BertakwaQur'an Surat al Baqarah ayat 197 : "... berbekallah kalian (bawalah bekal), maka (ketahuilah) sebaik-baik bekal adalah takwa..."

Walaupun ayat di atas berbicara tentang ibadah haji dan memerintahkan jama'ah haji untuk membawa perbekalan, tetapi diujung perintah membawa bekal-Nya itu Allah menyelipkan berita bahwa sebaik-baik bekal itu adalah takwa bukan harta. Dengan kata lain dapat kita simpulkan bahwa bekal takwa itu harus lebih kita utamakan dari pada bekal harta, bukan sebaliknya. 
Begitu pentingnya bekal takwa kepada kita, maka Allah perintahkan kepada kita untuk meraihnya. Karena Allah menyatakan bahwa Takwa adalah tiket untuk memasuki surganya Allah swt. Marilah kita renungkan perintah Allah swt berikut ini:

Qur'an Surat Ali Imran ayat 133 : "Bersegerahlah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian (Allah) dan (mendapatkan) surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang Allah peruntukkan bagi orang-orang yang bertakwa"

Dari ayat di atas jelas Allah memerintahkan kepada kita untuk bersegerah meraih ampunannya dengan cara beristighfar memohon ampunannya, selalu bertobat kepadanya siang dan malam pagi dan petang. Seperti yang dilakukan oleh baginda Rasulullah yang tidak kurang dalam satu hari beristighfar kepada Allah 70 kali, padahal beliau adalah orang yang sudah dijamin ampunan dan rahmat dari Allah swt.

Pada ayat di atas Allah juga perintahkan kita untuk meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang di dalamnya setiap orang akan merasakan dirinya seolah - olah seorang raja yang selalu dilayani kebutuhannya oleh para bidadari surga yang matanya cantik jelita. makan dan minuman yang tidak tertandingi oleh makanan dan minuman dunia. kasur yang empuk bertahtakan permata dan naungan yang sejuk serta mata air-mata air yang lezat dan indah. Tidak ada persaingan di dalamnya dan semua penghuninya merasa puas karenanya.  Dan di sisi Allah juga ada tambahan yaitu melihat wajah Allah swt sang pencipta manusia.

Pada ayat di atas juga Allah tegaskan bawah surga itu diperuntukkannya bagi orang-orang yang bertakwa kepadanya. Lantas apa itu takwa yang Allah perintahkan kita untuk berbekal kepadanya melebih bekal-bekal yang lainnya? Apa itu takwa yang membuat Allah menjadikannya sebagai kunci surga? Pada ayat berikutnya Allah menjelaskan sebagian dari sifat orang - orang yang bertakwa itu kepada kita.

Qur'an Surat Ali Imran ayat 134 : " Yaitu orang - orang yang berinfaq dalam keadaan lapang dan dalam waktu sempit, dan orang-orang yang sanggup mengendalikan amarahnya, dan orang-orang yang suka memaafkan kesalahan manusia dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan" 
....
Read More
Mencintai Allah Atau Mahabbatullah

Mencintai Allah Atau Mahabbatullah

Cinta adalah sebuah sifat yang ada pada setiap manusia tanpa pandang bulu. Islam memandang bahwa cinta itu sifatnya fitroh manusia sehingga Islam tidak mematikannya. Jika dikendalikan dengan arif dorongan cinta ini bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif dan produktif. Sebaliknya jika tidak dikendalikan dapat mendatangkan bencana dan malapetaka baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat kelak.
Secara umum cinta seseorang (almahabbah) kepada sesuatu dapat dikategorikan menjadi dua macam:
1.       Cinta syar’i (asy syar’iyah) yaitu cinta yang lahir karena keimanan seseorang.
Al Qur’an surat 48 ayat 29 : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang antara sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat – sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan  hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”
Al Qur’an surat al ma’idah ayat 54 sampai 56 : “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum  yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siap yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”
Al Qur’an surat Ali Imran  ayat 15 : “Katakanlah: Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”
Mencintai Allah Atau MahabbatullahAl Qur’an surat Ali Imran ayat 170 : “Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”
Al Qur’an surat at Tur ayat 21 : “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahal amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
2.       Cinta yang tidak syar’i (ghairu asy syar’iyah) yang lahir karena semata-mata hawa nafsu.
Al Qur’an surat Ali Imran  ayat 14 : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)”
Al Qur’an surat ‘Abasa ayat 34 sampai 37 : “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”
Al Qur’an surat az Zukruf ayat 67 : “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”
Dalam hal cinta kepada apa pun di dunia ini, baik yang syar’i maupun yang tidak syar’i selalu memiliki tanda-tanda (‘alamatul hubb) yang dapat kita perhatikan dengan jelas. Diantara tanda-tanda cinta tersebut adalah:
1.       Sering menyebutnya, mengingatnya (katsiratuz zikr): seseorang yang  telah mencintai sesuatu, maka ia akan sering menyebut dan mengingatnya. Jadi jika seseorang telah mencintai Allah swt maka dia akan banyak menyebut, mengingat Allah swt dalam hidupnya.
Al Qur’an surat al Anfal ayat 2 : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat)imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal”
2.       Kagum (al i’jab): seseorang biasanya mengagumi keindahan, kegagahan dan kelebihan yang ada pada diri kekasihnya. Karena Allah yang memiliki segal sifat kesempurnaan itu, maka Allah lah yang paling berhak untuk dikagumi dan dipuja-puji dalam hidup seorang hamba.
Al Qur’an surat 1 ayat 2 : “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”
3.       Ridha (ar ridha) : disebabkan rasa cinta di dalam dada, seseorang yang mencintai akan rela melakukan apa saja yang dikehendaki oleh kekasihnya dan rela atas apa saja yang dilakukan kekasihnya.
Al Qur’an surat at Taubah ayat 61 sampai 62: “Diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan : Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya. Katakanlah: Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhoanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhoannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin”
4.       Berkorban (at tadh hiyah) : orang bilang cinta itu seiring dengan pengorbanan. Semakin tinggi cinta seseorang kepada sesuatu semakin tinggi pula pengorbanan yang diberikannya.
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 207 : “Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya”
5.       Cemas ( al khauf) : Seseorang yang mencintai sesuatu, biasanya akan merasa cemas, takut kalau cintanya tak berbalas atau kelakuannya melukai perasaan kekasihnya.  Maka usaha apapun akan dilakukannya untuk menghilangkan atau mengikis rasa cemas yang ada.
Al Qur’an surat al Ambiya’ ayat 90  : “Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepada Nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan – perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”
6.       Berharap (ar raja’)  : harap-harap cemas, itulah yang biasanya terjadi pada diri seseorang yang sedang jatuh cinta, jika apa yang ia harapkan dari kekasihnya belum juga ia dapatkan. Maka ia akan selalu berharap dan berharap sampai keinginan nya terpenuhi.
Al Qur’an surat al ambiya’ ayat 90 : “Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepada Nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan – perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami”
7.       Taat (ath tha’ah) : Karena cinta yang memuncak di dalam dada, seseorang yang mencintai akan selalu menta’ati semua perintah kekasihnya. Apapun yang di larang atau tidak disukai oleh kekasihnya pasti dia akan tinggalkan atau hindari bahkan dijauhinya.
Al Qur’an surat an Nisa ayat 80 : “Barang siapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”
Semua tanda di atas adalah ekspres dari kata cinta. Maka cinta yang terbesar dan paling utama diberikan kepada Allah swt (mahabbatullah), sedangkan cinta kepada selain Allah (mahabbatu ghairullah) dibolehkan namun harus dalam kerangka cinta kepada Allah swt. Artinya tidak menyimpang  atau melebihi cintanya kepada Allah swt. Sebab cinta yang demikian itu dapat dikategorikan sebagai sebuah bentuk kesyirikan kepada Allah.
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 165 : “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)”

Al Qur’an surat at Taubah ayat 24 : “Katakanlah: Jika bapak-bapak , anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”
Read More
Makna Laa Ilaaha Illallah

Makna Laa Ilaaha Illallah

Lafazh laa ilaaha dengan nashab fathah di atas ilaaha dan bukan liaahun artinya tidak ada sama sekali. Dan illallah yang artinya kecuali Allah. Sehingga kalimat laa ilaaha illallah bermakna tidak ada (laa) [18:110; 47:19]:
1.       Pencipta (khaliqa)
Al Qur’an surat al Furqan ayat 2 : “Yang kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”
2.       Pemberi rezeki (raziqa)
Al Qur’an surat 51 ayat 57-58 : “Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”
3.       Pemilik (malika)
Al Qur’an surat an Nisa ayat 131-132 : “Kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberik kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, Bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Dan kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, cukuplah Allah sebagai Pemelihara”
Al Qur’an surat al Baqara ayat 284 : “Kepunyaan Allah lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”
Al Qur’an surat al Jumu’ah ayat 1 : “Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana”
Al Qur’an surat Yasin ayat 83 : “Maka Maha Suci (Allah) yang  di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada Nya lah kamu dikembalikan”
Al Qur’an surat al Mulk ayat 1 : “Maha Suci Allah Yang ditangan-Nya lah segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”
Al Qur’an surat Ali Imran ayat 189 : “Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu”
4.       Pembuat hukum (hakima)
Makna Laa Ilaaha IllallahAl Qur’an surat Yusuf ayat 40 : “Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Al Qur’an surat al An’am ayat 114 : “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (al Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa al Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali – kali termasuk orang yang ragu-ragu.”
Al Qur’an surat al Ahzab ayat 36 : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya  telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat , sesat yang nyata.”
Al Qur’an surat al Qasas ayat 68 : “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah  dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).”
Al Qur’an surat al Jatsiyah ayat 18 : “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”
Al Qur’an surat ash Shuraa ayat 20 : “Barang siapa yang mengkehendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagiapun di akhirat”
Al Qur’an surat al An’am ayat 137 : “Dan demikianlah pemimpin pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”
5.       Pemberi perintah (amira)
Al Qur’an surat al A’raf ayat 54 : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”
6.       Pemimpin (waliya)
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 257 : “Allah pelindung ornag-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari pada cahaya kepada kegelapan (kekafiran).  Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”
7.       Kekasih (mahbuba)
Al Baqarah ayat 165 : “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)”
8.       Yang ditakuti (marhuba)
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 40 : “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji Ku kepadamu, dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut (tunduk)”
Al Qur’an surat at Taubah ayat 18 : “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”
9.       Yang diharapkan (marghuba)
Al Qur’an surat al Insirah ayat 8 : “Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”
Al Qur’an surat al Kahfi ayat 110 : “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah dia mengerjakan kebajikan (beramal shaleh) dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya”
10.   Pemberi manfaat dan mudharat (nafi’a wa la dharra)
Al Qur’an surat al An’am ayat 17 : “Dan jika Allah menimpakan bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”
11.   Yang menghidupkan dan mematikan (muhya wa la mumita)
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 258 : “Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya, karena Allah telah memberinya kerajaan(kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata : Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan, Dia berkata: Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata : Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat. Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”
12.   Yang mengabulkan do’a (mujiba)
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 186 : “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia berdo’a kepada Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah) Ku dan beriman kepada Ku agar mereka memperoleh kebenaran”
Al Qur’an surat al Mu’min ayat 60 : “Dan Tuhanmu berfirman: berdo’alah kepada Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina”
13.   Pelindung (mustajara bihi)
Al Qur’an surat  an Nahal ayat 98 : “Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca al Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk”
Al Qur’an surat al Jinn ayat 6 : “Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat”
14.   Tempat bertawakkal (wakila)
Al Qur’an surat Ali Imran ayat 159 : “Maka berkat rahmat Allah Engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkan lah ampunan untuk mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal”
Al Qur’an surat at Taubah ayat 52 : “Katakanlah (Muhammad): Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan azab kepadamu dari sisi-Nya. Atau (azab) melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu (pula) bersamamu”
Al Qur’an surat al An’am ayat 17 : “Dan jika Allah menimpakan bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”
15.   Yang diagungkan (mu’azhama)
Al Qur’an surat al An’am ayat 91 : “Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata : Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia. Katakanlah (Muhammad): Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran yang bercerai berai, kamu memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan kepadmu apa yang tidak diketahui, baik olehmu maupun oleh nenek moyangmu. Katakanlah : Allah lah (yang menurunkannya)kemudian (setelah itu) biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya”
16.   Tempat memohon pertolongan (musta’ana bihi)
Al Qur’an surat al Fatihah ayat 5 : “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami minta tolong”

Semua yang di atas itu tidak ada, kecuali Allah (illallah). Makna secara keseluruhannya adalah bahwa tidak ada yang memiliki predikat seperti yang tersebut di atas kecuali hanya milik Allah swt semata.
Read More
Hidup di Bawah Naungan Tauhid

Hidup di Bawah Naungan Tauhid

Hidup mulia hanya akan diraih apabila seseorang hanya berwala’ (loyal) kepada satu Tuhan yang Maha sempurna yaitu Allah swt dengan pemahaman aqidah yang benar dan sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah saw tentang:
1.     Zat-Nya (adz dzat)
Al Qur’an surat al Ikhlas ayat 1 dan 2 : “Katakanlah (Muhammad): Dialah Allah Tuhan Yang Maha Esa. Allah tempat memintah segala sesuatu ”
Al Qur’an surat asy Syura ayat 11 : “(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menciptakan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat”
Al Qur’an surat al An’am ayat 103 : “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Teliti”
2.      Sifat-sifat-Nya (ash shifat)
Al Qur’an surat al A’raf ayat 180 : “Dan Allah memiliki nama-nama yang baik (asmaul husna), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”
Al Qur’an surat al Isra’ ayat 110 : “Katakanlah (Muhammad): Serulah Allah atau serulah ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru,karena Dia mempunyai nama-nama yang baik (asmaul husna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam sholat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah diantara kedua itu”
3.       Nama-nama-Nya (al asma’)
Al Qur’an surat 59 ayat 22 sampai 24 : “Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Mahasejahterah, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa,Dia memiliki nama-nama yang indah, apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya, dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”
Al Qur’an surat al A’raf ayat 180 : “Dan Allah memiliki nama-nama yang baik (asmaul husna), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”
4.       Perbuatan-Nya (al af’al)
Hidup di Bawah Naungan TauhidAl Qur’an surat al Buruj ayat 16 : “Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki”
Al Qur’an surat al Anbiya’ ayat 23 : “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanya”
Al Qur’an surat al Insan ayat 29 sampai 31 : “Sungguh (ayat-ayat) ini adalah peringatan, maka barang siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) tentu dia mengambil jalan menuju kepada Tuhannya. Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dia memasukkan siapa pun yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya (surga), adapun bagi orang-orang yang zalim disediakan-Nya azab yang pedih”
Konsekuensi dari pemahaman tersebut mengharuskan seseorang untuk mentauhidkan Allah (at tauhid) dalam hal-hal berikut:
1.     Asma dan sifat (al ashma-u wash shifat): Yakin bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat sempurna, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Asma Allah lebih dari yang kita ketahui karena Allah masih merahasiakan nama-nama-Nya. Rasulullah saw pernah berdo’a :” ....aku mohon dengan setiap nama yang menjadi milik Mu, yang Engkau gunakan untuk menamai diri Mu sendiri, atau yang Kau turunkan kepada salah seorang di antara hamba Mu, atau Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi Mu...”
Al Qur’an surat al fatihah ayat 1 : “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”
2.   Rububiyah (ar rubbubiyah): Yakin bahwa Allah adalah Tuhan yang Menciptakan dirinya, dan menciptakan alam semesta dan segala isinya untuk jaminan kehidupannya.
Al Qur’an surat al Fatihah ayat 2 : “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”
Al Qur’an surat  an Nas ayat 1 : “Katakanlah : Aku berlindung dengan Tuhan manusia”
Al Qur’an surat  al a’raf ayat 54 : “Sungguh Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah Tuhan seluruh alam”
3.     Mulkiyah (al mulkiyah): Yakin bahwa Allah adalah Yang Menguasai seluruh kerajaan langit dan bumi
Al Qur’an surat Ali Imran ayat 26 : “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”
Al Qur’an surat Ali Imran ayat 189 : “Dan milik Allahlah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”
4.   Uluhiyah (al uluhiyah):Yakin bahwa karena sifat-sifat-Nya yang sempurna, Allah adalah satu-satunya zat yang berhak disembah
Al Qur’an surat al Fatihah ayat 5 : “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami minta tolong”
Al Qur’an surat an Nas ayat 3 : “Sembahan (Tuhan) manusia”
Ketika mengikrarkan laa ilaaha illallah [18 : 110] seseorang yakin bahwa :
1.      Allah lah yang tercinta (allahul mahbub)
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 165 : “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)”
Al Qur’an surat al Anfal ayat 2 : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat)imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal”
2.      Allah lah Tuhan yang dituju (ar rabbul maqshud)
Al Qur’an surat al An’am ayat 162 : “Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam”
3.       Raja yang ditaati (al malikul mutha’)
Al Qur’an surat an Nisa ayat 59 : “Wahai orang-orang yang beriman, Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”
4.      Allah lah Tuhan yang di sembah (al ilahul ma’bud)
Al Qur’an surat az zariyat ayat 56 : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada ku.”
Keyakinan seperti itulah yang akan mengantarkan seseorang merasakan kehidupan yang mulia (hayatun thayibah) di bawah naungan Tauhid.
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 208 : “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu”
Al Qur’an surat an Nahl ayat 97 : “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami berikan balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”
Read More
Bahaya Syirik Atau Mempersekutukan Allah

Bahaya Syirik Atau Mempersekutukan Allah

Syirik adalah menyekutukan Allah dengan cara menyembah thoghut. Kebalikan dari syirik ini adalah ikhlash yaitu dengan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah swt semata. Para ulama menggolongkan syirik ini secara garis besar menjadi dua yaitu syirik tersembunyi dan syirik yang terang-terangan atau nyata. Kedua-duanya sama-sama besar bahayanya bagi seorang hamba, sehingga harus diajauhi dalam kehidupan ini. 
Bahaya Syirik Atau Mempersekutukan AllahAllah swt amat sangat murka jika hambanya melakukan kesyirikan atau meduakannya dalam melakukan ibadah. Allah swt mengancam hambanya dengan tidak akan mengampuni dosa syirik itu dan akan menempatkan pelakunya dalam neraka jahannam selama-lamanya. Karena itu seorang mukmin harus menjauhi thaghut ini karena dia selalu mengajak manusia kepada kemusyrikan yang sangat berbahaya.
Al Qur’an menyebutkan berbagai jenis thaghut  yang diantaranya sebagai berikut:
1.       Setan (asy syaithan)
Setan adalah musuh bebuyutan manusia yang kerjanya selalu mengajak manusia agar tersesat dan masuk ke dalam neraka. Caranya adalah dengan menghalang-halangi manusia supaya tidak menyembah Allah swt.
Dalil
Al Qur’an surat 36 ayat 60 : “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”
2.       Penguasa Yang Lalim (al hakimul ja-ir)
Fir’aun adalah contoh paling parah sebagai sosok thaghut, ketika ia mengklaim sebagai Tuhan kemudian ia memperlakukan orang lain dengan semena-mena. Penguasa-penguasa zalim generasi berikutnya hingga saat ini merupakan turunan dari Fir’aun belaka.
Dalil
Al Qur’an surat 5 ayat 44 : “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Kitab Taurat  di dalamnya  (ada) petunjuk dan cahaya. Yang dengan Kitab itu para Nabi yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada Ku. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat Ku dengan harga murah. Barang siapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir”
Al Qur’an surat 5 ayat 45 : “Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi dan luka-luka (pun) ada qisasnya (balasan yang sama). Barang siapa melepaskan (hak qisas) nya, mak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim”
Al Qur’an surat 5 ayat 47 : “Dan hendaklah pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah , maka mereka itulah orang-orang fasik”
Al Qur’an surat 79 ayat 17 : “Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas”
3.       Hukum Jahiliyah (al hukmul jahili)
Hukum yang tidak mendasarkan pada hukum Allah adalah thoghut yang berbahaya. Terbukti, hukum jahiliyah selalu menyeret manusia ke lembah penderitaan, kesengsaraan, ketidakadilan, aniaya dan arogansi.
Dalil
Al Qur’an surat 4 ayat 60 : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”
Al Qur’an surat 5 ayat 50 : “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) Siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya) ?”
4.       Perdukunan dan Sihir (al kahana was sihr)
Sebagian manusia ada yang meminta pertolongan kepada jin dan tukang sihir sehingga mereka semakin bertambah dosa dan lalimnya.
Dalil
Al Qur’an surat 72 ayat 6 : “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”
Al Qur’an surat 2 ayat 102 : “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir) padahal Sualiaman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia  dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan : Sesungguhnya kami hanya cobaan(bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan  antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari  sesuatu yang tidak memberi mudharat  kepadanya dan tidak pula memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah menyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui”
5.       Berhala (al ashnam)
Latta, Uzza dan Manata merupakan contoh-contoh berhala ketika Rasulullah diutus di tengah-tengah bangsa Arab.  Penyembahan kepada nya merupakan dosa yang sangat besar walaupun merek (bangsa Qurays) mengatakan bahwa berhala-berhala tersebut merupakan perantara mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Dalil
Al Qur’an surat 4 ayat 117 : “Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyala berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka”
Al Qur’an surat 14 ayat 35 : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”
Al Qur’an surat 14 ayat 36     : “Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikuti, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Memperlakukan hal-hal yang tersebut di atas sama dengan perlakuan dan keyakinan yang diberikan kepada  Allah swt merupakan kemusyrikan (asy syirk) yang dalam al Qur’an disebut sebagai:
1.       Kezhaliman yang besar (azh zhulmun azhim)
Al Qur’an surat 31 ayat 13 : “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya: Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”
2.       Dosa yang tidak diampuni (‘adamul ghufran)
Al Qur’an surat 4 ayat 48 : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia  mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar”
Al Qur’an surat 4 ayat 116 : “Allah tidak akan mengampuni dosa syrik ( mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia  mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesatu jauh sekali.”
Al Qur’an surat 4 ayat 48 : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia  mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar”
3.       Kesesatan yang jauh (dhalalum ba’id)
Al Qur’an surat 4 ayat 60 : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”
Al Qur’an surat 4 ayat 116 : “Allah tidak akan mengampuni dosa syrik ( mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia  mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesatu jauh sekali.”
4.       Diharamkan masuk surga (hirmanul jannah)
Al Qur’an surat 5 ayat 72 : “Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata: sesungguhnya Allah itu dialah Al Masih Putra Maryam. Padahal al Masih  (sendiri) berkata: Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang zalim itu”
5.       Masuk neraka (dukhulun nar)
Al Qur’an surat 5 ayat 72 : “Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata: sesungguhnya Allah itu dialah Al Masih Putra Maryam. Padahal al Masih  (sendiri) berkata: Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang zalim itu”
6.       Menghapus amal baik (ihbathul ‘amal)
Al Qur’an surat 39 ayat 65 : “Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: Sungguh, jika engkau mempersekutukan(Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi”
Al Qur’an surat 6 ayat 88 : “Itulah petunjuk Allah, dengan itu Dia memberi petunjuk kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan”

Karena itulah di dalam Islam perbuatan syirik merupakan perbuatan yang sangat berbahaya bagi manusia.
Read More
Memurnikan Ibadah Atau Ikhlas (Tauhidul 'ibadah)

Memurnikan Ibadah Atau Ikhlas (Tauhidul 'ibadah)

Setelah kita meng Esakan Allah (tauhidullah), maka selanjutnya dalam beribadah harus kita implementasikan juga dengan cara meng Esakan Allah. Itulah yang disebut dengan tauhidulibadah yang maknanya dikenal dengan ikhlash ( pemurnian ibadah).
Dalil
Memurnikan Ibadah Atau Ikhlas (Tauhidul 'ibadah)Al Qur’an surat al Ikhlas ayat 1 sampai 3 : “Katakanlah (Muhammad): Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”

Dan orang-orang yang iklas dalam beribadah adalah orang-orang yang tidak dapat ditundukkan dan diperdaya oleh iblis. Hanya orang-orang iklaslah yang selamat dari tipu daya iblis ini.

Al Qur’an surat 38 ayat 83 : “Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka (iklas)”

Al Qur’an surat 98 ayat 5 : “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlash menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus”

Pemurnian atau ikhlash dalam beribadah baru akan tercapai apabila kita berprinsip:
1.       Menolak Thoghut (al kufru bith thaghut)
Dalil
Al Qur’an surat al Baqara ayat 258 : “Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya, karena Allah telah memberinya kerajaan(kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata : Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan, Dia berkata: Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata : Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat. Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”
Al Qur’an surat  an Nisa ayat 60 : “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunka sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya”
Al Qur’an surat 39 ayat 17 : “Dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, maka pantas mendapat berita gembira, sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku”
Menurut shaikhul Islam Ibnu Taimiyah thaghut merupakan sesuatu yang disikapi seseorang sebagaimana dia mensikapi Allah swt dalam hidupnya  baik berupa jin, manusia maupun makhluk-makhluk lainnya. Maka sekecil apapun thaghut harus disingkirkan dan dijauhi (al ibti’adu anith thaghut).
Dalil
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 208 : “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu”
Al Qur’an surat an Nahl ayat 36 : “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan) : sembahlah Allah, dan jauhilah Thaghut, kemudian di antara mereka  ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaiman kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).”
Al Qur’an surat az Zumar ayat 16 sampai 17 : “Di atas mereka ada lapisan-lapisan dari api dan di bawahnya juga ada lapisan-lapisan yang disediakan bagi mereka. Demikianlah Allah mengancam hamba-hamba-Nya (dengan azab itu). Wahai hamba-hamba-Ku, maka bertakwalah kepada-Ku.  Dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, maka pantas mendapat berita gembira, sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku.”
Kenapa thaghut harus dijauhi? Karena kalau tidak berarti kita telah menyekutukan Allah swt (kita sudah musyrik). Padahal Allah paling benci dengan kemusyrikan hambanya dan Allah nyatakan satu-satunya dosa yang menyebabkan manusia tidak pernah masuk ke surga-Nya adalah dosa syrik (Allah sangat pencemburu dan Dia tidak mau di duakan, tigakan dst oleh para hambanya). Oleh karena itu sekali-kali jangan kita melakukan kesyirikan (menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain) kepada Allah swt. Dan Allah nyatakan dosa ini adalah dosa yang paling besar terhadap-Nya.
Dalil
Al Qur’an surat az Zumar ayat 3 : “Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selai Dia (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sungguh Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang-orang yang sangat ingkar.”
Al Qur’an surat az Zumar ayat 11 : “Katakalah: Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan penuh keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”
Al Qur’an surat az Zumar ayat 14 : “Katakanlah : Hanya Allah yang au sembah dengan penuh keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rasulullah pernah mengatakan kepada ummatnya  bahwa kemusyrikan itu lebih tersembunyi dibanding bekas tapak kaki seekor semut hitam di atas batu hitam dalam kegelapan malam”.  Jadi kita harus betul-betul berhati-hati tentang kesyirikan ini agar tidak terjangkit di dalam hati kita.
2.       Iman kepada Allah (al imanu billah)
Setelah kita berhasil menyingkirkan thaghut, maka kita harus membangun iman di hati kepada Allah swt. Iman itu harus kita wujudkan dalam bentuk ibaah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dalam melakukan ibadah kepada-Nya (‘ibadatullahi wahdahu)
Dalil
Al Qur’an surat an Nahal ayat 36 : “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan) : sembahlah Allah, dan jauhilah Thaghut, kemudian di antara mereka  ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaiman kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).”
Inilah pemurnian ibadah yang hanya dilakukan kepada Allah swt semata (tauhidul ‘ibadah)
Dalil
Al Qur’an surat al Bayyinah ayat 5 : “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlash menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
Sebagai akhir pembahasan ini marilah kita simak ayat al Qur’an yang menyatakan kepada kita bahwa syarat perjumpaan dengan Allah swt adalah kita harus terbebas dari kesyirikan dalam melakukan ibadah kepada-Nya.

Al Qur’an surat al Kahfi ayat 110 : ”Katakanlah (Muhammad) : Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah dia mengerjakan kebajikan (beramal shaleh) dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya”
Read More
Meng-Esakan Allah (Tauhidullah)

Meng-Esakan Allah (Tauhidullah)

Untuk meng esakan Allah swt seseorang harus mengawali dari pengakuan bahwa Allah adalah Rabb atau Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatunya yang ada di alam semesta ini, Tuhan yang memberikan rezeki kepada seluruh makhluknya, Tuhan yang memiliki  segala sesuatunya yang ada di alam semesta ini. Sifat – sifat yang demikian dikenal dengan istilah rubbubiyatullah (sifat ketuhanan Allah).
Dalil
Meng-Esakan Allah (Tauhidullah)Al Qur’an surat  alfatiha ayat 2 : “Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam”
Al Qur’an surat al a’raf ayat 54 : “Sungguh Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya denga cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam”
1.       Allah sebagai pencipta (khaliqan)
Allah adalah zat yang telah ada sejak zaman azali, tidak bermula dan tidak berakhir, yang meciptakan langit dan bumi dengan segala isinya.
Dalil
Al Qur’an surat al Furqan ayat 2 : “Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat”
2.       Allah sebagai pemberi rezeki (raziqan)
Setelah menciptakan makhluk-Nya, Allah menghidupkan dan memberinya rezeki untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya baik langsung maupun tidak langsung.
Dalil
Al Qur’an surat  51 ayat 57 sampai 58 : “Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
Al Qur’an surat 65 ayat 3 : “Dan Dia memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”
3.       Allah sebagai pemilik (malikan)
Karena Allah adalah pencipta alam semesta, maka Allah pulalah Pemilik alam semesta ini  yang sesungguhnya, bukan yang lainnya.
Dalil
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 155 sampai 156 : “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata sesungguhnya kami ini milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali”
Al Qur’an surat al Baqarah ayat 284 : “Milik Allah lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni  siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah maha kuasa atas segala sesuatu”
Itulah kekuasaan Allah swt (Mulkiyatullah).
Dalil
Al Qur’an surat Ali Imran ayat 26 : “Katakanlah (Muhammad) : Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”
Al Qur’an surat Ali Imran ayat 189 : “Dan milik Allah lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”
Al Qur’an surat al fatiha ayat 4 : “Pemilik hari pembalasan”
Al Qur’an surat 114 ayat 2 : “Raja manusia”
Jadi kekuasaan Allah swt adalah kekuasaan mutlak tanpa bisa diganggu gugat oleh siapapun di alam semesta ini, namun demikian Allah swt bukanlah Tuhan yang lalim dan sewenang-wenang karena  Allah swt mempunyai sifat :
1.       Pelindung (waliyan) yang sangat cinta dan sayang kepada makhluk-Nya
Al Qur’an surat  al A’raf ayat 196 : “Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab (al Qur’an). Dia melindungi orang-orang soleh”
2.       Hakim (hakiman) yangmengadili, memvonis, dan memutuskan dengan keputusan mutlak.
Al Qur’an surat Yusuf ayat 40 : “Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat, baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”
3.       Pemimpin (amiran) yang memberi perintah dan larangan yang tidak boleh dilanggar.
Al Qur’an surat al A’raf ayat 54 : “Sungguh Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya denga cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam”
Oleh karena itu sepantasnyalah kita mengarahkan orientasi hidup (ghayatan) hanya kepada-Nya. [Al Qur’an surat 6 ayat 162]. Dialah Tuhan yang berhak disembah (ilahan ma’budan) dengan segenap penghambaan.
Dalil
Al Qur’an surat an Nas ayat 3 : “Sembahan manusia”

Al Qur’an surat al Kafirun ayat 1 sampai 6 : “Katakanlah (Muhammad) : Wahai orang-orang kafir!. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah yang aku sembah. Untuk mu agama mu dan untuk ku agamaku”
Read More
Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 4

Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 4

Sebelumnya kita sudah menjawab secara singkat pertanyaan kenapa puasa ramadhan mampu meningkatkan kualitas seorang hamba yang beriman menjadi orang-orang yang bertakwa. Bahasan kita selanjutnya adalah menjawab pertanyaan "kenapa kita perlu bertakwa?" atau "ada apa dengan takwa?" atau mungkin pertanyaan "apa untungnya kalau kita bertakwa?". Tentu jawaban yang paling benar hanya Allah dan Rasulnya saja yang paling tahu. Tetapi sebagai seorang hamba yang diwarisi kitab Allah (al Qur'an), rasanya tidak salah juga kita mencari tahu maksud dari ayat ini untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan dalam diri kita.
Konsep Tarbiyah Ramadhan Bagian 4
Takwa adalah sebuah kata yang sudah sangat terkenal di kalangan kaum muslimin, bahkan non muslim pun sudah banyak yang tahu dengan kata yang satu ini. Jika kita seorang laki-laki muslim dan rutin mengikuti ibadah jum'at, akan selalu mendengar pesan takwa ini dari para khatib sebelum memulai khutbah jum'atnya. Bahkan tidak sedikit masjid khususnya di Indonesia yang dinamakan dengan Masjid Takwa (at Taqwa), dengan harapan orang-orang yang masuk ke dalamnya menjadi hamba-hamba yang bertakwa. Sungguh takwa adalah sebuah kata terkenal, mudah diucapkan tapi belum tentu mudah untuk mencapainya. Apakah mencapainya sesuatu yang tidak mungkin? Menurut saya tentu tidak juga, karena kalau Allah memerintahkan hambanya (dalam al Qur'an) untuk menjadi orang-orang yang bertakwa berarti derajat itu adalah sesuatu yang mungkin untuk diraih. Tidak mungkin Allah swt memerintahkan sesuatu yang tidak mungkin sanggup dilakukan hamba-hamba-Nya.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka kita akan memulainya dengan menjelaskan definisi atau pengertian dari kata takwa tersebut. Sebetulnya definisi dari kata takwa sudah banyak diungkapka oleh para ulama dengan redaksi yang berbeda-beda tapi pada intinya bermaksud sama. Pada kali ini kita akan coba tuliskan definisi takwa yang tercantum dalam situs wikipedia berbahasa Indonesia sebagai berikut.

Takwa / Taqwa dalam bahasa Arab berarti memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan dan menjauhi larangan-Nya, jadi tidak cukup diartikan dengan 'takut' saja. Adapun arti lain dari kata takwa sebagai berikut:
  1. Melaksanakan segala perintah Allah
  2. Menjauhkan diri dari segala larangan Allah (yang haram)
  3. Ridho dan ikhlash menerima ketentuan dan hukum-hukum Allah.
Takwa berasal dari kata waqa, yaqi, wiqayah yang artinya memelihara yaitu memelihara diri dalam menjalani hidup sesuai dengan petunjuk atau tuntunan Allah. Sedangkan menurut bahasa Qurays, kata takwa lebih dekat kepada kata waqa yang bermakna melindungi sesuatu yaitu memelihara dan melindunginya dari sesuatu yang membahayakan dan merugikan.

Berkaitan dengan takwa ini, banyak juga kisah-kisah orang yang bertakwa yang dapat kita jadikan contoh dalam menapaki kehidupan ini. Suatu hari khalifah Umar bin Khatab (kalau tidak salah) pernah berjalan-jalan, kemudian beliau bertemu dengan pengembala domba. Kemudian beliau meminta susu kepadanya dan pengembala menjawab ini bukan domba saya. kemudian Umar berkata bagai mana kalau saya beli satu saja dan tuanmu pasti tidak akan tahu? Pengembala tersebut menjawab : "Kalau begitu dimana Allah?".
Kisah lain ada juga mengungkapkan bahwa salah seorang sahabat ditanya oleh sahabat lainnya (namanya sengaja tidak disebutkan karena penulis ragu-ragu) tentang makana takwa, kemudian beliau menjawab:" Pernahkah kamu berjalan di sebuah lembah yang penuh duri? sahabatnya menjawab: pernah. Bagaimana kamu berjalan di sana? : sahabatnya menjawab: Saya berjalan dengan hati-hati karena tidak mau tertusuk duri. Kemudian sahabat tadi berkata : Itulah takwa! dan masih banyak lagi kisah - kisah orang takwa lainnya yang tak mungkin saya tuliskan di sini. Kalu melihat definisi di atas dan dua kisah yang tadi, maka ibadah puasa sangat memungkinkan untuk mewujudkannya.

Kalau begitu apa untungnya seorang hamba bertakwa? Untungnya ya sangat banyak sekali dan Allah sudah sampaikan kepada kita lewat Kitab dan Rasul-Nya. Berikut ini adalah beberapa keuntungan kalau seorang hamba bertakwa:
  1. Rahmat (ar rahmah): rahmah merupakan bentuk kasih sayang yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Dalam hadis rasulullah mengatakan bahwa Allah menciptakan 100 rahmah, satu dari seratus itu diturunkannya ke bumi yang dengan itu semua makhluk berbagi kasih sayang sehingga unta pun akan mengangkat kakinya karena tak ingin anaknya terinjak. sedangkan yang 99 lagi disimpan Allah di langit dan akan diberikannya kepada hamba-hambanya yang beriman dan bertakwa nanti di surga-Nya. ["Ini adalah Kitab (al Qur'an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat".QS.al An'am ayat 155]
  2. Pembeda/filter (al furqan): Takwa memberikan cahaya dan kemampuan lebih bagi orang yang memilikinya untuk membedakan antara yang halal dan yang haram, yang benar dan yang salah, yang jelas dan yang subhat.["Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang haq dan yang bathil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Allah memiliki karunia yang besar". QS.al Anfal ayat 29]
  3. Keberkahan (al barokah): Keberkahan hidup hanya akan diberikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa. [ "Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyat mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan". QS.al A'raf ayat 96]
  4. Solusi (al makhraj): Allah akan memberikan solusi atau jalan keluar dari masalah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya dari berbagai permasalahan yang di luar kemampuannya.[ "...Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar (solusi) baginya". QS.at Thalaq ayat 2]
  5. Rezeki (ar rizq): Orang yang bertakwa akan mendapat rezeki lebih dari apa yang ia perkirakan atau bahkan dari arah yang tak disangka-sangka. Allah menjanjikan itu di dunia ini, dan di akhirat nanti lebih lagi berupa kebahagiaan yang tiada bandingannya.[ "Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka". QS.at Thalaq ayat 3]
  6. Kemudahan (al yusra): Orang yang beriman dan bertakwa memiliki hati yang bening dan fikiran yang jernih, dan dengan bimbingan Allah swt akan mendapati kemudahan-kemudahan seiring kesulitan yang melandanya.[QS.94:6, 65:4]
  7. Pemutihan atau penghapusan kesalahan (takfirus sayyi'at): orang yang bertakwa senantiasa dalam kebaikan, dan kebaikan itu menghapus keburukan dan kesalahan yang pernah dilakukannya sebagaimana air memadamkan api.[QS. 65:5, 8:29]
  8. Ampunan (al ghufran): Orang yang bertakwa selalu sensitif terhadap dosa-dosanya, maka ia pun terus bertaubat atas kesalahan dan dosanya. Allah maha pengampun bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan bertaubat.[QS. 65:5, 8:29]
  9. Pahala yang besar ('azhamatul ajr): Takwa identik dengan taat, dan setiap bentuk ketaatan pasti mendapat balasan (pahala) yang setimpal bahkan berlipat ganda dari Allah swt.[QS.65:5]
Berbagai fasilitas tambahan bagi orang yang bertakwa itu akan diperolehnya di dunia ini (fid dunya hasanah) [QS. 2:200-201] dan di akhirat nanti akan digenapi semua balasan kebaikannya itu (fil akhiroti hasanah) [QS.28:77, 65:5, 2:201]. Itulah harga diri, kebesaran dan kejayaan sejati yang akan dimiliki seorang hamba yang bertakwa.[QS.63:8, 49:13]
Read More