Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'an

Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'an


Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'anSesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan al-Quran kepada manusia bukan hanya sekedar untuk dibaca, tapi juga agar mereka memahami, mentadabburi, dan mengamalkannya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah. dalam al-Fawaid mengatakan bahwa kita akan mendapat manfaat dari al-Qur’an apabila terpenuhi hal-hal sebagai berikut: pemberi pengaruh [al-Qur’an itu sendiri], tempat yang menerimanya [hati yang hidup], dan tiada hal yang menghalang (tiada Penghalang antara Al Quran dan Pembacanya).
Ketiga aspek ini diterjemahkan kedalam lima poin syarat agar kita dapat mengambil dan memperoleh manfaat dari Al Quran sebagai berikut:
1.       Bersikap Sopan terhadap Al Quran
Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'an

Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al Araf: 204)
Jadi dari ayat ini dapat kita pahami bahwa Allah memerintahkan kita agar mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, jika dibacakan Al Quran baik dalam sholat maupun di luar sholat agar kita mendapatkan rahmat dari Allah SWT.
Bersikap sopan terhadap al Quran ini dapat diwujudkan dengan cara niat yang baik, kebersihan hati dari penyakit-penyakit hati, mengosongkan hati dari hal-hal yang menyibukkannya, kesucian jasmani dari najis, dan mengkhususkan pikiran bersama al-Qur’an.
·         Berniat Baik
Hal yang pertama harus kita lakukan agar dapat memperoleh manfaat dari Al Quran adalah dengan memperbaiki niat kita ketika akan membaca Al Quran. Niatkan pada diri kita, bahwa kita membaca Al Quran adalah untuk mendapat ridho Allah SWT, mendapatkan surga-Nya, terbebas dari neraka, dan mendapatkan pahala dari-Nya.
Jauhkan diri kita dari sikap atau niat ingin dipuji kalau kita rajin membaca Al Quran dan pandai baca al Quran. Jangan sampai kita seperti kisah 3 orang yang dianggap “super soleh” saat hari dimana kita ditentukan masuk neraka atau surga (seperti keterangan hadis di bawah ini). Hal ini pun guna menghindarkan kita dari golongan perusak agama, yaitu menjadi orang yang tidak paham, orang yang tidak ikhlas, dan orang yang tidak beramal.
*******
Abu Hurairah ra. meriwayatkan, ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid didatangkan di hadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.
Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku berperang demi membela agamamu.” Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu berperang supaya orang-orang menyebutmu Pahlawan.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Seorang penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dan rajin membaca Al Quran didatangkan dihadapan Allah. Lalu ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengamalkannnya, dan aku membaca Al Quran demi mencari ridha-Mu.”
Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu mencari ilmu supaya orang lain menyebutmu orang alim, dan kamu membaca Al Quran supaya orang lain menyebutmu orang yang rajin membaca Al Quran.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Selanjutnya, seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan terkenal karena kedermawanannya, didatang dihadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.
Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai, kecuali aku sedekah karena-Mu.” Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu melakukan itu semua agar orang-orang menyebutmu orang dermawan dan murah hati.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah menepuk pahaku seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalah manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di Hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim)
*******
·         Bersih Hati dan Jasad
Selain niat yang baik kita pun harus membersihkan hati kita dari penyakit-penyakit hati, salah satunya dari sikap menyepelekan/menghina mushaf Al Quran itu sendiri. Misalnya kita harus menjaga mushaf Al Quran tersimpan dengan baik dan tidak diperlakukan sebebas mungkin seperti barang atau benda yang lain. Ditambah kesucian jasmani diri kita dari najis harus sangat diperhatikan. Artinya usahakan diri kita berinteraksi dengan Al Quran dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun hadas besar.
·         Konsentrasi Penuh
Dan poin terakhir dari bersikap sopan terhadapnya ialah, dengan mengosongkan hati dari hal-hal yang menyibukkannya dan mengkhususkan pikiran bersama Al Quran. Sederhananya ialah kita harus konsentrasi penuh ketika berinteraksi dengan Al Quran. Anggaplah Al Quran ini merupakan SMS, pesan, ataupun surat spesial yang Allah berikan kepada diri kita sehingga kita akan membacanya dengan penuh penghayatan dan membuat kita senang dengannya
2.       Baik dalam Talaqqi (Talaqqi dengan Sebaik-baiknya)
Maksud dari hal ini adalah kita harus menyiapkan kondisi terbaik kita ketika akan berinteraksi dengan Al Quran. Hal ini dilakukan dengan hati yang khusyu’; ta’zhim [pengagungan], dan semangat untuk melaksanakan apa yang diperintahkannya.
·         Hati yang Khusyu’
Salah satu cara untuk mendapatkan hati yang khusyu adalah dengan mengingat mati, hal ini Allah terangkan dalam Al Quran sebagai berikut:
Syarat Mengambil Manfaat dari Al Qur'an
  1. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,
  2. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al Baqarah: 45-46)
Dalam mengingat mati, kita dapat melakukannya dengan beberapa cara yaitu dengan membuat atau menghadiri majelis dzikrul maut, ziarah kubur, atau yang paling ekstrim yang pernah dicontohkan oleh Muhammad bin Al Munkadir (bisa dicari sendiri kisahnya) yaitu dengan membuat kuburan di dalam rumah. Mengapa beliau melakukan hal itu, karena menurut beliau jika 1 hari saja tidak mengingat kematian maka hati beliau akan terasa keras membatu. Lalu bagaimana dengan kita yang entah hanya berapa kali ingat dengan kematian?
·         Ta’zhim (Mengagungkan Al Quran)
Hal ini seperti yang telah dicontohkan sebelumnya yaitu anggap Al Quran ini surat yang dikhususkan Allah untuk diberikan kepada kita. Berikan perhatian yang penuh kepadanya, jangan disepelekan.
·         Semangat untuk Melaksanakan Apa yang Diperintahkannya
Saat akan membaca siapkan diri kita untuk mendengar, menerima, dan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan apa yang dilarang-Nya.
3.       Memperhatikan Tujuan Asasi Diturunkannya Al Quran
Tentunya sebelumnya kita harus menyiapkan diri kita agar siap mendapat petunjuk dari interaksi kita dengan Al Quran. Karena tujuan asasi atau tujuan pokok diturunkannya Al Quran adalah sebagai berikut:
  • Sebagai Petunjuk Menuju Ridha Allah
  • Membentuk Kepribadian yang Islami
  • Pemimpin Manusia (Memandu Umat Manusia tentang Tata Cara Hidup)
  • Membentuk Masyarakat yang Islami
Ibarat jika kita memiliki buku petunjuk membuat pesawat yang paling benar dari awal sampai akhir, dan kita memiliki kesiapan untuk membuat pesawat itu tentu saja pesawat yang bagus akan dihasilkan dengan sempurna. Sama halnya dengan Al Quran, Al Quran adalah buku petunjuk yang benar dari awal sampai akhir tak ada cacat sedikitpun. Jika kita siap melaksanakan apa yang ada dalam buku petunjuk tersebut maka hidup kita pun akan menghasilkan sesuatu yang sempurna. Contohnya saja saat kekhalifahan Abu Bakar yang mengamalkan Al Quran sebagai buku petunjuk, dan Abu Bakar siap menggunakannnya. Hasil yang diarasakan pun akan sempurna.
4.       Mengikuti Cara Interaksi Para Sahabat ra. dengan Al Quran
Merekalah generasi terbaik, mereka mencapai predikat itu karena interaksinya yang sangat baik bersama Al Quran. Dan cara mereka dalam berinteraksi dengan Al Quran itu adalah:
·         Pandangan yang Menyeluruh
Maksudnya adalah mereka (para sahabat) tidak memahami ayat-ayat secara terpisah karena ayat satu dengan yang lain saling terikat. Karena pandangan yang parsial terhadap Al Quran akan memunculkan anggapan bahwa ada kontradiksi diantara ayat-ayatnya. Hal ini yang mengakibatkan orang akan mengimani sebagian ayat dan mengingkari sebagian yang lain. Padahal, mengimani sebagian ayat dan mengingkari sebagian yang lain adalah kekafiran yang sebenarnya. Rasulullah SAW bahkan melarang kita mempertentangkan satu ayat dengan ayat lainnya. Sama halnya dengan Islam, jangan sebagian kehidupan kita saja yang berlandaskan islam, tapi segala aspek kehidupan kita sebaiknya berlandaskan islam. Walau saat ini belum, tapi kita jangan sampai pernah hilang harapan untuk itu.
·         Memasuki Al Quran tanpa Membawa Persepsi, Pemahaman, dan Keyakinan-keyakinan Masa Lalu
Sikap ini dilakukan agar apa yang akan dipahaminya dari Al Quran tidak dibatasi oleh pemahaman dan persepsi-persepsi lamanya. Jadi kita harus terima Al Quran apapun itu, tanpa ada intervensi-intervensi dari pemahaman kita terdahulu. Dan Al Quran lah yang mulai jadi sandaran hukum mulai dari saat ini juga.
·         Kepercayaan Mutlak kepada Al Quran
Apa yang dikatakan Al Quran sebagai haram, mereka mengatakannya sebagai haram. Sebaliknya, apa yang Al Quran katakan sebagai halal, mereka mengatakannya sebagai halal. Bahkan mereka pun percaya sepenuhnya pada hal-hal yang kadang belum mereka ketahui atau bertentangan dengan logika berpikir mereka. Karena logikalah yang harus menyesuaikan dengan Al Quran, bukan Al Quran yang dipaksakan untuk selaras dengan logika mereka. Kita harus percaya bahwa seluruh isi dari Al Quran itu adalah benar, dan jangalah pernah merasa bahwa Allah salah.
·    Merasakan bahwa Ayatnya (yang Dibaca/Didengar) Ditujukan kepadanya
Imam Ahmad mengatakan bahwa sipa saja yang ingin berdialog dengan Allah hendaklah ia membaca Al Quran. Sayyid Qutub mengatakan bahwa hendaklah ia merasakan seakan-akan wahyu itu sedang turun kepadanya secara langsung.
5.       Tiada Penghalang
Yaitu tidak adanya hal-hal yang menghalangi terjadinya pengaruh Al Quran secara efektif, diantaranya:
·    Kesibukkan hati dengan hal/urusan lain
Saat membaca Al Quran kita tidak disibukkan dengan kegiatan lain seperti tugas, nonton TV, SMS, Chatting, dan lain-lain. Fokus kita hanya tertuju pada interaksi dengan Al Quran.
·   Ketidakpahamannya terhadap makna dan pesan-pesan yang terkandung di dalam ayat yang dibaca atau didengar
Hal ini yang paling sering ada diantara kita, karena kita tidak paham bahasa arab, oleh karena itu cobalah kita mulai untuk belajar bahasa arab agar kita paham Al Quran itu sendiri. Atau minimalnya bacalah Al Quran disertai dengan terjemah dan tafsirnya.
·         Berpaling kepada selain Al Quran
Hal ini yang paling ditakutkan, kita harus menghindari hal ini, karena berpaling kepada selain Al Quran bukan hanya akan mengakibatkan kita tidak akan mendapat manfaat Al Quran itu sendiri, melainkan akan menghantarkan kita kepada kekafiran. Na’udzubillah…! Semoga Allah menjaga niat kita, memberikan kekuatan dan memudahkan jalan bagi kita untuk dapat berinteraksi dengan Al Quran, serta mendapatkan manfaat darinya.
Read More
Kesempurnaan Islam (Syumuliyatul Islam)

Kesempurnaan Islam (Syumuliyatul Islam)

A.    Tujuan Materi
1.      Memahami gambaran menyeluruh dari Islam sebagai asas (pokok), bina (bangunan), maupun muayyidat (penyangga) dengan hubungan-hubungannya.
2.      Dapat menyebutkan contoh-contoh penyelesaian aktual secara Islam dalam bidang kehidupan bermasyarakat.
3.      Menyadari bahwa Islam merupakan sistem hidup yang lengkap dan sempurna sehingga termotivasi untuk memasukinya secara keseluruhan.
B.     Kisi-kisi Materi
1.      Kesempurnaan Islam (QS. 2:208 )
2.      Sempurna dalam waktu:
·         Risalah yang satu (QS. 21:25 , 34:28 , 21:107 )
·         Penutup para nabi (QS. 33:40 )
3.      Kesempurnaan minhaj:
·         Asas: akidah (syahadat dan rukun iman)
·         Bangunan Islam: ibadah: rukun Islam, shalat, puasa, zakat, haji, akhlak
·         Penyokong /penguat: jihad (QS. 29:6 dan 69 , 47:31 ) atau amar ma'ruf nahi munkar (QS. 3:104 , 7:99 , 9:112 ) da'wah (QS. 16:125 , 41:33 )
4.      Sempurna dalam tempat (QS. 22:40 ):
·         Satunya pencipta (QS. 2:163 , 164 )
·         Satunya alam (QS. 2:29 , 67:15 )
·         Manhaj (pedoman) hidup
C.     Bagan

Kesempurnaan Islam (Syumuliyatul Islam)

D. Uraian Materi: Islam Agama Sempurna
Sebagai sistem yang diciptakan dan diturunkan Allah Swt. Yang Mahaluas lagi Mahasempurna, Islam memiliki kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh sistem-sistem buatan manusia mana pun. Kesempurnaan Islam dapat dilihat dari cakupannya terhadap ruang, waktu, dan muatan sistemnya. Siapapun boleh membandingkan dengan penelitian yang dilakukannya sendiri tentang agama-agama di dunia ini. Jika seorang peneliti tersebut mau benar-benar objektif, maka bisa dipastikan dia akan melihat Islam sebagai agama paling sempurna diantara agama-agama lainnya. Kenapa begitu? Karena hanya Islam-lah satu-satunya agama yang komprehensif. Dia mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satupun, dan sekecil apapun urusan kehidupan manusia dimuka bumi ini yang luput dari Islam. Kesempurnaannya berarti tidak ada sedikitpun cacat yang terdapat di dalam agama ini. Allah Swt berfirman,
”..pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maaidah :3)

Meyakininya adalah Perintah Allah Swt.
Dan kita sebagai seorang muslim wajib meyakininya. Memprogramnya dalam mindset kita. Sehingga menjadikan agama Islam ini sebagai jalan hidupnya (way of life). Perintah Allah Swt kepada setiap muslim untuk menjalani Islam secara keseluruhan, sempurna, dan mencakup semua aspeknya ada dalam firmanNya,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah :208)
Perintah Allah Swt untuk menerima Islam sebagai agama yang sempurna dan harus kita ambil secara keseluruhannya merupakan alasan yang paling kuat bagi seorang muslim. Perintah Allah Swt juga merupakan alasan yang paling asasi/mendasar terhadap segala hal yang kita lakukan. Jika bukan karena perintah Allah Ta’ala, maka tidak wajib kita melaksanakannya.
Seperti ketika Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim a.s. ketika ditinggal di tengah gurun pasir yang tandus, dan sangat jauh dari air dan makanan, sang istri hanya bertanya,”Apakah ini perintah Allah?”. Lalu Nabi Ibrahim menjawab, “Ya”. Mendengar jawaban bahwa itu adalah perintah Allah Ta’ala, maka Siti Hajar berkata, “Jika memang begitu, maka aku percaya Allah tidak akan menyia-nyiakanku”.
Maka karena hal ini merupakan perintah Allah Swt, sikap kita sebagai seorang muslim adalah menerima dan taat. Seperti yang Allah Swt jelaskan dalam firmanNya,
“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”…” (QS. Al Baqarah :285)
Islam Sempurna dalam Waktu
Sebagai sistem, Islam diberlakukan Allah sejak awal penciptaan hingga akhir zaman. Tujuannya untuk mengatur kehidupan makhluk-makhluk-Nya agar selaras, harmonis, dan penuh kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan. Oleh karena itu, Islam menjadi inti ajaran setiap nabi dan rasul Allah pada setiap zaman. Ajaran mereka hanya satu, yaitu membebaskan manusia dari penyembahan terhadap makhluk kepada penghambaan kepada Allah. Kesempurnaan ini jelas kita dapatkan pada ajaran yang dibawa nabi terakhir, Muhammad saw. Ajaran terakhir itu menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya. Dengan berakhirnya pensyariatan pada nabi terakhir, risalah ini mencapai kesempurnaannya. Oleh karena itu, tidak ada lagi syariat dan nabi setelah syariat Allah mencapai kesempurnaan.
Islam sempurna karena diturunkan sebagai agama yang berlaku sepanjang jaman. Sejak manusia pertama yaitu Nabi Adam a.s. kemudian seluruh nabi-nabi sesudahnya membawa satu misi yang sama yaitu kalimat tauhid “Laa ilaha illallah”. Allah Swt berfirman,

“dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.” (QS. Al-Anbiyaa’ :25)

Dan juga Allah Swt menyebut umat Nabi-nabi terdahulu sebagai muslim dalam firmanNya,
“…(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu,…” (QS. Al-Hajj :78)
Sampai ketika Rasulullah Saw diutus sebagai Nabi sekaligus sebagai penutup para Nabi, ajaran beliau berlaku HINGGA HARI KIAMAT. Nabi-nabi terdahulu ibarat membawa tongkat estafet yang akhirnya dan yang terakhir diberikan kepada Muhammad Rasulullah Saw. Seperti yang dijelaskan Allah Swt dalam firmanNya,

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab : 40)
Islam tidak akan pernah mengalami pendewasaan lagi dalam perkembangan jaman, karena Islam telah dewasa sejak dilahirkan. Islam juga tidak akan mengalami penyempurnaan lagi mengikuti kemajuan jaman, karena Islam telah sempurna sejak dilahirkan. Jika ada yang menganggap bahwa Islam perlu mengalami perubahan dalam syariatnya, maka sudah dipastikan bahwa itu adalah pemikiran yang sangat menyimpang.

Islam Sempurna dalam Tempat
Islam diturunkan Allah Swt. tidak terbatas untuk bangsa Arab saja. Islam berlaku sebagai rahmat untuk seluruh alam. Islam berlaku untuk seluruh bangsa di dunia, tanpa membeda-bedakan warna kulit, ras, maupun keturunan. Tidak ada kelebihan satu orang atas orang yang lain, satu suku atas suku yang lain, satu bangsa atas satu bangsa yang lain. Yang membedakan di antara mereka adalah ketakwaan masing-masing kepada Allah Swt. Setiap orang, dari mana pun asalnya dan dalam kondisi apa pun, berhak mendapat kemuliaan selama ia bertakwa kepada Allah.
Ajaran Islam adalah ajaran yang langsung bersumber dari Allah Swt Yang Menciptakan alam semesta. Maka sebagai Tuhan seluruh makhluk di alam semesta ini, Allah Swt sajalah yang berhak mengaturnya. Tidak ada sedikitpun ruang di alam semesta ini yang tidak terjangkau oleh kekuasaan Allah Swt. (lihat QS. 27: 59-64)



59. Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?"
60. Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).
61. Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.
62. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).
63. Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di dataran dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya[1105]? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).
64. Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar."

Hal ini berarti Islam bukan din atau agama yang hanya diperuntukkan bagi bangsa tertentu atau wilayah tertentu saja. Namun Islam adalah agama untuk seluruh manusia dimanapun mereka berada.

Islam berbeda dengan agama-agama lain. Seperti agama Nasrani misalnya. Umat Nasrani menganggap Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan dan mengakui kitab Injil sebagai kitab suci mereka. Padahal Nabi Isa a.s. bukan Tuhan dan Kitab Injil hanya diperuntukkan bagi Bani Israel saja. Bukan untuk kaum yang lainnya. Allah Swt berfirman,

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maaidah : 72)

Begitu juga dengan umat Yahudi. Kitab Taurat hanya diperuntukkan bagi kaum Nabi Musa a.s. saja. Bukan untuk manusia diseluruh dunia. Maka ketika Nabi Muhammad Saw diutus sebagai Rasulullah, sekaligus sebagai penutup para Nabi, seluruh umat Yahudi dan Nasrani seharusnya tunduk dan beriman pada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Mereka harus beriman kepada Al-Quran dan menjadikannya sebagai Kitab yang sempurna dan menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya.
Nabi Muhammad Saw bersabda,

“Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Islam Sempurna dalam Ajaran
Islam adalah sistem yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Islam seperti halnya bangunan utuh, terdiri atas fondasi, badan bangunan, dan seluruh pendukungnya. Fondasinya adalah akidah yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan keimanan. Bangunan utamanya terdiri atas aspek-aspek moral, perilaku kepada sesama, dan sikap terhadap Allah Swt. yang mewujud dalam aktivitas ibadah. Sementara itu, pendukung-pendukungnya adalah berjuang di jalan Allah dan dakwah. Cakupan atas seluruh aspek kehidupan itulah yang menempatkan Islam sebagai satu-satunya sistem dan pedoman hidup yang sempurna. Kesempurnaan ini yang menjadikannya unggul dibanding sistem mana pun.
Islam memiliki ajaran yang sempurna yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Hal-hal kecil dalam keseharian kita sekalipun diatur dalam Islam. Mulai kita bangun tidur di pagi hari sampai kita tidur lagi di malam hari, semuanya tidak lepas dari Islam. Contoh kecil saja, ketika kita masuk ke kamar mandi, Islam mengajarkan untuk berdoa terlebih dahulu, lalu masuk dengan menggunakan kaki kiri terlebih dahulu, lalu bagaimana adab melepas pakaian, ke arah mana ketika buang air, dan masih banyak lagi, sampai bagaimana adab ketika keluar dari kamar mandi tersebut. Semua tidak lepas dari ajaran Islam.

Sebagian orang menganggap sudah cukup berislam dengan merasa akidah sudah lurus dan ibadahnya sudah benar sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Namun jika Islam hanya dipahami sebatas itu, maka berarti orang-orang tersebut memahami Islam secara sempit. Padahal urusan manusia mencakup peran mereka dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sangat kompleks. Dan semua itu masih dalam lingkup ajaran Islam. Maka jelas Islam bukan hanya dipahami sebatas ajaran tentang memurnikan akidah dan bagaimana cara beribadah yang benar. Ajaran Islam juga mengatur semua bidang-bidang yang kita temui dalam kehidupan.
Seorang ulama legendaris dari Mesir, Syaikh Hasan Al-Banna pernah mendeskripsikan bagaimana kesempurnaan ajaran Islam. Beliau berkata,
“Islam adalah bangunan yang utuh yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Islam itu negara dan tanah air. Dan dia pemerintah dan rakyat. Dan dia akhlak dan kekuatan. Dan dia rahmat dan keadilan. Dan dia kebudayaan dan undang-undang. Dan dia ilmu dan peradilan. Dan dia materi atau kerja dan kekayaan. Dan dia jihad dan dakwah. Dan dia pasukan dan pemikiran. Sebagaimana Islam adalah aqidah yang murni dan ibadah yang benar.”

Begitu luar biasa Islam dengan kesempurnaannya. Tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan peran Islam dalam seluruh aspek kehidupan kita. Tidak ada lagi alasan untuk tidak mengambil Islam sebagai jalan hidup kita yang paling sempurna. Buktikan keimanan kita dengan mengesampingkan seluruh pemikiran-pemikiran lain di luar Islam yang dulu pernah membuat kita kagum karena kita anggap pemikiran bahwa itu lebih baik dari ajaran Islam. Serukan dengan lantang: “ISLAM IS MY LIFE, ISLAM IS MY WAY, ISLAM IS MY ATTITUDE!”

Dengan begitu, tidak ada lagi umat Islam yang merasa minder dengan agamanya dan tidak ada lagi umat Islam yang tidak bangga menyandang gelar sebagai seorang MUSLIM.
Hey Muslim! You are the greatest ummah created by Allah! So,.. be Proud!!
Read More
Kedudukan Rasulullah diantara manusia

Kedudukan Rasulullah diantara manusia

Kedudukan Rasulullah diantara manusiaMuhammad RasululLah SAW adalah sebagai hamba di antara hamba-hamba Allah lainnya. Sebagai hamba maka Rasul mempunyai ciri yang juga sama dengan manusia lainnya seperti beliau sebagai manusia, mempunyai nasab dan jasadnya. Sebagai hamba ini menunjukkan bahawa Nabi adalah manusia biasa yang Allah berikan kemuliaan berupa wahyu dari Allah. Untuk mengetahui Nabi sebagai hamba dapat kita ketahui secara pasti dari perjalanan sirah Nabi, khususnya di dalam fiqh sirah. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga sebagai rasul di antara para rasul. Sebagai rasul, Nabi bersifat menyampaikan risalah, menjalankan amanah dari Allah, dan sebagai pemimpin ummat. Perjalanan nabi sebagai Rasul dalam menyampaikan dakwah dan misi dapat dilihat dari dakwah-dakwah Nabi seperti di dalam fiqh dakwah. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga membawa sunnah yang dijadikan sebagai fiqhul Ahkam. Kedudukan Rasul dapat digambarkan di dalam sirah nabi, sunnahnya dan dakwahnya sehingga dari kedudukan ini banyak yang kita ambil sebagai fiqih sirah, fiqih ahkam dan fiqih dakwah.
Syahadat rasul yang kita ucapkan menuntut kita untuk mengakui bahwa Muhammad bin Abdullah adalah nabi dan utusan Allah. Pengakuan akan kenabian dan kerasulannya harus dibarengi dengan sikap proporsional, tidak berlebihan, namun juga tidak mengurangi hak-haknya. Beliau saw. melarang ketika ada sebagian shahabat yang memperlakukannya secara berlebihan seraya menjelaskan kedudukan yang sebenarnya dengan sabdanya: “Aku adalah hamba Allah dan rasul-Nya. karena itu panggillah aku Abdullah wa Rasuluhu.” Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan kedudukannya kepada kita selaku ummatnya sebagai berikut :

1. Seorang Manusia Biasa (Abdun min ibadillah)
Rasul Muhammad SAW adalah sebagai hamba dan manusia biasa yang juga makan, minum, pergi ke pasar, beristeri, berniaga dan segala aktivitas manusia dikerjakan dan ditunaikannya dengan baik. Rasul melaksanakan keperluan sebagai mana manusia lainnya melaksanakan keperluannya. Dari keadaan ini dapat disimpulkan bahwa Rasul sebagai manusia dan kita pun sebagai manusia sehingga apa yang dikerjakan oleh Nabi juga dapat dilaksanakan oleh kita secara baik. Tidak ada alasan untuk tidak mengerjakan perintah Rasul karena Allah telah mengutus Rasul dari kalangan manusia juga. Yang membedakan rasul dengan manusia yang lain ialah Rasul mendapat wahyu sementara manusia biasa tidak.
Dalil
al Quran surat al Kahfi (18) ayat 110 :

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya."

al Quran surat al Isra (17) ayat 1 :


Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dari kedua ayat di atas terlihat bahwa rasulullah adalah manusia biasa seperti kita dan Allah sendiri nyatakan bahwa Rasulullah adalah hamba Nya. Rasulullah juga mengatakan kepada para sahabatnya bahwa Aku ini adalah hamba Allah dan Rasul Nya, Karena itu panggillah Aku Abdullah wa Rosuluhu. Beliau adalah manusia biasa, memiliki keturunan (nasab) manusia dan fisiknya (jasadnya) pun juga manusia.

al Quran surat al Isra (25) ayat 7 :


Dan mereka berkata: "Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?,

Rasul sebagai manusia digambarkan makan, ke pasar dan sebagainya. Perilaku ini menggambarkan suatu aktivitas sehari-hari manusia. Apabila Rasul sebagai manusia maka dakwah mudah dilaksanakan dan mudah diterima, tidak ada alasan bagi manusia untuk menolaknya. Apabila malaikat sebagai Nabi maka banyak alasan untuk tidak melaksanakan perintah Allah. Kaum Yahudi senantiasa mempermasalahkan kehadiran Rasul yang berasal dari manusia. Sebetulnya mereka mengada-adakan persoalan yang didasari kekufurannya kepada Allah.

al Quran surat al Isra (13) ayat 38 :

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).

Rasul sebagai manusia juga dijelaskan dengan peranan Rasul sebagai suami dan bapa dari anak-anaknya. Dengan peranan ini menjadikan manusia lebih sempurna dan dapat mengikutinya dengan baik setiap amalan dan arahannya.

Secara nasab Rasul berasal dari kaum Quraish. Bapaknya yang bernama Abdullah dan ibunya bernama Aminah. Beliau mempunyai keluarga dan keturunan yang jelas. Begitupun tentang sejarah kelahiran dan asal usulnya. Sejarah yang menjelaskan bagaimana nabi dibesarkan sehingga menjadi Rasul juga banyak terdapat di berbagai buku sirah Nabi.

 Jism atau jasad nabi Muhammad SAW digambarkan banyak oleh hadits seperti rambutnya yang rapi dan selalu disisir, badannya yang kuat, tingginya sederhana dan sebagainya. Dari gambaran jasad ini Nabi adalah manusia yang juga sebagai manusia biasa lainnya.

Penggambaran Nabi sebagai hamba Allah terdapat di dalam sirah nabawiyah. Penggambaran ini dijadikan sebagai pengajaran , menerangkan sesuatu dan juga dapat sebagai petunjuk bagi kita yang membacanya. Dari sirah nabawiyah dapat disimpulkan bahwa Nabi sebagai hamba Allah dan menjalankan aktivitas-aktivitasnya sebagai manusia biasa.


Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf : 111)

Walaupun beliau adalah manusia pilihan Allah, namun beliau ingin diperlakukan sebagai manusia biasa. Ini menunjukkan gaya egaliter beliau sehingga tidak ada alasan untuk disanjung setinggi langit atau sebaliknya diperolok-olok dan didustakan. Hal ini tergambar jelas dalam perjalanan hidup beliau yang tercatat dalam kitab sejarah.

2. Seorang Rasul diantara rasul-rasul Allah (Rasulun minal mursalin)
Muhammad SAW selain sebagai hamba biasa juga sebagai Rasul yang mempunyai keutamaan dan ciri-ciri kerasulan. Muhammad seperti Rasul lainnya juga mempunyai mukjizat dan tugas-tugas mulia. Dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 144 dinyatakan :

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Sebagai seorang rasul, beliau memiliki tugas :

a. Tabligh atau menyampaikan Risalah kepada ummatnya

Peranan Rasul yang utama adalah menyampaikan risalah Tuhan karena inilah yang membedakannya dengan manusia biasa. Rasul membawa manusia untuk mengabdi kepada Ilah yang satu yaitu Allah SWT. Menyampaikan misi Islam dan memberikan contoh adalah aktivitas utama para Rasul.


Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu (QS Jin : 28)

(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (QS. Ahzab :39)

b. Menunaikan amanah atau Adaul Amanah
Rasul telah menunaikan amanahnya sebagai rasul yaitu menyampaikan risalah kepada manusia. Menunaikan amanah dan tugas menyampaikan misi ini merupakan peranan Rasul. Bukti bahwa Rasul telah menunaikan amanah ini adalah pengikut-pengikutnya yang setia dan menyebarkan dakwah kepada manusia.


Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu (QS Jin : 28)


Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al Maidah : 67)

c. Memimpin Ummat atau Imamatul Ummat
Inti tugas Beliau adalah berdakwah Ilallah yaitu mengajak seluruh ummat manusia untuk mengesakan Allah dan tidak menyekutukan Nya dengan apapun jua. Membebaskan penghambaan  kepada sesama makhluk kecuali hanya untuk Allah semata. Itulah tugas para nabi yang nantinya akan dijadikan rujukkan para Da’i dalam berdakwah. Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul juga sebagai Imam yang bertanggung jawab ke atas ummatnya. Pada hari kiamat Nabi berperanan sebagai pembela Ummat. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi juga bertanggungjawab terhadap apa-apa yang sudah disampaikan kepada ummatnya. Ketika dihari penghitungan di hari kiamat Nabi bertanggung jawab atas ummatnya.

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. An Nisa : 41)

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.(QS. Isra : 71)

3. Sunnah

Dari segi bahasa Sunnah bererti jalan. Maksud Sunnah Nabi adalah segala sesuatu yang disebutkan, diakurkan dan diamalkan. Sunnah Nabi bernilai syar'i dan perlu untuk mengikutinya. Sunnah yang demikian dijadikan sebagai teladan dan ikutan. Sesuatu di luar itu boleh dilaksanakan boleh juga tidak, ia merupakan sesuatu yang tidak wajib seperti Nabi biasa menunggang unta, memakai pakaian budaya Arab, perang dengan pedang, dan sebagainya. Perkara ini adalah wasailul hayah yang boleh berubah dan tidak mesti mengikutinya. Yang perlu diikuti dan bernilai sunnah adalah yang bersifat minhajul Hayat. Sunnah ini dijadikan sebagai fiqh ahkam untuk rujukan beramal atau mengambil keputusan. Dalam sunnah akan ditemukan :

a. Fiqhul Ahkam
Bagi muslim dalam menjalankan hidup dan dakwah tentunya menghadapi banyak cobaan selain dari bagaimana semestinya menjalani hidup ini dengan sempurna. Peranan hukum atau aturan sebagai panduan membawa kita ke arah yang sempurna sangatlah diperlukan. Rasul dijadikan sebagai tempat ketaatan dan ikutan, dan juga sebagai rujukan hukum. Fiqh ahkam yang digunakan sebagai dalil juga memerlukan pandangan sunnah.


Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya[313] datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS An Nisa : 64)


Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS An Nisa : 65)

Dari ayat di atas tergambar bahwa Rasul harus dijadikan sebagai rujukan hukum dalam mengurus perselisihan.
b. Dakwah Nabawiyah
Pemahaman yang mendalam terhadap sunnah juga memberikan konsep yang benar dalam mendakwahkannya disamping memberi gambaran yang utuh tentang pribadi rasul dan syariat. Karena dakwah merupakan ibadah, maka bukan hanya muatan dakwah yang harus diperhatikan namun juga pendekatan dan metodolongi yang digunakan. Hal ini perlu supaya tidak terjadi kontra produktif. Pemahaman yang benar dan utuh terhadap sunnah beliau saw dalam berdakwah akan memberikan hasil yang baik.
Al Qur'an dan juga Sirah banyak menjelaskan dakwah nabi. Dari kedua ini muncul fiqh dakwah yang bersesuaian dengan realita, tuntutan, keadaan dan respons masyarakat tempatan. Misalnya Allah menceritakan perjalanan Hijrah Nabi bersama Abu Bakar yang berada di gua Tsur, didapati banyak ular dan berbagai hewan yang berbahaya, kemudian nabi berkata janganlah takut sesungguhnya Allah bersama kami. Ayat yang menggambarkan dakwah ini menjadi fiqh dakwah bagi para da'i saat ini khususnya memotivasikan kita agar senantiasa berdakwah walaupun menghadapi banyak cobaan dan rintangan.

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. At Taubah : 40)

c. Sejarah perjalanan hidup Rasulullah saw (sirah nabawiyah)

Yaitu riwayat yang mengutarakan perjalanan hidup beliau sebagai manusia sejak sebelum lahir hingga wafatnya. Mempelajarinya merupakan ibadah karena dengannya keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya akan semakin kuat.
Read More